Tampilkan postingan dengan label utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label utara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2013

Kunjungan Wisatawan Meningkat, Meski Kerap Terjadi Penembakan di Papua

JAYAPURA - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua mengumumkan sepanjang tahun 2012, kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara di bumi cenderawasih mengalami kenaikan yang cukup signifikan meski pada tahun yang lalu kerap terjadi penembakan diberbagai wilayah.

Hal tersebut sebagaimana diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Wim CH Rumbino, saat diwawancara pers dalam satu kesempatan, kemarin.Sayangnya, Rumbino tak menjelaskan secara spesifik mengapa kunjungan wisawatan meningkat meski terjadi sejumlah aksi  penembakan tersebut yang hampir memperburuk citra Papua dimata dunia.

"Jadi, penembakan maupun aksi demonstrasi di tahun 2012 tidak benar-benar memengaruhi kunjungan wisatawan. Sebab kunjungan di kemarin justru mengalami peningkatan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebagaimana data yang berhasil dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, ada kurang lebih sebanyak 12 ribu wisatawan yang berkunjung ke provinsi tertimur di Indonesia ini. Kunjungan para turis lokal maupun manca negara ini terbagi dalam bentuk perorangan maupun kelompok.

Sementara para turis dari luar negeri yang berkunjung ke Papua lebih didominasi dari benua Asia, yakni dari negara Jepang dan Cina, sementara turis Eropa berasal dari Itali.Masih menurut Rumbino, selain kunjungan secara perorangan dan kelompok, ada juga kunjungan wisatawan manca negara yang dengan menggunakan kapal pesiar.

“Bayangkan kunjungan dengan kapal pesiar itu setiap tahun pasti ada yang datang dan mereka dalam jumlah yang banyak,” katanya.Ditambahkan dia, dengan adanya promosi Papua melalui  pameran expo Papua pada bulan April mendatang di Jakarta, maka pihaknya akan memanfaatkan momentum tersebut untuk lebih menjual pariwisata Papua ke dunia luar.

Dengan harapan kunjungan para turis manca negara maupun lokal akan bisa lebih meningkat sehingga bisa menambah Pajak Asli Daerah (PAD) Papua serta menumbuhkan iklim kepariwisataan Papua yang saat ini sudah mulai dikenal dunia luar.

“Maka itu, kedepan perlu juga kita tawarkan paket-paket perjalanan murah ke Papua melalui internet. Dan memang pasti akan bisa menarik banyak turis sebab masih terjadi penembakan saja turis tetap berdatangan. Apalagi kalau situasi kondusif ditambah promosi yang tepat pasti akan lebih meningkatkan kunjungan wisatawan ke sini,” tutupnya. [PemprovPapua]

Jumat, 14 Desember 2012

Berwisata Pantai di Kampung Urfu

YENDIDOR (BIAK NUMFOR) - Mungkin sebagian dari kita tidak mengenal akan Urfu, bahkan mungkin tidak mengetahui Urfu. Urfu adalah salah satu kampung di Distrik Yendidor, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Luas kampung URFU yaitu 1,322 m2.

Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Selain dengan kendaraan pribadi dapat juga di tempuh dengan kendaraan umum, kita dapat naik kendaraan umum dari Terminal Biak Kota dengan jurusan Yendidor, dengan harga yang sangat murah kita membayar uang sebesar Rp.5.000,- dengan menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit.

Dari Adoki, jalan akan menuju ke desa Urfu. Desa ini memiliki tempat wisata yang sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama yang unik karena dikelilingi oleh formasi batu karang yang mengesankan. Dengan pemandangan laut dan pantai yang sangat menawan. Pemandangan laut di Urfu bagus karena laut yang teduh dan tidak bergelombang karena pantai tersebut terhalang dua tanjung.

Di pinggir pantai desa Urfu, kita dapat melihat sekelompok anak-anak bermain dengan riang sampai tidak mengenal waktu, mereka bisa berlama - lama bermain di pantai tersebut.

Tidak jauh dari pantai itu kita dapat berjalan dan melewati tangga yang tidak begitu banyak lalu turun ke bawah sekitar 15 meter dapat kita temui kolam-kolam yang di buat oleh warga untuk memelihara ikan, dan juga ada beberapa kolam air salobar yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci bagi para warga. Sebagian besar masyarakat Urfu adalah nelayan, mencari ikan. Bahkan kami menjumpai seorang anak dengan membawa ikan kecil yang sudah mati. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, memang adakalanya di pantai dapat di jumpai ikan - ikan yang sudah mati.

Ketika memasuki daerah pemukiman desa Urfu, sambutan dengan penuh kehangatan dan keramahan terlihat pada wajah penduduk Urfu. Wajah polos terpancar dari anak - anak di desa Urfu. Pengalaman yang menyenangkan dan selalu membekas di hati. Mengajak kita untuk kembali datang ke desa ini.

