Tampilkan postingan dengan label barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Pulau Mansinam Yang Indah

MANOKWARI - Pulau Mansinam terletak di kabupaten Manokwari, provinsi Papua Barat. Untuk kita dapat ke pulau Mansinam, maka kita harus terlebih dahulu menuju ke kota Manokwari.

Apabila naik pesawat maka hanya membutuhkan waktu sekitar 6 jam lamanya perjalanan di udara, dan apabila naik kapal laut maka membutuhkan waktu selama satu minggu untuk sampai ke kota ini.

Setelah sampai di Manokwari maka dari pusat kota manokwari, saudara harus menuju ke pasir putih, dimana disana ada pelabuhan kecil untuk kita dapat menyeberang ke pulau mansinam. Orang-orang disana menyebutkannya taxi air atau perahu longboat.

Karena hanya membutuhkan waktu selama 15 menit untuk menyeberang dan sampai di pulau mansinam,  biayanyapun tidak mahal, satu orang dikenakan biaya Rp 3.000. Taxi air ini juga digunakan sebagai alat transportasi utama bagi masyarakat yang tinggal di pulau Mansinam untuk menuju ke kota Manokwari.

Dan perlu kita ketahui juga bahwa pulau Mansinam ini memiliki sejarahnya yang sudah dikenal oleh seluruh penduduk yang ada di Manokwari maupun semua orang ada di tanah papua. Pulau Mansinam ini pertama kali didatangi oleh misionaris dari belanda yaitu C.W. Ottowen En J.G. Geisler untuk membawa injil masuk di tanah papua (pulau Papua), sehingga pulau ini memiliki sejarah yang luar biasa bagi seluruh masyarakat yang ada di tanah papua.

Setiap tanggal 5 Februari disetiap tahunnya, pulau ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat papua, dari semua kabupaten yang ada di pulau papua semuanya datang ke tempat ini. Oleh karena pada tanggal tersebut adalah perayaan Injil masuk ke tanah Papua.

Di pulau Mansinam ini juga dikenal dengan keindahan panorama dipinggir pantai, pasir pantainya yang putih dan bersih, air lautnya berwarna biru dan jernih.

Dan biasanya setiap pengunjung yang datang ke pulau Mansinam ini akan berenang atau mandi di pinggiran pantai pulau Mansinam. (BeritaDaerah)

Wayag, Ikon Raja Ampat Siap Jadi Geopark

WAISAI (RAJA AMPAT) - Ampat memiliki banyak potensi keindahan alam yang patut menjadi kebanggan Indonesia. Salah satu yang kini tengah dibenahi adalah Kepulauan Wayag.

Raja Ampat telah tersohor di kalangan wisatawan dunia berkat keindahan alamnya. Wilayahnya yang terdiri atas pulau-pulau kecil menjadikan setiap sudut Raja Ampat bisa dieksplorasi dengan maksimal. Salah satu yang kini menjadi titik perhatian adalah Kepulauan Wayag.

Wayag merupakan ikon Raja Ampat. Banyak sudut dari pulau ini yang menjadi representasi keindahan Raja Ampat. Tak salah bila Wayag akan dijadikan geopark, yang kini sedang dalam tahap pengusulan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kadis Pariwisata Raja Ampat sekarang sedang ke Jakarta, membicarakan rencana ini bersama Kemenparekraf. Tinggal dijalankan untuk menjadi geopark. Kami sendiri sudah mengupayakannya dari tahun lalu, studi banding ke Langkawi, soasialisasi ke masyarakat wilayah itu. Mereka menyatakan mendukung," papar Klasina Rumbekwan, Kepala Dinas Promosi Pariwisata Raja Ampat kepada wartawan pada acara "Adira Beauty X-Pedition Jelajah Nusantara" di Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini.

Ditambahkan Ina, begitu dia biasa disapa, setelah menjadi geopark Wayag akan semakin dilindungi. Wisatawan yang masuk maupun keluar akan ditata lebih tertib dan teratur. Sebab masalahnya saat ini, wisatawan dari Sorong bisa datang dan pergi begitu saja tanpa membeli pin.

