Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Kampanye HIV 2012 di Tanah Papua

JAYAPURA - Salah satu isu strategis dalam rencana strategis (Renstra) Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi Papua Tahun 2012-2016 adalah HIV sudah berada di populasi umum dan perempuan rentan terinfeksi HIV dari pasangannya. Bila kaum perempuan sudah terinfeksi, dampaknya adalah anak-anak yang akan dilahirkan.

Kampanye HIV di Tanah Papua sejak tahun 2010 mengangkat tema ‘Kitorang Pangaruh, Mari Betanggung Jawab Untuk HIV’. Kampanye ini fokus pada kelompok sasaran laki-laki usia 15-49 tahun. Mengapa laki-laki ? Beberapa survey terkait perilaku menyebutkan laki-laki memiliki perilaku berganti-ganti pasangan seks, tidak mau menggunakan kondom serta enggan melakukan periksa HIV dan IMS.

Laki-laki kategori 4 M (Mobile Men with Money and Macho). Laki-laki yang suka berpergian (mobilitas tinggi), mempunyai uang dan membutuhkan pengakuan sebagai laki-laki ‘hebat’ memiliki kontribusi signifikan terhadap laju pertumbuhan HIV di Papua. Dengan uang yang mereka miliki, laki-laki kategori ini bisa membelanjakan uangnya untuk banyak hal, termasuk membeli seks.

Secara global, perilaku laki-laki menentukan atas berkembangnya epidemic HIV dan infeksi menular seksual (IMS). Selain itu konstruksi sosial dimana perempuan masih dianggap sebagai ‘nomor dua’, posisi laki-laki sangat dominan dalam membuat keputusan penggunaan kondom. Saatnya kaum laki-laki mengambil peran untuk selalu menjaga diri dan bertanggungjawab  untuk tidak menularkan penyakit, kususnya HIV dan IMS kepada pasangannya.

Tema ‘Kitorang Pangaruh, Mari Bertanggungjawab Untuk HIV’ dijabarkan dalam 6 pesan kunci yang sekaligus menjadi tujuan yang ingin dicapai. Enam pesan kunci itu adalah ‘Ko Tra Kosong Kalo Ko Jaga Diri’ (penundaan seks dini dan pengurangan jumlah pasangan seks), ‘Pake KONDOM Nyaman, Pake KONDOM Aman’ (peningkatan penggunaan kondom pada setiap kegiatan seks beresiko), ‘Mari Kitong Periksa HIV’ (ajakan periksa HIV), ‘Kawan, HIV Bukan Ujung dari Tong Pu Hidup’ (pengurangan stigma dan diskriminasi bagi orang terinfeksi dan pengobatan ARV), dan ‘Mari Kitong Periksa IMS’ (ajakan periksa IMS).(Jubi)

Jumat, 14 Desember 2012

AIDS Education With 'Love from Wamena'

WAMENA - In an effort to raise awareness for HIV/AIDS while solving the education gap in neglected areas in Indonesia, AusAID and the Ford Foundation have turned to an unlikely medium to spread the message: filmmaking.

The pair has funded the feature-length film “Cinta dari Wamena” (“Love from Wamena”), featuring actors Nicholas Saputra and Susan Bachtiar. The film, directed by Lasja Susatyo, is set to hit local theaters in March 2013.

Executive producer Ronald Gunawan said that cultural values and a large education gap are the among main obstacles for AIDS awareness campaigns in Indonesia. He spent nine years working as a doctor in Papua, where the HIV/AIDS prevalence is 18 times higher than any other province in the country, infecting 2.4 percent of the local population.

“If we’re not doing anything about it, it’s very possible that Papua will become like Africa, which has 40 percent HIV/AIDS prevalence,” said Ronald, who is also a consultant at Corsores Indonesia, a nongovernmental organization involved in the film.

“Cinta dari Wamena” follows the story of three friends who leave their village homes to chase their dreams in Wamena, the largest town in Papua’s highlands. Along the way, they deal not only with a new way of life, but also HIV/AIDS. Leading the cast for the film are newcomers Maximus Itlay and Benyamin Lagowan, both students at Cenderawasih University in Jayapura, playing powerful roles.

Wamena, Ronald said, is a magnet for people who still live secluded in the mountains, as it represents modernity. People walk seven to eight days just to get to Wamena, driven by curiosity of a “modern life,” as Wamena offers schools, markets and office buildings.

On choosing Maximus, Benyamin and actress Madonna Marrey to play the central roles in the film, director Lasja said that it was her vision to put them in the spotlight.

“I didn’t want to put the outsiders [roles played by Nicholas and Susan] as heroes, because I want the movie to show local initiative and their strength to solve their own problems,” said Lasja, who recently also contributed to the anti-corruption campaign movie, “Kita vs Korupsi.”

