Tampilkan postingan dengan label wamena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wamena. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

AIDS Education With 'Love from Wamena'

WAMENA - In an effort to raise awareness for HIV/AIDS while solving the education gap in neglected areas in Indonesia, AusAID and the Ford Foundation have turned to an unlikely medium to spread the message: filmmaking.

The pair has funded the feature-length film “Cinta dari Wamena” (“Love from Wamena”), featuring actors Nicholas Saputra and Susan Bachtiar. The film, directed by Lasja Susatyo, is set to hit local theaters in March 2013.

Executive producer Ronald Gunawan said that cultural values and a large education gap are the among main obstacles for AIDS awareness campaigns in Indonesia. He spent nine years working as a doctor in Papua, where the HIV/AIDS prevalence is 18 times higher than any other province in the country, infecting 2.4 percent of the local population.

“If we’re not doing anything about it, it’s very possible that Papua will become like Africa, which has 40 percent HIV/AIDS prevalence,” said Ronald, who is also a consultant at Corsores Indonesia, a nongovernmental organization involved in the film.

“Cinta dari Wamena” follows the story of three friends who leave their village homes to chase their dreams in Wamena, the largest town in Papua’s highlands. Along the way, they deal not only with a new way of life, but also HIV/AIDS. Leading the cast for the film are newcomers Maximus Itlay and Benyamin Lagowan, both students at Cenderawasih University in Jayapura, playing powerful roles.

Wamena, Ronald said, is a magnet for people who still live secluded in the mountains, as it represents modernity. People walk seven to eight days just to get to Wamena, driven by curiosity of a “modern life,” as Wamena offers schools, markets and office buildings.

On choosing Maximus, Benyamin and actress Madonna Marrey to play the central roles in the film, director Lasja said that it was her vision to put them in the spotlight.

“I didn’t want to put the outsiders [roles played by Nicholas and Susan] as heroes, because I want the movie to show local initiative and their strength to solve their own problems,” said Lasja, who recently also contributed to the anti-corruption campaign movie, “Kita vs Korupsi.”

In the trailer shown after the panel discussion at Blitzmegaplex, Jakarta, on Tuesday, the film shows how HIV/AIDS can be treated, while also trying to break the stereotype that AIDS is a curse.

Lasja found a study that explained why Papua is a unique case for the spread of HIV/AIDS, which was used during the development of the script, written by Sinar Ayu Massie. The study said that in Papua, marriage is strictly ruled by local tribes, and a man can only have intercourse with his wife after paying the dowry — usually in the form of pigs, which can cost up to Rp 10 million each ($1,040).

When Papuans move to a town and live more modernly, however, the rules of sex are less strict. Sex, Lasja says, becomes personal entertainment, because there is not much else to do. Ronald stresses that youngsters in Papua are not any different from those in any other cities.

“The only problem is that they don’t know how to protect themselves,” he said.

Benyamin said that the people of Papua have been shocked with the jump of modernity in the past few decades. For him to star in the movie also meant he had to learn more about AIDS.

“I remember I went to an AIDS campaign when I was in high school, but I was doing it because they told me to,” he said. “I didn’t really understand what was it all about.”

This is also why Ronald has such high hopes for the movie’s ability to spread the message about AIDS treatment. Lasja said the film focuses on medicinal treatment for the disease, rather than local homeopathic remedies.

AusAID’s Adrian Gilbert said that the film will be shown in 10 cities in Papua, followed by discussions about AIDS.

Using the power of visual media, combined with presentations on safe sex and AIDS prevention methods, the people behind the project hope to make a dent in the rising rates of AIDS in Indonesia. (JP)

Selasa, 11 Desember 2012

Wamena Juga Punya 'Laskar Pelangi'

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Bangunan SD Inpres Jiwika terbuat dari seng dan kayu, sangat sederhana. Letaknya berada di antara perbukitan-perbukitan Wamena, Papua. Datanglah ke sana untuk melihat 'Laskar Pelangi' ala Papua.

Siapa yang tidak tahu film Laskar Pelangi? Film tersebut menceritakan tentang kisah Kehidupan siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Belitong. Tidak hanya di situ, Papua juga punya SD Inpres Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena. Anda bisa traveling ke sana sekaligus melihat para mutiara hitam cilik yang sedang mengejar mimpinya.

detikTravel dan tim Dream Destination Papua akhirnya tiba di Wamena, Papua, Senin (26/11/2012). Sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh perbukitan dan memiliki udara yang sangat sejuk. Uniknya, di sini para rombongan tidak hanya diajak untuk melihat kehidupan Suku Dani, salah satu suku terbesar di Papua dari dekat, tapi juga diajak untuk melihat Sekolah Dasar Inpres Jiwika.