Ya, untuk masuk ke wilayah Kepulauan Raja Ampat, wisatawan memang harus membeli pin yang berlaku setahun. Harga pin untuk wisatawan lokal adalah Rp250 ribu sedangkan wisatawan mancanegara adalah Rp500 ribu. Bila rencana ini berhasil diwijudkan, Ina mengatakan bahwa peran dan keterlibatan masyarakat untuk menjaga daerahnya akan semakin besar.

Ditegaskankan Ina, nantinya tidak akan banyak perubahan terhadap keindahan alam geopark Wayag. "Di sana, wisatawan bisa naik ke puncak untuk melihat pemandangan. Kami akan membuat jalur trekking. Sebenarnya, tidak banyak yang akan diubah, alam tetap dijaga sebagaimana adanya, namun kecuraman jalur trekking yang sekarang mencapai 90 derajat, akan dibuat lebih nyaman," tambahnya. Ina mengatakan, selain Kepulauan Wayag, ada Kabui yang menjadi miniatur Wayag. (Okezone)

Kabui, Miniatur Ikon Raja Ampat yang Lebih Murah

WAISAI (RAJA AMPAT) - Pulau Wayag tersohor di kalangan wisatawan mancanegara sebagai ikon wisata Raja Ampat, Papua Barat. Bila destinasi ini sulit dijangkau, ada Teluk Kabui sebagai miniaturnya.

Landskap keras dari tebing dan berbukitan itu menjulang tinggi. Corak yang beraneka ragam dan unik menjadikan panorama tersendiri, yang bakal memanjakan mata siapapun didekatnya.

Hijaunya vegetasi di tumpukan pulau-pulau yang tersebar menjadi kamuflase yang sempurna seakan membungkus ratusan gugusan tebing berbentuk kerucut yang menyerupai pulau-pulau kecil. Itulah Teluk Kabui, orang menyebutnya sebagai miniatur Pulau Wayag, ikon eksotik di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.

Teluk Kabui menjadi alternatif untuk wisatawan bisa menikmati surga terakhir di dunia itu. Pasalnya, jarak yang harus ditempuh menuju Pulau Wayag cukup jauh memakan waktu tiga jam, menggunakan perahu cepat. Belum lagi ongkosnya yang mahal, antara Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk sekali jalan.

Nah, bagaimana caranya Anda bisa sampai ke Teluk Kabui? Tempat ini bisa Anda capai dengan menyewa perahu cepat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Harga sewa perahu sekira Rp2 juta sampai Rp2,5 juta untuk delapan orang, jauh lebih murah ketimbang ke Pulau Wayag. Sementara, perjalanan hanya ditempuh sekira 45-60 menit, tergantung kondisi cuaca.

Di Teluk Kabui, terdapat ratusan pulau kecil yang menyembul dari dasar laut. Anda bisa melakukan kegiatan, seperti diving, snorkeling, caving, atau sekadar bercengkerama dengan ikan-ikan yang begitu jelas terlihat dari permukaan.

Beruntung, Okezone dapat melihat langsung dengan kondisi alam yang begitu bersahabat, ombak seakan menyambut dengan ketenangannya. Sehingga, siapapun yang datang akan langsung menikmati keindahan dan kehijauan panorama alam di Teluk Kabui.

Satu yang menjadi ciri khas destinasi yang terletak antara Pulau Waigeo dan Pulau Gam itu adalah berdirinya puluhan pulau karang yang tersebar begitu cantik. Pulau-pulau karang ini memiliki ukuran bermacam-macam, mulai yang kecil hingga besar.

“Di sinilah yang membedakan Bunaken di Manado dengan Raja Ampat, yakni batu-batu karang yang besar, tinggi, dan jumlahnya banyak. Batu karang itulah keunggulan dan ciri khas di Raja Ampat,” kata Weraldus Wae, warga setempat yang juga pemandu wisata.

Di tempat ini juga, Kata Weraldus, selain menikmati perairan yang dangkal dan jernih, batu karang yang menonjol, wisatawan juga bisa menikmati keindahan pasir timbul yang terletak di tengah-tengah laut. “Pasir itu muncul hanya sesaat, terutama saat cuaca bagus dan ombak laut tidak pasang,” jelasnya.