In the trailer shown after the panel discussion at Blitzmegaplex, Jakarta, on Tuesday, the film shows how HIV/AIDS can be treated, while also trying to break the stereotype that AIDS is a curse.

Lasja found a study that explained why Papua is a unique case for the spread of HIV/AIDS, which was used during the development of the script, written by Sinar Ayu Massie. The study said that in Papua, marriage is strictly ruled by local tribes, and a man can only have intercourse with his wife after paying the dowry — usually in the form of pigs, which can cost up to Rp 10 million each ($1,040).

When Papuans move to a town and live more modernly, however, the rules of sex are less strict. Sex, Lasja says, becomes personal entertainment, because there is not much else to do. Ronald stresses that youngsters in Papua are not any different from those in any other cities.

“The only problem is that they don’t know how to protect themselves,” he said.

Benyamin said that the people of Papua have been shocked with the jump of modernity in the past few decades. For him to star in the movie also meant he had to learn more about AIDS.

“I remember I went to an AIDS campaign when I was in high school, but I was doing it because they told me to,” he said. “I didn’t really understand what was it all about.”

This is also why Ronald has such high hopes for the movie’s ability to spread the message about AIDS treatment. Lasja said the film focuses on medicinal treatment for the disease, rather than local homeopathic remedies.

AusAID’s Adrian Gilbert said that the film will be shown in 10 cities in Papua, followed by discussions about AIDS.

Using the power of visual media, combined with presentations on safe sex and AIDS prevention methods, the people behind the project hope to make a dent in the rising rates of AIDS in Indonesia. (JP)

Selasa, 11 Desember 2012

Wamena Juga Punya 'Laskar Pelangi'

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Bangunan SD Inpres Jiwika terbuat dari seng dan kayu, sangat sederhana. Letaknya berada di antara perbukitan-perbukitan Wamena, Papua. Datanglah ke sana untuk melihat 'Laskar Pelangi' ala Papua.

Siapa yang tidak tahu film Laskar Pelangi? Film tersebut menceritakan tentang kisah Kehidupan siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Belitong. Tidak hanya di situ, Papua juga punya SD Inpres Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena. Anda bisa traveling ke sana sekaligus melihat para mutiara hitam cilik yang sedang mengejar mimpinya.

detikTravel dan tim Dream Destination Papua akhirnya tiba di Wamena, Papua, Senin (26/11/2012). Sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh perbukitan dan memiliki udara yang sangat sejuk. Uniknya, di sini para rombongan tidak hanya diajak untuk melihat kehidupan Suku Dani, salah satu suku terbesar di Papua dari dekat, tapi juga diajak untuk melihat Sekolah Dasar Inpres Jiwika.

Letak sekolah berada di tengah-tengah perbukitan. Mungkin, tidak ada sekolah yang mempunyai pemandangan secantik ini. SD ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan langit biru di atasnya. Benar-benar menggagumkan!

Saat itu, terlihat beberapa siswa yang sedang asyik bermain di lapangan rumput yang luas. Bendera merah putih pun tertancap di pinggir lapangannya. Bendera paling sakral di negeri ini menjadi pengingat, anak-anak kecil tersebut tinggal di negeri yang amat kaya.

Rombongan pun diajak berkenalan oleh Sakeus Dabi, Kepala Sekolah SD Inpres Jiwika yang sudah menjabat selama 15 tahun. Dengan pakaian seragam dinas yang berwarna hijau, Sakeus menceritakan kisah SD di tengah bukit ini.

"Kami di sini menceritakan mereka tentang baca tulis. Dari sekitar 150 siswa, hanya sekitar 70 saja yang aktif. Gurunya hanya 10 orang saja," kata Sakeus.

Sakeus menambahkan, sekolah ini sudah ada sejak 1981. Dari dulu pun bangunannya seperti ini, tidak ada yang berubah.

Rombongan lalu diajak untuk melihat kelas dan bertemu dengan para siswanya. Mereka sungguh lucu. Tak sedikit mereka yang malu-malu saat dipotret atau diajak bercanda.

Sederhana, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah ini.
Enam kelas di sini saling terhubung dan memiliki ruangan yang tidak terlalu besar. Bangku kayu dan papan tulis hitam menjadi fasilitas untuk mereka belajar.

Namun, tidak semua di sini memakai seragam merah putih layaknya sekolah dasar lain. Selain soal seragam, banyak dari mereka yang tidak menggunakan sepatu. Akan tetapi, semangat mereka tidak pernah patah untuk belajar.

"Memang hanya ada beberapa saja yang punya seragam, yang tidak punya cukup memakai baju biasa saja," kata Sakeus kepada detikTravel.