Urfu kaya panorama, masyarakat yang ramah dan hal-hal lain yang membuat desa ini menjadi begitu spesial dan layak untuk di kunjungi. (BeritaDaerah)

Selasa, 11 Desember 2012

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

BIAK (BIAK) Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan. (MTV)

Senin, 07 November 2011

Robert Sineri, Putra Serui Pencipta Kompor Alternatif Terbaik se-Papua

SERUI (YAPEN) – Robert Sineri adalah salah satu anak asli Papua asal Yapen yang mendapat predikat terbaik dalam mengikuti konfensi gugus kendali mutu kualitas industry masyarakat yang diselenggarakan Dinas Perindak dan UKM Provinsi Papua. Ia menampilkan hasil temuannya, yakni kompor alternatif tanpa Bahan Bakar Minyak (BBM), yang nantinya akan mewakili Provinsi Papua pada tingkat Nasional di Balikpapan, November mendatang.

Kepada Bintang papua, Robert Sineri mengatakan bahwa semua itu dia peroleh berkat dukungan pemerintah daerah atas pengurusan hak paten, dalam menunjang kemajuan usahanya serta pihak Pemda telah membantu dirinya dalam menyediakan satu unit gedung usaha industri ditambah dengan peralatan yang dibutuhkan.

Untuk itu, Robert Sineri menyampaikan ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Pemda dalam membantu usahanya. “Saya menyampaikan terima kasih kepada Pemda yang telah membantu dengan bantuan dana yang cukup besar, serta membantu saya dengan membangun sebuah gedung untuk memproduksi kompor,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/10).

Menurutnya dengan apa yang telah diberikan oleh Pemda kepada dirinya, itu akan dijadikan untuk memotifasi dirinya, agar lebih tekun dalam berkarya sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi sesama anak daerah, yang sampai saat ini belum memiki pekerjaan tetap.

Dikatakan, kini saatnya bagi anak daerah untuk berkarya dan maju untuk membangun daerahnya sendiri. “Hasil ini memotifasi saya untuk terus berkarya dan membuka lapangan pekerjaan buat saudara-saudara saya yang tidak mempunyai lapangan pelerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Robert Sineri mengatakan, bukan saja hasil temuan kompor tersebut, namun menurutnya masih ada lagi berbagai temuan yang sementara dirancang olehnya, untuk itu dirinya berharap, Pemda akan terus mendukung apa yang sementara diperjuangkan, sehingga melalui bantuan tersebut kata Robert, pihaknya akan dapat mengembangkan produk-produk barunya.

“Produk yang akan kami keluarkan antara lain, kompor alternative tanpa BBM, bahan bakar/briket sagu, genteng dari ijuk, saveti tank untuk rumah berlabuh, dan lain-lain,” ungkapnya.(Bintang Papua)

Mas Kawin Simbol Ikatan Kekerabatan Antar Dua Suku

BIAK (BIAK NUMFOR)- Pembayaran emas kawin seringkali diplesetkan dengan membayar dan memberli perempuan seharga motor tempel atau dalam sebuah lagi dinyanyikan motor johnson diganti dengan satu buah buldozer. Lepas dari pro dan kontra sebenarnya emas kawin mengandung nilai-nilai adat yang tidak bisa dikesampingkan dalam membangun sebuah masyarakat menuju peradaban yang lebih baik.

Meski jaman sudah berubah dan jaman terus berkembang tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya bagi generasi muda di Tanah Papua menjadi sebuah keharusan yang selalu ditanamkan sejak dini.

“ Bagi saya emas kawin bukan soal besar dan jumlah nilai tapi bagaimana mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adat yang selama ini dianut,”papar Mama Merry Manggara Hindom, mengawali pembicaraan soal pembayaran emas kawin antar dua keret Boekorsjom dari Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor dan keret Rumakewi dari Kampung Krudu Kabupaten Yapen.

Namun demikian Max Boekorsjom wali dari Keluarga Perempuan yang menerima pembayaran emas kawin dari keret Rumakewi di Kota Jayapura belum lama ini mengatakan ajang ini jelas akan menjadi ruang pertemuan antar sesama saudara dalam menopang dan mendukung kelancaran ritual adat ini.” Kita jarang bertemu dan saat ini bisa menjadi ajang untuk saling belajar tentang bagaimana meneruskan tradisi emas kawin ini,” papar Boekorsjom.

Hal yang unik dalam prosesi pembayaran emas kawin antar keret Boekorsjom dan keret Rumakewi telah menyepakati dalam mengantar emas kawin tidak diperkenankan membawa bendera nasional Merah Putih yang selama ini seringkali dipraktekan dalam prosesi pembayaran emas kawin.