Keindahan Teluk Kabui inilah yang oleh orang sekitar menyebutnya sebagai surga terakhir miniatur Pulau Wayag. “Raja Ampat juga memilki tempat wisata lain yang tak kalah hebat, yakni Pulau Mayalibit dan Desa Wisata Arborek,” kata Weraldus menutup pembicaraan. (Okezone)

Kominfo Perluas "Desa Informasi" ke Raja Ampat

WAISAI (RAJA AMPAT) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus menggalakan program Desa Informasi sampai ke pelosok Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat di daerah yang dijangkaunya melek informasi.

Setelah di Kabupaten Belu, NTT, Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini giliran di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang disambangi Desa Informasi. Peluncurannya diresmikan langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Syukri Batubara yang didampingi Bupati Raja Ampat Marcus Wanma, Sabtu (8/12/2012).

Syukri mengatakan, hal terpenting dari pencanangan program Desa Informasi adalah mewujudkan Indonesia Connected. Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo sejak 2009 lalu, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi antara desa dan perkotaan di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi tersebut fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Raja Ampat sendiri berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ini sesuatu yang baru dan positif, tetapi tetap harus diawasi karena tidak sedikit konten negatif ada di internet, termasuk konten atau situs-situs dari negara tetangga kita (Filipina)," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara menjawab pertanyaan Okezone di Raja Ampat.

Desa Informasi di Kabupaten Raja Ampat  terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK),  Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) dan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).

Dalam acara peresmian, Dirjen Kominfo juga melakukan serah terima MPLIK dengan Bupati Raja Ampat.

Adapun sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di kecamatan, sedangkan dua unit MPLIK akan ditempatkan di sekolah dan pelayanan secara mobile.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat Marcus Wanma menyatakan senang dan menyambut baik program bantuan Kominfo. "Tentu saja ini bakal membuka akses baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan banyak perkembangan pengetahuan dunia luar terhadap masyarakat dan khususnya anak-anak," ujarnya.

"Tentunya kita akan terus meningkatkan keterampilan, dengan demikian taraf hidup masyarakat Raja Ampat akan terangkat melalui informasi ini," sambung Marcus.

Dia juga mengakui bahwa sumbangan serupa (pelayanan internet) juga pernah dilakukan dua kementerian lain yakni Kemendiknas dan Kemenhub, selain yang baru-baru ini dari Kominfo

"Dengan begitu, ini bakal menguntungkan kita, khususnya masyarakat dan pelajar disini, fasilitas bertambah, informasi makin banyak yang masuk ke Desa Waisai, Raja Ampat," tuturnya (Okezone)

Senin, 07 November 2011

Raja Ampat Masuk Nominasi Situs Warisan Dunia

WAISAI (RAJA AMPAT) - Raja Ampat bagi  beberapa situs travel dijuluki sebagai "surga terakhir di bumi". Kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati laut itu masuk nominasi situs warisan dunia versi badan PBB, UNESCO.

Raja Ampat yang resmi diusulkan oleh pemerintah Indonesia sekarang tinggal menunggu penilaian dari Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs serta Uni Konservasi Dunia. Hasil penilaian lantas direkomendasikan kepada Komite Warisan Dunia yang bertemu setahun sekali.

Raja Ampat adalah kepulauan seluas sekitar 4,6 juta hektare di bagian paling barat mainland Papua dan menjadi jantung pusat segi tiga karang dunia. Wilayah tersebut mengandung keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Terdiri atas 1.104 jenis ikan, 699 jenis moluska, dan 537 jenis hewan karang. Wilayah itu juga kaya akan keanekaragaman terumbu karang, hamparan padang lamun, hutan mangrove, dan pantai tebing berbatu yang indah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat Yusdi N. Lamatenggo di sela Festival Raja Ampat pada 20?23 Oktober lalu mengatakan, seperti dikutip situs Indonesia Travel, kunjungan wisatawan ke Raja Ampat diharapkan akan terus meningkat. Dari 7.000 orang pada 2010 menjadi 10.000 pada 2011.

Di luar Raja Ampat, Indonesia total masih memiliki 26 tempat lain yang masuk daftar tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO. Daftar tentatif adalah daftar yang memuat berbagai tempat yang diajukan setiap negara untuk dinominasikan sebagai calon situs warisan dunia.