Sakeus juga menambahkan, para siswa di sini tinggal di beberapa kampung di sekitar Distrik Kurulu. Mereka pun masih banyak yang tinggal di Honai, rumah adat Suku Dani di tengah pegunungan. Tapi, mereka semua sangat semangat untuk belajar.

"Di sini kami tidak mengenakan biaya, biayanya cuma-cuma. Kami hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-red) saja. Jadi kami benar-benar meminta bantuan pemerintah dari pusat, Jakarta," tambah Sakeus menjelaskan.

Di sini, para siswa diajarkan pelajaran seperti sekolah dasar lainnya. Ada matematika, penjaskes, dan lain-lain. Mereka sekolah tiap hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 07.30 WIT sampai pukul 13.30 WIT.

"Setelah sekolah, biasanya para siswa ada yang bantu-bantu orang tua, seperti berkebun," ujar Sakeus.

Senyum mereka sangat tulus. Meski sebagian besar malu-malu saat diajak berbincang, namun mereka mempersembahkan suatu nyanyian untuk rombongan kami.

'Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu. Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.'

Jika berkunjung ke Wamena, sempatkanlah datang ke SD Inpres Jiwika ini. Sekolah sederhana yang terbuat dari seng kayu, namun memiliki pemandangan hijau dan biru di sekelilingnya.

Senyum dan tingkah para siswanya akan membuat Anda jatuh cinta dengan mereka. Traveling seperti ini akan membuat hati Anda lebih kaya. Percayalah! (Detik)

Senin, 07 November 2011

Pentingnya Mengetahui Indikasi Infeksi HIV/AIDS dan Penanganannya

JAYAPURA - Hubungan seks gonta-ganti pasangan, menggunakan jarum suntik narkoba dan transfusi darah bersama-sama adalah perilaku yang menyebabkan terinveksinya virus HIV/AIDS. Demikian anggapan umum untuk memastikan apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak. Selain itu, ada cara lain untuk mengetahui seseorang positif HIV yaitu VCT (Voluntary Counseling and Testing).

VCT merupakan suatu cara untuk mengetahui keadaan seseorang terinveksi HIV/AIDS atau tidak. Namun, yang menjadi hal utama ketika ikut VCT adalah kesadaran seseorang memeriksakan diri atau bersedia untuk diketahui statusnya sebelum konseling dengan konselor. Saat konseling terjadi komunikasi dua arah antara klien dan konselor sehingga klien mendapatkan banyak hal terutama mengenai seluk-beluk penyebaran HIV/AIDS serta meningkatkan pemahaman klien menyangkut tanda-tanda teridentifikasi HIV/AIDS.

Bila proses konseling antara klien dan konselor selesai ada dialog lanjutan soal kesediaan pasien ikut tes HIV. Tes HIV atau testing sebagai perlakuan awal berupa tes kepada klien untuk mengetahui statusnya terinveksi virus HIV. Kejelasan status HIV seorang klien akan ditindaklanjuti baik berupa pengobatan, dukungan moril maupun pendekatan komunikasi persuasif untuk mengubah tingkah laku. Ketika lembaga kesehatan sudah menyediakan VCT ternyata masih ada sebagian orang yang tidak bersedia ikut VCT. Hal ini dijumpai pada pengalaman dokter yang melayani ruang VC T di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura. “Di sini ada klien yang enggan diperiksa karena takut diberi stigma negatif. Dengan alasan itu klien hanya sebatas konseling dengan pihak dokter karena takut dicap sebagai “orang terkutuk” jika ketahuan terinveksi HIV/AIDS,” kata Kepala Klinis VCT RSU Daerah Abepura, Nyoman Sri Antari, di Jayapura, beberapa hari yang lalu.

Walaupun hanya sekedar konseling, kata Nyoman, klien tidak berinisiatif menyampaikan keluhannya walaupun oleh pihak dokter sudah lebih dulu mengetahui tanda-tanda fisik orang terjangkit virus HIV/AIDS. “Umumnya klien masih enggan diperiksa secara suka rela padahal itu perlu diketahui agar ada tindak lanjut dari pihak medis,” ujarnya. Pengalaman dokter yang melayani VCT di RSUD Abepura menunjukkan masih minimnya kesadaran klien untuk lebih terbuka saat diperiksa secara suka rela bila saat konseling dengan konselor. Yang lebih berinisiatif untuk melakukan proses pemeriksaan positif HIV bagi klien malahan dari pihak dokter sementara klien sendiri enggan diperiksa. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan pendekatan khusus bagi klien agar lebih terbuka dan tidak sungkan saat melaksanakan konsultasi dengan konselor. Menurut dr. Nyoman Sri Antari, ada dua hal yang menyebabkan klien enggan diperiksa yaitu kurang sadar diri dan paradigma lama “stigmatisasi”. Klien kurang menyadiri kalau ada tanda-tanda teridentifikasi positif HIV pada dirimya. Stigmatisasi membuat klien urung niat diperiksa karena berpikir bahwa orang yang mengidap virus HIV positif berujung pada pendiskriminasian oleh komunitas atau lingkungannya.