Memang kebiasaan mengantarkan prosesi emas kawin dengan membawa bendera Merah Putih atau juga simbol bendera yang lain tidak diketahui sejak kapan berlaku. Namun yang jelas dalam budaya Papua tradisi membawa bendera memang belum ada dan baru berkembang sejak masuknya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kedua belah pihak memutuskan bahwa yang akan menjadi simbol prosesi terdepan adalah lambang Burung Kuning sebagai simbol kekayaan alam di Tanah Papua. Burung Cenderawasih yang dipasang di tiang utama harus diserahkan kepada pihak perempuan sebagai tanda pintu rumah keluarga menerima. Tentunya saudara perempuan dari pengantin yang akan menerima simbol Burung Kuning dan menyerahkan kepada pihak laki-laki piring (Ben Bepon) dan uang sebagai tanda awal prosesi pembayaran emas kawin.

Bentuk emas kawin yang akan dibayar pertama untuk mama dari anak perempuan yang selama ini melahirkan dan membesarkannya. Atau bisa dikenal dengan istilah” uang susu.” Selanjutnya emas kawin bagi keluarga besar atau keret yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penerima emas kawin.

Begitulah prosesi yang dijalani oleh dua belas pihak baik keret Boekorsjom dari pihak perempuan mau pun keret Rumakewi dari pihak laki-laki. Namun yang jelas apa yang sebenarnya menjadi simbol dan arti emas kawin bagi orang Papua khususnya dalam Kebudayaan Biak Numfor terutama Kampung Samber di Kabupaten Biak Numfor.

Harta-harta emas kawin sejak dulu meliputi piring kuno China(ben bepon),gelang perak, gelang kulit siput atau kerang(samfar). Emas kawin atau bride price adalah benda-benda berharga yang diberikan kepada orang tua mempelai perempuan oleh mempelai pria atau kerabatnya. Atau pengertian lain menyebutkan bride price artinya benda-benda berharga yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai perempuan beserta kerabat-kerabatnya. Tujuan dari pelaksanaan pembayaran emas kawin ini adalah untuk mengikat masing-masing keluarga untuk saling menghargai dan menolong dalam segala hal.

Faktor-faktor yang memberikan perbedaan dalam emas kawin adalah besaran dan jumlah nilainya yang ditentukan masing-masing pihak. Adapun besarnya jumlah emas kawin biasanya ditentukan oleh status perempuan, latar belakang keluarga, keperawanan, maupun kecantikan dan saat sekarang ini faktor pendidikan juga ikut menentukan besaran jumlah emas kawin.

Sejak jaman Belanda di Biak Numfor, pemerintah telah menetapkan besaran nilai emas kawin sesuai dengan kesanggupan dan nilai kewajaran. Misalnya saja mempelai perempuan berasal dari keluarga pendiri kampung atau manseren mnu dan masih berstatus perawan, maka jumlah yang wajib diberikan kepada kaum pengantin pria dan kerabatnya sebesar 100 barang papus dan sejumlah uang tunai.

Sebaliknya jika jika tidak perawan lagi atau janda dan bukan keluarga terpandang dikenakan nilai sebesar 50 barang papus dan sejumlah uang tunai.
Perbincangan soal emas kawin sebenarnya sudah menjadi perdebatan para pakar antropolog, Levi Struss yang dikutip dalam buku Prof Dr Jan Van Baal yang menyatakan praktek emas kawin menyebabkan seorang perempuan merupakan obyek atau benda yang ditranfer atau ditransaksi antara para lelaki. Penyamaan seorang perempuan dengan benda yang dijadikan obyek transaksi antar kaum pria oleh pakar antorpolog Levi Strauss ini secara tidaklangsung menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari kaum pria.

Namun demikian bagi Jan Van Baal, pakar antropolog yang juga mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea (Provinsi Papua dan Papua Barat) sebenarnya perlakuan terhadap kaum perempuan sebagai benda transaksi kaum pria bukan semata-mata karena kehendak kaum pria sendiri tetapi lebih dari itu kesediaan dari kaum perempuan untuk menjadikan dirinya obyek transaksi. Jadi bagi Jaan Van Baal prinsip-prinsip tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat.

Melalui kerelaan seorang perempuan untuk diperlakukan sebagai benda yang dipertukarkan merupakan tindakan yang bisa memungkinkan saudara laki-lakinya memperoleh sejumlah harta yang dibutuhkan untuk membayar emas kawinnya sendiri. Hal ini semakin memperat hubungan kekerabatan dengan saudara-saudara laki-laki dan orang tua perempuan bisa mendapat bantuan dari suami (pihak keluarga suami) selama perkawinan itu berlangsung.