Letak sekolah berada di tengah-tengah perbukitan. Mungkin, tidak ada sekolah yang mempunyai pemandangan secantik ini. SD ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan langit biru di atasnya. Benar-benar menggagumkan!

Saat itu, terlihat beberapa siswa yang sedang asyik bermain di lapangan rumput yang luas. Bendera merah putih pun tertancap di pinggir lapangannya. Bendera paling sakral di negeri ini menjadi pengingat, anak-anak kecil tersebut tinggal di negeri yang amat kaya.

Rombongan pun diajak berkenalan oleh Sakeus Dabi, Kepala Sekolah SD Inpres Jiwika yang sudah menjabat selama 15 tahun. Dengan pakaian seragam dinas yang berwarna hijau, Sakeus menceritakan kisah SD di tengah bukit ini.

"Kami di sini menceritakan mereka tentang baca tulis. Dari sekitar 150 siswa, hanya sekitar 70 saja yang aktif. Gurunya hanya 10 orang saja," kata Sakeus.

Sakeus menambahkan, sekolah ini sudah ada sejak 1981. Dari dulu pun bangunannya seperti ini, tidak ada yang berubah.

Rombongan lalu diajak untuk melihat kelas dan bertemu dengan para siswanya. Mereka sungguh lucu. Tak sedikit mereka yang malu-malu saat dipotret atau diajak bercanda.

Sederhana, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah ini.
Enam kelas di sini saling terhubung dan memiliki ruangan yang tidak terlalu besar. Bangku kayu dan papan tulis hitam menjadi fasilitas untuk mereka belajar.

Namun, tidak semua di sini memakai seragam merah putih layaknya sekolah dasar lain. Selain soal seragam, banyak dari mereka yang tidak menggunakan sepatu. Akan tetapi, semangat mereka tidak pernah patah untuk belajar.

"Memang hanya ada beberapa saja yang punya seragam, yang tidak punya cukup memakai baju biasa saja," kata Sakeus kepada detikTravel.

Sakeus juga menambahkan, para siswa di sini tinggal di beberapa kampung di sekitar Distrik Kurulu. Mereka pun masih banyak yang tinggal di Honai, rumah adat Suku Dani di tengah pegunungan. Tapi, mereka semua sangat semangat untuk belajar.

"Di sini kami tidak mengenakan biaya, biayanya cuma-cuma. Kami hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-red) saja. Jadi kami benar-benar meminta bantuan pemerintah dari pusat, Jakarta," tambah Sakeus menjelaskan.

Di sini, para siswa diajarkan pelajaran seperti sekolah dasar lainnya. Ada matematika, penjaskes, dan lain-lain. Mereka sekolah tiap hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 07.30 WIT sampai pukul 13.30 WIT.

"Setelah sekolah, biasanya para siswa ada yang bantu-bantu orang tua, seperti berkebun," ujar Sakeus.

Senyum mereka sangat tulus. Meski sebagian besar malu-malu saat diajak berbincang, namun mereka mempersembahkan suatu nyanyian untuk rombongan kami.

'Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu. Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.'

Jika berkunjung ke Wamena, sempatkanlah datang ke SD Inpres Jiwika ini. Sekolah sederhana yang terbuat dari seng kayu, namun memiliki pemandangan hijau dan biru di sekelilingnya.

Senyum dan tingkah para siswanya akan membuat Anda jatuh cinta dengan mereka. Traveling seperti ini akan membuat hati Anda lebih kaya. Percayalah! (Detik)

Senin, 07 November 2011

Jelang Hari Kesehatan Nasional, Komisi Penangulangan AIDS (KPA )Jayawijaya Putar Film Bertema HIV/AIDS

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Dalam rangka hari kesehatan nasional (12/11) mendatang dan hari aids sedunia (1/12), Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Jayawijaya bekerjasama beberapa tenaga kesehatan melakukan penyuluhan dan pemutaran film yng bertemakan hiv-aids, Sabtu (5/11).

Salah satu dokter dari RSUD Wamena, dr. Grace Daimboa, SP.B mengatakan, kegiatan yang dilakukan dalam rangka hari kesehatan nasioanal difokuskan pada hiv-aids, bukan karena penyakit tersebut lebh eksklusif dibandingkan dengan penyakit lainnya tetapi karena kegiatan yang dilaksanakan juga menjelang peringatan hari aids sedunia.

“Sekalian kami mengadakan acara untuk kedua peringatan tersebut, salah satunya yaitu penyuluhan dan pemutaran film hiv-aids,” ujarnya kepada wartawan.

Dijelaskannya, kegiatan lain yang akan yaitu dilakukan penyuluhan di sekolah-sekolah, khususnya tingkat SMP dan SMA/K, lalu di rumah sakit (RS) digiatkan penyuluhan kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKMRS). Selainn itu lanjutnya, juga akan dilakukan pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh adat yang akan dilakukan pada (15/11) untuk sosialisasi kondom. Karena selama ini menurutnyam stigma kondom masih kuat terutama dari adat dan agama.