Seperti dilansir situs National Geographic, Indonesia sampai saat ini memiliki tujuh situs yang sudah diakui sebagai situs warisan dunia. Tujuh situs itu adalah Candi Borobudur (diakui pada 1991), Candi Prambanan (1991), Taman Nasional (TN) Komodo (1991), TN Ujung Kulon (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1999), serta hutan hujan tropis Sumatera yang terdiri atas TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, dan TN Bukit Barisan Selatan (JPNN)

Manokwari, Tujuan Wisata untuk Para Pecinta Alam

MANOKWARI - Tak hanya melimpah hasil sumber daya alamnya, bumi Papua menyimpan keunikan dan panorama alam yang luar biasa. Destinasi wisata bahari di Kabupaten Manokwari, masih terjaga keasliannya, menarik untuk dinikmati para pecinta keindahan alam. Ada tiga tempat wisata pantai yang layak dinikmati oleh para pelancong yakni Pantai Pasir Putih, Pantai Bakaro dan Pantai Aipiri. Pantai Pasir Putih terletak di Kampung Pasir Putih,

Distrik Manokwari Timur, hanya perlu waktu 15 menit dapat di jangkau dengan kendaraan dari kota Manokwari, Ibu Kota Papua Barat. Sepanjang mata memandang, pasirnya putih, airnya bening, sehingga anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua berlama-lama mandi. Pantai ini menjadi pi

lihan warga kota untuk melepas penat di kala libur akhir pekan dan libur nasional.

Tak kalah menariknya adalah Pantai Bakaro. Letak pantai ini di kampung Pasirindo, Distrik Manokwari Timur, hanya lebih kurang 5-6 km kearah timur dari kota Manokwari, sayangnya akses jalan yang sempit sudah rusak, tak kunjung diperbaiki, sehingga para pengunjung perlu ekstra hati-hati.

Daya tarik pantai, selain mempesona, debur ombaknya besar, ada potensi wisata yang langka yakni pemanggilan iklan yang biasa dilakukan oleh sesepuh kampung, yang kenal sebagai "Pawang", Lucas Barayap menggunakan sebuah sumpritan atau peluit khusus. Saat Lucas memanggil dengan peluit ajaibnya, maka hanya hitungan menit ribuan ikan besar dan kecil mendekat ke pinggir pantai untuk disaksikan para wisatawan.

Di pantai Bakaro sudah dikembangkan pengelolaannya dengan pihak swasta. "Pak Mamad Suaedi telah membangun Bakaro Beach yang dilengkapi kolam renang dan fasilitas pendukung lainnya serta penginapan," kata Pendamping Kelompok Desa Wisata Bakaro Agutinus S.

Pantai Aipiri terletak di Kampung Aipiri, Distrik Manokwari Timur. Untuk sampai ke pantai ini menempuh jarak lebih kurang 7 Km dari kota Manokwari. Pantai ini indah dipandang, hamparan pasirnya bersih, ombaknya besar karena merupakan pesisir laut Pasific.

Pantai ini berpotensi untuk kegiatan selancar bagi para wisatawan luar negeri. Sayangnya, fasilitas penunjang untuk menarik wisatawan belum ada sama sekali. Di pantai Pasir Putih, terlihat sampah berserakan, yang dibuang secara sembarangan oleh para pengunjung dan masyarakat setempat.

Tak pelak, hamparan pasir putih di pantai ini menjadi kotor. Beruntung ada sejumlah aktifis mahasiswa Universita Negeri Papua (Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia) yang memiliki jiwa sadar Sapta Pesona, sehingga mau membersihkan pantai. "Ya kita membersihkan pantai ini sendiri karena besok (Minggu, 30 Oktober 2011) dijadikan tempat kegiatan Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia," ucap Sheilla Tarami, mahasiswa Universitas Negeri Papua (Unipa).

Sheilla mengusulkan agar di pantai Pasar Putih ada petugas kebersihan pantai, petugas keamanan, perlu dibangun tempat sampah, WC umum, dan penjaga pantai, karena pada saat pengunjung membludak, pernah ada pengunjung (anak kecil) yang tewas tenggelam.Tak diragukan lagi keindahan tiga pantai ini, namun sekali lagi, sarana dan prasarana pendukung masih sangat terbatas.

Belum dikembangkan secara serius, sehingga pantai sebagai tujuan wisata lokal dan manca negara unggulan belum terwujud. "Tiga distinasi pariwisata pantai ini akan kita kembangkan secara serius mulai tahun 2012.