Jadi emas kawin bisa menurut antropolog Nelte Hubertina Mansoben-Mampioper dalam Skripsinya berjudul Kedudukan dan Peranan Wanita Dalam Kebudayaan Biak Numfor, Studi Kasus Kampung Samber Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor menyebutkan antara lain,
1. Emas Kawin merupakan alat pengabsahan terhadap suatu perkawinan.
2. Merupakan media yang disatu pihak menuntut sang isteri untuk tetap setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkawinan tersebut. Dilain pihak menuntut suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik agar emas kawin yang telah dibayar oleh pihaknya tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian.
3. Emas Kawin merupakan alat pengikat antara dua kelompok kekerabatan, yaitu antara kelompok kekerabatan pihak perempuan dengan kelompok kekerabatan pihak pria. Biasanya ikatan kekerabatan tersebut diperkuat melalui upacara-upacara yang melibatkan kedua kelompok. Misalnya upacara turun tanah (Sababu), upacara pengguntingan rambut (kapaknik); dan upacara inisiasi, workbor yang dilakukan bagi anak-anak terutama laki-laki sulung dari suatu perkawinan. Sedangkan bagi anak-anak perempuan dilakukan juga kapaknik dan upacara inisiasi, insos.
4. Emas kawin, menimbulkan hubungan timbal balik atau resiprokal antara kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda. Biasanya saat mengumpulkan benda emas kawin, semua penduduk warga kampung terlibat. Tidak terbatas pada kelompok klen atau marga tertentu saja. Tradisi Biak Numfor menuntut semua warga di kampung merasa berkewajiban untuk saling membantu sesama warga guna mendukung prosesi ini. Hal ini jelas akan menimbulkan rasa kebersamaan sesama warga kampung termasuk keret atau klen di kampung.
5. Pembagian emas kawin di kampung terutama keret perempuan juga menimbulkan rasa solidaritas antar klen untuk saling membantu dalam pembayaran emas kawin berilutnya bagi warga di kampung.

Terlepas dari definisi atau pun perdebatan para pakar antropolog soal pembayaran emas kawin di mana peran perempuan dianggap sebagai obyek. Namun yang jelas kehadiran setiap klen dan kaum kerabat dalam peristiwa pembayaran emas kawin bisa menumbuhkan rasa solidaritas dan meningkatkan perasaan solidaritas antar keret di dalam masyarakat khususnya di Tanah Papua.(Jubi)

Yosim Pancar ,Tarian Persahabatan Kontemporer Masyarakat Papua

JAYAPURA — Dua pancar gas, dua pancar keliling kota, kota Jakarta. Dua pancar gas, dua pancar gas kelililing kota, kota Jakarta. Begitulah syair lagu yang sering didendangkan dalam Yosim Pancar di Kampung-kampung di Papua khususnya di Biak Numfor.

Banyak yang tidak mengetahui sejak kapan tarian muda-mudi atau persahabatan dimulai di Papua tetapi tradisi dan budaya suatu masyarakat berkembang sesuai dengan perubahan jaman. Sebenarnya dalam upacara adat tak lepas pula dari tabuhan tifa dan lengkingan suara penari. Misalnya upacara inisiasi bagi para pemuda akil baliq dalam Budaya Biak Numfor. Wor K’bor, upacara inisiasi bagi para pemuda yang telah lulus dari rumah bujang atau Rumsram yang dilakukan selama berminggu-minggu dengan tarian, menyanyi dan tentunya minum saguer (swansrai).

Wor K’bor ini khusus para pemuda Suku Biak pada jaman dulu sebelum masuknya Injil, guna menjalani ritus peralihan di mana bagian ujung alat kelamin para pria muda dipotong atau ditiriskan dengan buluh atau bambu yang halus sebagai simbol menuju ke dunia orang dewasa. (Untuk lebih lengkap soal Wor K’bor bisa dalam Dr JR Mansoben, kumpulan tulisan Prof Dr Koentjaraninggrat, Ritus Peralihan di Indonesia).

Namun demikian menuurut antropolog Dr Enos Rumansara dalam penelitiannya berjudul Tari yosim pancar dan pergeseran nilai religius tari tradisional orang Biak menyebutkan tarian-tarian khas atau yang sakral dari masyarakat Biak Numfor mengalami pergeseran-pergeseran nilai dari tarian religius menjadi tarian-tarian bersifat kontemporer sesuai perkembangan jaman. Kalau masyarakat di Sarmi lebih mengenal tarian lemon nipis, masyarakat di Wamena juga punya sekise. Bagi masyarakat Suku Dani, Mee, Nduga mengenal tarian Tup dan Tem.

Yosim pancar mulanya berasal dari tarian pergaulan masyarakat Yapen Waropen dan Biak. Awalnya tarian ini hanya terdiri dari Yosim dan Pancar. Dalam perkembangannya dua tarian ini digabung menjadi satu, Yosim Pancar.

Sebenarnya jika disimak, tarian-tarian ini bukan tarian khas Papua tetapi paduan antara gerakan khas Papua yang berkembang sesuai peradaban jaman. Atau oleh para pengamat budaya disebut tarian kontemporer. Alat musiknya pun bermacam-macam ada yang asli Papua dan juga dari luar Papua. Hampir kebanyakan anak-anak muda dari Biak Numfor suka membuat gitar, juk dan stand bass dari kayu susu.

Perangkat musik yang digunakan dalam tarian yosim pancar sangat sederhana, terdiri dari uku lele(juk) dan gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat musik stand bass yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua. Alat bass ini ada berbentuk bulat seperti gitar tapi ada pula yang berbentuk kotak. Tak heran kalau ada sentilan yang menyebut para pemegang bas berbentuk kotak alias “bass tahan perasaan (bas tape).” Pemain bass dalam Yosim Pancar menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena pemain bass bisa memetik memakai jari atau juga mengetok-mengetok pakai tangan atau sendal jepit.