“Jadi kami rencana lakukan hal itu, karena kita tahu saat ini kasus hiv-aids di Jayawijaya sudah mencapai angka 1481. Jadi kami sebagai tenaga kesehatan dari RS dan Dinas kesehatan dan KPA mempunyai kewajiban moral,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA Jayawijaya, Daulat Martuaraja mengatakan, dengan penyuluhan dan pemutaran film tersebut diharapkan pengetahuan masyarakat bertambah, sehingga tidak ada lagi diskriminasi khususnya kepada orang dengan hiv-aids (Odha). Peningkatan kasus hiv terus terjadi sehingga diharapkannya, semua warga kota Wamena ikut berpartisipasi menanggulanginya, minimal mengetahui informasinya dan menyebarkannya kepada lingkungan sekitarnya.

“Dengan pemutaran film maka informasi secara lengkap disampaikan kepada masyarakat, karena orang yang datang menonton dari awal hingga akhir. Itulah sebabnya mengapa pemutaran film ini dilakukan di tengah kota, walaupun masyarakat memang sudah sering mendengar informasi tentang hiv-aids, tetapi bagaimana informasi yang tepat dan benar melalui pemutaran film,” tandasnya. (Pasifik Pos)

Cardig Air Operasikan Pesawat Boeing Seri 737 Seri 300

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Dengan semakin berkembangnya beberapa kabupaten pemekaran di wilayah Pegunungan Tengah Papua, keberadaan perusahaan penerbangan khususnya angkutan kargo sangat diperlukan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Cardig air mengoperasikan 1 unit pesawat Boeing 737 seri 300 yang berhasil melakukan pendaratan perdana dii bandara Wamena, Senin (31/10) kemarin sekitar pukul 13.30 wit.

Beroperasinya pesawat yang dikhususkan pada angkutan cargo tersebut disambut baik oleh pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Jayawijaya.

Asisten III Setda Kabupaten Jayawijaya Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Thony Mayor S.Pd, MM mengatakan, pemerintah daerah sangat memberikan dukungan, dengan beroperasi armada tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan transportasi terutama untuk angkutan barang.

“Kami atas nama pemda menyampaikan terimakasih atas beroperasinya maskapai penerbangan ini dan diharapkan bisa terus beroperasi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Megantara Kencana Ekspres, Ir. Sofyan Danu mengatakan, pihaknya mendatangkan pesawat Cardig air ini sudah dipersiapkan beberapa bulan lalu dan mendapatkan rekomendasi untuk beroperasi di Wamena. Dijelaskannya, untuk tarif kargonya yaitu dari Jayapura-Wamena Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kilo gram tergantung dari jenis barangnya.

Kapten Kustriawan Kurdi dari Cardigair mengatakan, pesawat Boeing 737 Seri 300 berkapasita 13,5 ton dengan jumlah penerbangan 4 sampai 5 kali flight dalam sehari. Lanjutnya, sebelumnya cardig air melayani penerbangan di Jakarta, Singapura dan Balikpapan untuk mengangkut hasil laut.

Kopi Balim Arabica dari Pegunungan Tengah Papua akan Dipatenkan

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Kopi Balim Arabica dari Pegunungan Tengah Papua yang sudah diekspor hingga ke Amerika akan dibuatkan hak paten.

Hak paten tersebut dimaksudkan agar, kopi Balim Arabica yang berasal dari wilayah Pegunungan Tengah Papua tidak diproduksi oleh orang lain secara sembarangan dengan menggunakan nama Papua Arabica coffee. Hal tersebut ditegaskan Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, M.Par, beberapa waktu lalu di Wamena.

Dikatakannya, selama ini kopi Arabica asal Pegunungan Tengah Papua ada yang mengenalnya dengan nama Papua Arabica kopi, padahal sebenarnya kopi tersebut berasal dari Pegunungan Tengah. Untuk itu dengan membuat hak paten diharapkannya, akan memproteksi para petani kopi, sehingga petani memiliki penghasilan untuk masa depannya.

“Hak paten ini akan segera dilakukan sehingga kopi Balim Arabica yang berasal dari Pegunungan Tengah ini akan semakin dikenal, yang pada akhirnya petani pun akan memperoleh nilai tambah,” ujarnya.

Untuk terus mengembangkan usaha pertanian kopi demi mendukung ekspor kopi Balim Arabica dikatakannya, pemda melaksanakan program gerakan tanam kopi (Gertak) yang dilaksanakan disemua distrik yang ada di Jayawijaya dan akan dievaluasi dan dicari upaya tindaklanjutnya sehingga pertanian kopi dapat terus dikembangkan.(pacifictpost)

Info Menarik