Sudah dialokasikan anggaran dari Anggaran Pendapat dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Manokwari dan APBD Provinsi Papu Barat untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar tiga pantai ini dapat menarik minat para wisatawan," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manokwari Yusak Wabiya.

Pihaknya, kata Yusak juga telah mengajukan bantuan dana untuk pemberdayaan masyarakat desa wisata kepada Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. "Kita mengajukan 10 desa wisata untuk memperoleh bantuan dana dari Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tetapi baru tiga desa yang disetujui akan mendapatkan dana pemberdayaan masyarakat desa wisata yakni Kampung Pasir Putih, Kampung Bakaro dan Kampung Aipiri. Kita ingin dana ini bermanfaat untuk mendorong usaha masyarakat, agar mereka mampu mengembangkan usahanya, meningkatkan kesejahteraannya," kata Yusak Wabiya menambahkan.

Pada tahun 2011, di Desa (Kampung) Wisata Pasir Putih,Kampung Bakaro, dan Kampung Aipiri masing-masing akan memperoleh bantuan pemberdayaan masyarakat desa wisata sebesar Rp 80 juta. Bantuan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha seperti penjualan souvenir, hasil laut dan kuliner bagi para pengunjung.

Terkait pengembangkan dan peningkatan potensi distinasi pariwisata, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Drs Bakri MM, seperti disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Media Cetak & Elektronik Yuyanti mengatakan, jiwa Sapta Pesona di kalangan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), harus terus ditingkatkan.

"Sebab, Pokdarwis menjadi ujung tombak keberhasilan desa wisata atau objek wisata. Artinya, jika objek yang dikelola tersebut menerapkan Sapta Pesona, maka dipastikan wisatawan akan ketagihan berkunjung ke objek wisata tersebut dan sebaliknya jika Sapta Pesona tidak diimplementasikan hasilnya akan kontraproduktif," ujar Yuyanti.

Partisipasi para mahasiswa Unipa membersihkan sampah di pantai Pasir Putih pantas menjadi contoh, bagi pelajar dan masyarakat di Manokwari. "Kita sedih sekali melihat pantai ini kotor karena banyak pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Ini sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi nyatanya belum menjadi kegiasaan," kata Yuyanti menambahkan. (Suara Karya)

Objek Wisata di Kota Sorong Terkendala Kurangnya Dukungan Infrastruktur

KOTA SORONG - Objek wisata Kota Sorong tidak kalah indahnya dengan yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Misalnya, objek wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari dan sekitarnya. Namun sayangnya, daerah tujuan wisata yang berlokasi di daerah pinggiran kota itu hingga sekarang belum didukung infrastruktur yang representatif.

Tahun 2011 ini ada peningkatan ruas jalan ke lokasi wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari sekitar 15 km dari pusat Kota Sorong. Namun, yang dikerjakan lewat program semeninasi hanya sekitar 1,5 km saja.

"Seperti diketahui, objek wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari memiliki keindahan pantai pasir putih dihiasi bebatuan hitam. Daerah perairan itu cantik karena airnya yang bersih dan jernih. Para pengunjung, umumnya dari seluruh wilayah Kepala Burung dan wisatawan, apabila berkunjung ke Kota Sorong, rasanya belum puas jika tidak berkunjung ke Saoka dan Tanjung Kasuari untuk piknik," kata Wem, salah seorangwarga Saoka, kepada pers di Sorong kemarin.

Dikatakan Wem, selama ini ruas jalan dari Kota Sorong ke lokasi wisata tersebut tak didukung infrastruktur jalan yang memadai. Baru tahun 2011 ini, melalui APBN, ruas jalan itu disemen dan itu pun baru 1,5 km. Karena itu, masyarakat minta kepada pemerintah pusat agar tahun 2011 dan selanjutnya proyek semenisasi itu diadakan terus agar membantu mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan wisata pantai itu.

Menurut Wem, jalan Saoka-Sorong ini juga merupakan akses ke jalan trans-Papua Barat. Antara lain, di ruas jalan itu nanti akan menghubungkan Kota Sorong dengan Kabupaten Tambrau melalui Sausapor (ibu kota sementara Kabupaten Tambrauw).