Selain tifa sebagai alat perkusi ada juga labu kering yang diisi dengan manik-manik atau batu kerikil yang disebut kalabasa. Alat ini cukup dimainkan dengan cara menggoyang-goyangkan agar bunyi perkusi yang padu dengan bass.

Kalau Yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak biasanya hanya diiringi tifa saja, tifa ini merupakan alat musik gendang khas Papua tradisional di daerah pesisir tanah Papua. Gerakan yosim lebih banyak disesuaikan dengan hentakan tifa dan bass. Pemukul tifa biasa menggerakan badang sambil mengangkat tifa ke udara sambil memegangnya.

Kata Yosim Pancar sendiri mulai muncul saat pesawat bermesin jet mendarat di Biak sekitar 1960 an konflik antara Belanda dan Indonesia. Saat itu banyak pesawat tempur Indonesia MIG buatan Rusia melakukan akrobatik di Bandara Mokmer (sekarang Frans Kaisiepo). Bahkan warga sempat mengarang lagu yosim berjudul dua pancar gas. “ Dua pancar gas, dua pancar gas keliling Kota kota Jakarta.” Gerakan tarian meniru pesawat jet tempur atau pancar gas. Sejak itu sebutan Yosim Pancar mulai menjadi terkenal dalam tarian pergaulan anak-anak muda di Tanah Papua khususnya di Teluk Cenderawasih. (jubi)

Pentingnya Mengetahui Indikasi Infeksi HIV/AIDS dan Penanganannya

JAYAPURA - Hubungan seks gonta-ganti pasangan, menggunakan jarum suntik narkoba dan transfusi darah bersama-sama adalah perilaku yang menyebabkan terinveksinya virus HIV/AIDS. Demikian anggapan umum untuk memastikan apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak. Selain itu, ada cara lain untuk mengetahui seseorang positif HIV yaitu VCT (Voluntary Counseling and Testing).

VCT merupakan suatu cara untuk mengetahui keadaan seseorang terinveksi HIV/AIDS atau tidak. Namun, yang menjadi hal utama ketika ikut VCT adalah kesadaran seseorang memeriksakan diri atau bersedia untuk diketahui statusnya sebelum konseling dengan konselor. Saat konseling terjadi komunikasi dua arah antara klien dan konselor sehingga klien mendapatkan banyak hal terutama mengenai seluk-beluk penyebaran HIV/AIDS serta meningkatkan pemahaman klien menyangkut tanda-tanda teridentifikasi HIV/AIDS.

Bila proses konseling antara klien dan konselor selesai ada dialog lanjutan soal kesediaan pasien ikut tes HIV. Tes HIV atau testing sebagai perlakuan awal berupa tes kepada klien untuk mengetahui statusnya terinveksi virus HIV. Kejelasan status HIV seorang klien akan ditindaklanjuti baik berupa pengobatan, dukungan moril maupun pendekatan komunikasi persuasif untuk mengubah tingkah laku. Ketika lembaga kesehatan sudah menyediakan VCT ternyata masih ada sebagian orang yang tidak bersedia ikut VCT. Hal ini dijumpai pada pengalaman dokter yang melayani ruang VC T di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura. “Di sini ada klien yang enggan diperiksa karena takut diberi stigma negatif. Dengan alasan itu klien hanya sebatas konseling dengan pihak dokter karena takut dicap sebagai “orang terkutuk” jika ketahuan terinveksi HIV/AIDS,” kata Kepala Klinis VCT RSU Daerah Abepura, Nyoman Sri Antari, di Jayapura, beberapa hari yang lalu.

Walaupun hanya sekedar konseling, kata Nyoman, klien tidak berinisiatif menyampaikan keluhannya walaupun oleh pihak dokter sudah lebih dulu mengetahui tanda-tanda fisik orang terjangkit virus HIV/AIDS. “Umumnya klien masih enggan diperiksa secara suka rela padahal itu perlu diketahui agar ada tindak lanjut dari pihak medis,” ujarnya. Pengalaman dokter yang melayani VCT di RSUD Abepura menunjukkan masih minimnya kesadaran klien untuk lebih terbuka saat diperiksa secara suka rela bila saat konseling dengan konselor. Yang lebih berinisiatif untuk melakukan proses pemeriksaan positif HIV bagi klien malahan dari pihak dokter sementara klien sendiri enggan diperiksa. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan pendekatan khusus bagi klien agar lebih terbuka dan tidak sungkan saat melaksanakan konsultasi dengan konselor. Menurut dr. Nyoman Sri Antari, ada dua hal yang menyebabkan klien enggan diperiksa yaitu kurang sadar diri dan paradigma lama “stigmatisasi”. Klien kurang menyadiri kalau ada tanda-tanda teridentifikasi positif HIV pada dirimya. Stigmatisasi membuat klien urung niat diperiksa karena berpikir bahwa orang yang mengidap virus HIV positif berujung pada pendiskriminasian oleh komunitas atau lingkungannya.

