Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Papua to Enjoy Broadband Next Year

JAKARTA - Indonesia’s easternmost province of Papua will connect to high-speed Internet later than scheduled after the Communications and Information Ministry said that broadband would make headway into the province in 2013.

Communications and Information Minister Tifatul Sembiring said that as many as 27 provinces across Indonesia now had access to broadband Internet via the Palapa Ring.

The Palapa Ring is a project aimed at linking Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku and Papua to eight existing network connections, or backhauls, via approximately 35,380 kilometers of undersea and 2
1,870 kilometers of underground fiber-optic cables.

Fiber optics, unlike copper cables, enable fast data transmission, a prerequisite for broadband Internet. The ministry and a consortium of telecommunication companies kicked off the project, worth US$700 million, in 2009 and targets its completion by 2014.

“The establishing of broadband connections has been carried out across the provincial capital cities located on Java island,” he said on Tuesday.

He added that major cities and industrial hubs including Jakarta and its surrounding areas, as well as Bandung and Semarang, were already connected to broadband Internet.

However, five cities still have to wait until next year for broadband connections. “The cities include Jayapura, the capital of Papua, Manokwari [West Papua capital], and Ternate [in North Maluku], in addition to Kendari in Southeast Sulawesi and Ambon [Maluku capital],” he said.

He added that broadband penetration across the 27 provinces was “still low, lower than 12 percent”. “Ideally, the penetration rate should be at 100 percent,” he said.

He added that the government aimed to connect all major cities and industrial hubs in Indonesia with broadband connections by 2015.

“Our target is to even connect homes with fiber optic cables,” he said.

Under the national broadband plan, the government plans to transform Indonesia into a knowledge-based society by 2015 by improving Internet access. By 2020, the government expects the country to have gone digital through the application of e-government initiatives.

However, besides the still low Internet penetration rates, e-government schemes have lagged. Several regions have pushed back the disbursement dates for electronic identification, or e-KTP.

Tifatul said the contribution of information technology, which includes the Internet, toward the gross domestic production (GDP) has risen in the last decade.

A study by the World Bank shows that a 10 percent rise in broadband penetration would increase GDP by 1.38 percent.JAKARTAIndonesia’s easternmost province of Papua will connect to high-speed Internet later than scheduled after the Communications and Information Ministry said that broadband would make headway into the province in 2013. Communications and Information Minister Tifatul Sembiring said that as many as 27 provinces across Indonesia now had access to broadband Internet via the Palapa Ring. The Palapa Ring is a project aimed at linking Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku and Papua to eight existing network connections, or backhauls, via approximately 35,380 kilometers of undersea and 2 1,870 kilometers of underground fiber-optic cables. Fiber optics, unlike copper cables, enable fast data transmission, a prerequisite for broadband Internet. The ministry and a consortium of telecommunication companies kicked off the project, worth US$700 million, in 2009 and targets its completion by 2014. “The establishing of broadband connections has been carried out across the provincial capital cities located on Java island,” he said on Tuesday. He added that major cities and industrial hubs including Jakarta and its surrounding areas, as well as Bandung and Semarang, were already connected to broadband Internet. However, five cities still have to wait until next year for broadband connections. “The cities include Jayapura, the capital of Papua, Manokwari [West Papua capital], and Ternate [in North Maluku], in addition to Kendari in Southeast Sulawesi and Ambon [Maluku capital],” he said. He added that broadband penetration across the 27 provinces was “still low, lower than 12 percent”. “Ideally, the penetration rate should be at 100 percent,” he said. He added that the government aimed to connect all major cities and industrial hubs in Indonesia with broadband connections by 2015. “Our target is to even connect homes with fiber optic cables,” he said. Under the national broadband plan, the government plans to transform Indonesia into a knowledge-based society by 2015 by improving Internet access. By 2020, the government expects the country to have gone digital through the application of e-government initiatives. However, besides the still low Internet penetration rates, e-government schemes have lagged. Several regions have pushed back the disbursement dates for electronic identification, or e-KTP. Tifatul said the contribution of information technology, which includes the Internet, toward the gross domestic production (GDP) has risen in the last decade. A study by the World Bank shows that a 10 percent rise in broadband penetration would increase GDP by 1.38 percent.

Kominfo Perluas "Desa Informasi" ke Raja Ampat

WAISAI (RAJA AMPAT) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus menggalakan program Desa Informasi sampai ke pelosok Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat di daerah yang dijangkaunya melek informasi.

Setelah di Kabupaten Belu, NTT, Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini giliran di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang disambangi Desa Informasi. Peluncurannya diresmikan langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Syukri Batubara yang didampingi Bupati Raja Ampat Marcus Wanma, Sabtu (8/12/2012).

Syukri mengatakan, hal terpenting dari pencanangan program Desa Informasi adalah mewujudkan Indonesia Connected. Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo sejak 2009 lalu, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi antara desa dan perkotaan di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi tersebut fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Raja Ampat sendiri berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ini sesuatu yang baru dan positif, tetapi tetap harus diawasi karena tidak sedikit konten negatif ada di internet, termasuk konten atau situs-situs dari negara tetangga kita (Filipina)," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara menjawab pertanyaan Okezone di Raja Ampat.

Desa Informasi di Kabupaten Raja Ampat  terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK),  Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) dan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).

Dalam acara peresmian, Dirjen Kominfo juga melakukan serah terima MPLIK dengan Bupati Raja Ampat.

Adapun sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di kecamatan, sedangkan dua unit MPLIK akan ditempatkan di sekolah dan pelayanan secara mobile.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat Marcus Wanma menyatakan senang dan menyambut baik program bantuan Kominfo. "Tentu saja ini bakal membuka akses baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan banyak perkembangan pengetahuan dunia luar terhadap masyarakat dan khususnya anak-anak," ujarnya.

"Tentunya kita akan terus meningkatkan keterampilan, dengan demikian taraf hidup masyarakat Raja Ampat akan terangkat melalui informasi ini," sambung Marcus.

Dia juga mengakui bahwa sumbangan serupa (pelayanan internet) juga pernah dilakukan dua kementerian lain yakni Kemendiknas dan Kemenhub, selain yang baru-baru ini dari Kominfo

"Dengan begitu, ini bakal menguntungkan kita, khususnya masyarakat dan pelajar disini, fasilitas bertambah, informasi makin banyak yang masuk ke Desa Waisai, Raja Ampat," tuturnya (Okezone)

Selasa, 11 Desember 2012

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

BIAK (BIAK) Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan. (MTV)

Info Menarik