Wali Kota Sorong, Drs JA Jumame, MM, membenarkan bahwa warga pedalaman setempat minta pemerintah dapat meneruskan proyek semenisasi Kota Sorong ke Saoka itu bukan tahun ini saja, melainkan akan berlanjut tahun-tahun datang. Melalui ruas jalan itu, menurut Jumame, terdapat banyak objek wisata sama yang dengan di Kepulauan Raja Ampat. Bahkan lebih karena wisatawan, ketika turun dari pesawat, langsung ke objek wisata tanpa harus melalui laut yang melelahkan.

Di Sorong sendiri terdapat banyak objek wisata, seperti di Pulau Buaya, Pulau Sof, dan Pulau Doom. Tiga pulau itu memiliki objek wisata laut dengan karang-karang yang indah sebab belum dijamah manusia dengan bom ikan, karena berada di pusat Kota Sorong.

Keindahan tiga pulau itu akan kian terasa apabila para wisatawan mandi maupun menikmati alam bawah laut, yang dihuni jutaan ikan besar dan kecil dengan aneka warna yang menyejukkan mata. Lokasi itu mudah dijangkau dalam waktu 10-15 menit dari pusat kota. Saat ini sudah dinikmati sejumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Sorong.

Keunggulan lain dari berwisata di Kota Sorong adalah di kota itu telah tumbuh hotel-hotel kelas menengah ke atas. "Jadi, para wisatawan bisa berwisata ke lokasi-lokasi wisata setempat dari siang hingga sore dan pulang langsung masuk hotel," kata Jumame. (Suara Karya)

Minggu, 06 November 2011

Festival dan Travel Mart Raja Ampat 2011 di Pantai Waisai Tercinta (WTC)

WAISAI (RAJA AMPAT) - Festival dan Travel Mart Raja Ampat 2011 dibuka di Pantai Waisai Tercinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat. Pembukaan dimeriahkan dengan tarian tradisional dan performa arti ibu kota, Kamis (20/10/2011).

Ketua Panitia Festival & Travel Mart 2011 Ferdinand Dimara mengatakan, festival bahari ini dihadirkan untuk mempromosikan pariwisata maritim Raja Ampat.

Selain itu mempertemukan operator wisata yang ada di Raja Ampat dengan sejumlah agen perjalanan.

Sementara menurut Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenetrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hari Utoro Drajat, event pariwisata ini menunjukkan bahwa pelaku dan masyarakkat Raja Ampat menyadari besarnya potensi wisata di daerahnya yang berbasis kemaritiman.

"Raja Ampat adalah wilayah khusus yang dikembangkan menjadi wilayah wisata maritim," ujar Hari, saat membuka festival dan travel mart Raja Ampat 2011.

Bupati Raja Ampat Marcus Wanma mengatakan, keindahan wilayahnya yang kaya dengan karang dan biota laut sudah dikenal sampai ke penjuru dunia. Oleh sebab itu, dia berharap Raja Ampay bisa menjadi tujuan utama wisatawan asing maupun domestik. Terutama pecinta selam dan penikmat wisata bawah laut. Raja Ampat yang terdiri dari empat pulau besar, yakni Pulau Wageo, Misol, Batanta, dan Salawati, serta 1.000 lebih pulau-pulau kecil menyimpan keragaman flora-fauna juga tradisi budaya.

Dalam festival bahari ini, pengunjung dapat menikmatinya dalam bentuk suguhan paket wisata, pesta kesenian juga kuliner. Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat Yusdi N Lamatenggo, tujuan festival ialah memperkenalkan dan mempromosikan panorama bawah laut yang memesona. Selain itu juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari 7.000 orang (2010) menjadi 10.000 pada tahun ini.

Hari menambahkan, Raja Ampat telah memiliki potensi daya tarik wisata bahari. Selanjutnya yang perlu ditingkatkan ialah fasilitas penunjang dan aksesibilitas yang mudah menuju Raja Ampat. Tak lupa, melibatkan masyarakatnya berperan aktif dalam kegiatan ekonomi industri wisata.

Dalam festival bahari ini, selain pesta seni dan budaya, juga diadakan lomba foto bawah laut dan panorama kehidupan masyarakat Raja Ampat. Serta, seminar tentang menyelam yang berwawasan lingkungan. (Kompas)

Info Menarik