Pada Tahun 2005 hingga Agustus 2010 jumlah kumulatif pasien yang mengidap HIV/AIDS di RSUD Abepura tercatat 395 orang. Menurut dr. Nyoman Sri Antari penanganan sejumlah pasien tersebut terdiri dari berbagai jenjang baik kaum muda maupun ibu hamil. VCT bagi kaum muda kebanyakan dilaporkan saat konseling karena bermula dari hubungan seks di luar nikah. Yang menjadi aneh menurut Nyoman adalah klien masih terpengaruh dengan pola pikir stigmatisasi bahwa penyakit HIV/AIDS sebagai penyakit aib karena melakukan perbuatan salah.”

Masih ada sebagian orang menganggap HIV/AIDS sebagai aib sehingga untuk berkonsultasi dengan konselor agak susah karena kesadaran dirinya masih rendah. Itu pun kalau diajak konseling tunggu inisiatif dari dokter,” ujarnya. Sebagai suatu pilihan utama, ada beberapa hal yang perlu diketahui manfaat dari VCT sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS. Pertama, peningkatan perilaku tidak beresiko. Klien yang tidak beresiko biasanya ada perubahan peningkatan perilaku bila stasusnya sudah jelas tidak terinveksi HIV/AIDS. Dalam hal ini klien mengetahui bagaimana model penyebaran HIV/AIDS melalui konseling sehingga bisa menghindarinya melalui perubahan tingkah laku. Kedua, pencegahan segera. Klien diberi pencegahan bila dalam dirinya ada gejala-gejala awal terinveksi virus HIV/AIDS. Setidaknya gejala ini bisa dicegah melalui penanganan lebih lanjut para medis baik berupa bentuk perawatan maupun pendekatan komunikasi berupa dorongan moril kepada klien. Ketiga, peningkatan kualitas hidup ODHA.

Dijelaskan, orang yang menjalankan tes HIV/AIDS tidak bisa dipaksa tapi harus dijalani dengan suka rela. Sebelum tes klien mendapatkan konseling terlebih dahulu melalui percakapan rahasia dengan konselor (petugas perawatan). Konselor dapat membantu mengatasi kekhawtiran dan membuat keputusan pribadi yang sehat terhadap klien. Dalam konseling seorang klien dapat membicarakan semua kekhwatiran dan perasaannya terkait tingkah laku dan kondisi lingkungan sekitarnya. Klien dapat memutuskan secara suka rela menjalani tes HIV/AIDS melalui pengambilan darah setelah melewati proses konseling. Namun konseling juga dapat dilakukan setelah hasil tes diperoleh, baik HIV positif maupun negatif.

Untuk mendapatkan hasil HIV positif atau negatif dilakukan proses pengambilan darah dari pembuluh tangan untuk diuji di laboratorium apakah ada antibodi terhadap HIV. Tes ini bersifat suka rela dan rahasia. Penderita HIV positif biasanya diberi ARV (Anti Redro Virus) yang dapat diperoleh dari dokter ahli atau rumah sakit umum. Obat ini tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat menunkan jumlah virus dalam tubuh sehingga bisa bertahan hidup relatif lebih lama.

Tes HIV memiliki kegunaan yaitu dengan tes HIV kita mengetahui status HIV sejak dini agar bisa menjaga kesehatan dan masa depan dengan lebih baik. Bila tahu status HIV sejak dini, baik hasilnya positif maupun negatif maka kesehatan dapat dijaga dengan perilaku sehat melalui memperbaiki pola makan, pemakain obamt dan kebersihan. Biasanya gejala awal penyakit AIDS penderita adalah seseorang terkena virus HIV lebih awal tanpa menunjukkan tanda yang jelas. Penderita hanya mengalami demam selama 3 hingga 6 minggu tergantung kekebalan tubuh penderita kontak dengan virus HIV. Penderita HIV kembali ke kondisi membaik atau sehat selama beberapa tahun dan perlahan daya tahan tubuh mulai lemah sehingga menimbulkan sakit karena ada serangan demam berulangkali.

Di Jayapura ada beberapa lembaga atau tempat rujukan yang dimanfaatkan untuk mendapatkan konseling dan testing suka rela untuk HIV/AIDS antara lain RSUD Abepura, RS Dian Harapan, RSUD Jayapura, Klinik Kespro Yayasan Kesehatan Bethesda, Balai Pengobatan Christami Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YKPM), Yayasan Harapan Ibu (YHI) Papua, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBII), Kelompok Kerja Wanita (KKW) Papua dan Jayapura Support Group. (Jubi)

Persipura : Jangan Ancam Kami

JAYAPURA - Adanya pernyaatan dari Deputi Bidang Kompetisi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Saleh Ismail Mukadar yang menyebutkan, jika memang Persipura tidak secepatnya menentukan pilihan akan mengikuti kompetisi yang mana. Maka, akan ditinggal dan tidak akan diikutkan dalam kompetisi yang digelar PSSI mendapat reaksi dari kubu tim Mutiara Hitam.