Pada Tahun 2005 hingga Agustus 2010 jumlah kumulatif pasien yang mengidap HIV/AIDS di RSUD Abepura tercatat 395 orang. Menurut dr. Nyoman Sri Antari penanganan sejumlah pasien tersebut terdiri dari berbagai jenjang baik kaum muda maupun ibu hamil. VCT bagi kaum muda kebanyakan dilaporkan saat konseling karena bermula dari hubungan seks di luar nikah. Yang menjadi aneh menurut Nyoman adalah klien masih terpengaruh dengan pola pikir stigmatisasi bahwa penyakit HIV/AIDS sebagai penyakit aib karena melakukan perbuatan salah.”

Masih ada sebagian orang menganggap HIV/AIDS sebagai aib sehingga untuk berkonsultasi dengan konselor agak susah karena kesadaran dirinya masih rendah. Itu pun kalau diajak konseling tunggu inisiatif dari dokter,” ujarnya. Sebagai suatu pilihan utama, ada beberapa hal yang perlu diketahui manfaat dari VCT sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS. Pertama, peningkatan perilaku tidak beresiko. Klien yang tidak beresiko biasanya ada perubahan peningkatan perilaku bila stasusnya sudah jelas tidak terinveksi HIV/AIDS. Dalam hal ini klien mengetahui bagaimana model penyebaran HIV/AIDS melalui konseling sehingga bisa menghindarinya melalui perubahan tingkah laku. Kedua, pencegahan segera. Klien diberi pencegahan bila dalam dirinya ada gejala-gejala awal terinveksi virus HIV/AIDS. Setidaknya gejala ini bisa dicegah melalui penanganan lebih lanjut para medis baik berupa bentuk perawatan maupun pendekatan komunikasi berupa dorongan moril kepada klien. Ketiga, peningkatan kualitas hidup ODHA.

Dijelaskan, orang yang menjalankan tes HIV/AIDS tidak bisa dipaksa tapi harus dijalani dengan suka rela. Sebelum tes klien mendapatkan konseling terlebih dahulu melalui percakapan rahasia dengan konselor (petugas perawatan). Konselor dapat membantu mengatasi kekhawtiran dan membuat keputusan pribadi yang sehat terhadap klien. Dalam konseling seorang klien dapat membicarakan semua kekhwatiran dan perasaannya terkait tingkah laku dan kondisi lingkungan sekitarnya. Klien dapat memutuskan secara suka rela menjalani tes HIV/AIDS melalui pengambilan darah setelah melewati proses konseling. Namun konseling juga dapat dilakukan setelah hasil tes diperoleh, baik HIV positif maupun negatif.

Untuk mendapatkan hasil HIV positif atau negatif dilakukan proses pengambilan darah dari pembuluh tangan untuk diuji di laboratorium apakah ada antibodi terhadap HIV. Tes ini bersifat suka rela dan rahasia. Penderita HIV positif biasanya diberi ARV (Anti Redro Virus) yang dapat diperoleh dari dokter ahli atau rumah sakit umum. Obat ini tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat menunkan jumlah virus dalam tubuh sehingga bisa bertahan hidup relatif lebih lama.

Tes HIV memiliki kegunaan yaitu dengan tes HIV kita mengetahui status HIV sejak dini agar bisa menjaga kesehatan dan masa depan dengan lebih baik. Bila tahu status HIV sejak dini, baik hasilnya positif maupun negatif maka kesehatan dapat dijaga dengan perilaku sehat melalui memperbaiki pola makan, pemakain obamt dan kebersihan. Biasanya gejala awal penyakit AIDS penderita adalah seseorang terkena virus HIV lebih awal tanpa menunjukkan tanda yang jelas. Penderita hanya mengalami demam selama 3 hingga 6 minggu tergantung kekebalan tubuh penderita kontak dengan virus HIV. Penderita HIV kembali ke kondisi membaik atau sehat selama beberapa tahun dan perlahan daya tahan tubuh mulai lemah sehingga menimbulkan sakit karena ada serangan demam berulangkali.

Di Jayapura ada beberapa lembaga atau tempat rujukan yang dimanfaatkan untuk mendapatkan konseling dan testing suka rela untuk HIV/AIDS antara lain RSUD Abepura, RS Dian Harapan, RSUD Jayapura, Klinik Kespro Yayasan Kesehatan Bethesda, Balai Pengobatan Christami Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YKPM), Yayasan Harapan Ibu (YHI) Papua, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBII), Kelompok Kerja Wanita (KKW) Papua dan Jayapura Support Group. (Jubi)

Info Menarik