Ketua Umum Persipura, Benhur Tommy Mano menegaskan agar PSSI tidak mengancam Persipura. “Jadi jangan mengancam kami. Kami bukan klub yang baru dibentuk, namun kami ini sudah lama berkiprah di sepak bola Indonesia,” kata Tommy Mano, Senin 31 Oktober 2011.

Pada dasarnya Persipura selalu siap mengikuti kompetisi, namun harus benar-benar kompetisi yang resmi. “Dan PT Liga Indonesia (LI) yang musim lalu menggelar kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) sudah disahkan oleh AFC. Sementara PSSI baru saja membentuk badan hukum dan PT. Liga Primer Indonesia Sportindo. Namun kita belum masih tahu jelas apakah sudah disahkan oleh AFC atau tidak,” tandas Tommy Mano.

Sebelumnya, Deputi Bidang Kompetisi PSSI, Saleh Ismail Mukadar kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan ketua umum dan pengurus Persipura, Senin 31 Oktober mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada klub bahwa PSSI akan tegas dalam mengambil sikap. Sehingga jika ada klub yang tidak ikut, maka akan ditinggal dan tidak akan diikutkan dalam kompetisi yang digelar PSSI.

“Jika Persipura tidak ikut, maka maaf saja kami akan tetap melangsungkan Liga. Karena syarat minimal menggelar kompetisi itu 10 peserta sudah bisa dilangsungkan. Dan sekarang sudah ada 17 dengan Persipura. Dan jika saja Persipura keberatan dan Sriwijaya keberatan, maka kami masih punya 15 klub yang bisa ikut kompetisi,” kata Saleh Mukadar. (Jubi)

Sagu, Tanaman Pangan yang Tahan Perubahan Lingkungan

JAYAPURA — Sagu termasuk salah satu tanaman sumber pangan yang tahan terhadap perubahan iklim dan hama. Sehingga tanaman pangan yang menjadi makanan asli masyarakat Papua ini, perlu dilindungi semua pihak.

“Saya melihat sagu termasuk tanaman pangan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, berbeda dengan tanaman sumber pangan lain yang sangat rentan,” kata Lindon Pangkali, salah satu pemerhati lingkungan hidup Papua, yang juga mantan Koordinator Forest Watch Region Papua kepad ya berpasir dan berlumpur, akan membuat tepung sagu kotor. Karena itu biasa kalau kitong mau ramas sagu, cari air yang bersih dan bukan di kali atau sungai kecil, yang airnya bergerak tapi air yang tenang,” katanya.

Dia menambahkan, sekarang ini kalau mau pangkur sagu sudah sulit karena kali atau sungai kecil sudah tak jernih seperti dulu lagi.

Para pakar menyebutkan sagu (Metroxylon spp.) merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati tumbuhan asli Asia Tenggara, yang tumbuh secara alami di dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah.

Sedangkan Indonesia termasuk negara yang memiliki luasan hampir 50 persen dari sagu dunia dan 85 persen, diantaranya terdapat di Papua yang tersebar di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan beberapa daerah yang belum terinventarisasi.


Para pakar telah mengindentfikasi sebanyak 51 jenis sagu di Papua dengan berbagai keragaman kualitas telah teridentifikasi. Keragaman itu merupakan sumber plasma nutfah yang harus dilestarikan karena berpotensi sebagai sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman sagu di masa mendatang untuk mendapatkan varietas-varietas unggul.

Selain sagu, berbagai jenis pohon kayu-kayuan seperti kayu hitam (Diospyros sp.), matoa (Pometia pinnata), terentang (Campnosperma sp.) dan jenis-jenis tanaman pioneer tumbuh di hutan sagu. (Tabloid Jubi)

Persipura Ikut Turnamen STCV Cup

JAYAPURA - Turnamen Pra musim yang bakal diikuti Persipura ternyata bukan Inter Island Cup (IIC), namun SCTV Cup. Turnamen yang digagas oleh stasiun televisi swasta tersebut akan digelar di Kota Solo selama lima hari yakni 25 Oktober-30 Oktober mendatang.

Peserta turnemen SCTV cup ini diikuti oleh Persipura Jayapura, Persisam Samarinda, Pelita Jaya dan Sriwijaya FC.

Pelatih Persipura, Jacksen F Tiago menyatakan Pesipura bersedia mengikuti iven ini karena diundang resmi oleh panitia turnamen SCTV cup, tiga kontestan lainnya.
”Ya setelah manajemen memberi sinyal ikut maka kita langsung menyiapkan diri untuk mengikuti turnamen SCTV cup di Solo pekan depan,”kata Jacksen tadi malam.

Mantan pelatih Persebaya itu mengatakan tujuan manajemen Persipura mengikuti turnamen STCV cup 2011 ini karena ada beberapa pertimbangan seperti biaya akomodasi, transportsai, trophi dan hadiah uang sebesar Rp 100 juta ditanggung oleh panitia.

Selain itu juga ada beberapa pertimbangan dari beberapa hal lainnya seperti kondisi kesiapan pemain dan benefit untuk tim menjelang persiapan kompetisi Indonesia super Leagua (ISL) atau kompetisi Indonesia Premier League (IPL) mendatang.

”Kalau tidak ada halangan kami berangkat ke Solo tanggal 23 besok dengan jatah tiket trasportasi bagi 30 orang diantaranya semua pemain dan offisial,” paparnya. (Cepos)

Putri Pariwisata Siap Majukan Pariwisata Papua

SENTANI - Setelah berlangsung selama tujuh hari, putri pariwisita asal Kabupaten Jayawijaya bernama Diana Ana Elosaka , berhasil keluar sebagai juara I dalam ajang pemilihan putri pariwisata Provinsi Papua yang diikuti 10 Kabupaten/Kota di Hotel Sentani Indah, Minggu (16/10).

Sedangkan, sebagai juara II atau runner up diraih putri wisata asal Kabupaten Mimika bernama Delila Patricia Kiwak .

Panitia Pemilihan Putri Pariwisata Provinsi Papua Mian Simanjuntak, SE mengungkapkan, juara putri I dan runner up memiliki tugas dan tanggungjawab untuk mempromosikan wisata yang ada didaerahnya, termasuk di Papua secara umum.

Menurut Mian, Kabupaten Jayawijaya dan Mimika memiliki potensi/obyek pariwisata yang sangat dikenal dunia, seperti keindahan kerajinan suku Komoro, Puncak Cartenz serta sejumlah obyek pariwisata lainnya.

“ Putri pariwisata ini telah memiliki program one day one workshop atau tiada hari tanpa belajar tentang pariwisata. Diharapkan dengan belajar soal pariwisata, maka mereka mampu menjadi duta-duta pariwisata yang mampu mempromosikan wisata-wisata di Papua ke masyarakat yang lebih luas lagi untuk kemajuan pariwisata Papua,”ujar Mian kepada wartawan, Senin (17/10).

Sementara itu, Runner Up Putri Pariwisata Papua Delila Patricia Kiwak menuturkan, dirinya memiliki beberapa program yang diharapkan dapat membuat pariwisata di Papua semakin maju dan berkembang.

"Saya memiliki program One Day One Workshop dengan menghadirkan pakar-pakar pariwisata di Papua dan Kementrian Pariwisata RI dimana dalam workshop ini bisa dikupas bagaimana potensi pariwisata di Papua yang bisa digali," tuturnya.

Ditambahkannya, masih banyak program lain yang ingin dilakukan guna mengembangkan pariwisata ini dimana diharapkan bahwa ada dukungan baginya untuk mengembangkan dan hal tersebut sudah pasti datang dari pemerintahan maupun swasta yang ingin membantu. (Cepos)

Minggu, 06 November 2011

Edo Kondologit Bangga Jadi Orang Papua

RAJA AMPAT - ”Orang Papua itu kulitnya hitam, rambut keriting, dan mata menyala, seperti saya. Namun, bukan berarti kitorang mau pisah dari Indonesia. Ini identitas kami orang Papua, yang juga orang Indonesia,” ujar Edo Kondologit (44) saat mengisi acara di Festival & Travel Mart Raja Ampat 2011, Kamis (20/10/2011).

Ucapan Edo terkait lagu yang dinyanyikannya, ”Aku Papua”. Lagu yang diciptakan almarhum Franky Sahilatua empat tahun lalu itu bercerita tentang kebanggaan menjadi orang Papua yang hidup di negeri berlimpah kekayaan alam. Baginya, lagu ini tak sekadar menggambarkan alam, tetapi juga memberi semangat, motivasi, dan keyakinan persamaan harkat orang Papua.

”Masih banyak orang Papua yang minder karena hitam dan keriting. Ini gara-gara citra yang dimunculkan televisi bahwa orang cantik itu berkulit putih dan rambut lurus. Orang hitam juga cantik, kok,” katanya.

Lewat lagu, Edo ingin mempromosikan Papua sebagai ”surga” di bumi. Hampir setiap sudut tanah Papua menyuguhkan keindahan, seperti alam laut dan gugusan pulau di Raja Ampat.

Untuk mengangkat Papua, Edo berencana membuat album mini berisi sembilan lagu yang bercerita tentang Papua dan lagu berbahasa Papua, seperti lagu dari Biak, ”Orisun”, dan lagu lama yang diaransemen ulang, ”Suku Satu”.

”Ini pertama kali saya ke Raja Ampat. Padahal, saya asli Sorong. Itu karena saya sudah 20 tahun di Jakarta,” ujar Edo yang lahir di Distrik Teminabuan, Sorong Selatan. (Kompas)

Info Menarik