Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Koalisi: Revisi SK Pelepasan Hampir 800 Ribu Hektar Hutan Papua

JAKARTA - “Hutan konservasi dan hutan lindung tak boleh diganggu gugat.” Begitu pernyataan yang kerab diungkapkan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan. Ungkapan ini juga diucapkan saat dia hadir dalam peluncuran kampanye Greenpeace 2013, minggu lalu. Faktanya? Perubahan fungsi kawasan hutan dari lindung maupun konservasi masih terjadi. Satu contoh di Papua, lewat SK 458 tahun 2012, lebih dari 700 ribu hektar kawasan hutan, mayoritas berada di hutan lindung dan konservasi, “berganti wajah.”

Untuk itu, Koalisi Ornop Indonesia untuk Hutan dan Iklim mendesak Presiden dan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merevisi SK Menhut Nomor 458 tahun 2012 tentang perubahan peruntukan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan ini. Koalisi juga meminta Presiden segera mengeluarkan kebijakan perpanjangan moratorium berbesis capaian karena akan berakhir Mei tahun ini. Terakhir, mendesak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) konsisten dan memperkuat penyelamatan hutan yang tersisa.

Kiki Taufik, Kepala Pemetaan dan Riset Greenpeace Indonesia mengatakan, dari analisis spasial terlihat perubahan fungsi kawasan hutan di Papua dari lindung dan konservasi ke produksi seluas 392.535 hektar. “Itu jika dilihat di peta ada dekat perbatasan Papua dan PNG,” katanya di Jakarta, Kamis(14/3/13).

Lalu, perubahan fungsi kawasan hutan jadi bukan hutan seluas 376.535 hektar. Ada, perubahan dari non ke hutan ke kawasan hutan, dengan luasan kecil, hanya 41. 743 hektar. “Dengan analisis ini kita ingin tunjukkan ada beberapa ratus ribu hektar hutan sangat riskan perubahan. Ini kesimpulan yang didapat.”

Senada dengan Teguh Surya, Juru Kampanye Politik Hutan Greenpeace Indonesia. Menurut dia, Presiden dan Kemenhut segera merevisi SK itu. “Revisi bagaimana fungsi hampir 800 an hektar kawasan itu kembali ke kawasan hutan terutama konservasi dan lindung,” katanya.

Dengan perubahan hutan lindung ke non lindung, Papua akan kehilangan kawasan yang berfungsi ekologis, seperti kawasan penyimpanan air. “Ini kawasan yang memang tidak tergantikan.” Dia mengatakan, perubahan kawasan hutan menjadi bukan hutan ini menunjukkan inkonsistensi pemerintah, terhadap lingkungan. Komitmen pemerintah, seolah-olah terpisah dengan jaminan pengelolaan hutan untuk lingkungan.

Bukan itu saja, rujukan perubahan kawasan hutan selalu tak jelas. “Data dan metodologi untuk perubahan fungsi kawasan ga jelas. Proses konsultasi publik juga tidak ada,” ucap Teguh. SK Menhut ini, ujar dia, memang tak menyalahi Inpres moratorium hutan dan gambut secara langsung. Namun, aturan ini seakan-akan sebagai tempat menyiapkan izin-izin baru yang akan keluar setelah Inpres moratorium selesai.

Anggalia Putri, Koordinator Program HuMA mengingatkan, jika ini alarm bagi hutan Papua.  “Jawa, Sumatera dan Kalimantan, hutan sudah terkikis. Kalimantan 70 persen dibebani konsesi. Sulawesi MP3EI masuk salah satu koridor tambang.”

SK Menhut ini, juga tidak sinergis dengan komitmen penyelamatan hutan. “Juga janji penghormatan hak masyarakat adat. Yang paling bahaya alih fungsi dari hutan lindung dan konservasi ke hutan produksi.” Teguh dan Anggalia berpandangan sama, jika hutan Papua bukan hanya tempat masyarakat menggantungkan hidup juga ‘rumah’ budaya. “Jika dirusak sama juga merusak entitas adat Papua,” kata Teguh. [Mongabay]

Jumat, 14 Desember 2012

Berwisata Pantai di Kampung Urfu

YENDIDOR (BIAK NUMFOR) - Mungkin sebagian dari kita tidak mengenal akan Urfu, bahkan mungkin tidak mengetahui Urfu. Urfu adalah salah satu kampung di Distrik Yendidor, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Luas kampung URFU yaitu 1,322 m2.

Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Selain dengan kendaraan pribadi dapat juga di tempuh dengan kendaraan umum, kita dapat naik kendaraan umum dari Terminal Biak Kota dengan jurusan Yendidor, dengan harga yang sangat murah kita membayar uang sebesar Rp.5.000,- dengan menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit.

Dari Adoki, jalan akan menuju ke desa Urfu. Desa ini memiliki tempat wisata yang sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama yang unik karena dikelilingi oleh formasi batu karang yang mengesankan. Dengan pemandangan laut dan pantai yang sangat menawan. Pemandangan laut di Urfu bagus karena laut yang teduh dan tidak bergelombang karena pantai tersebut terhalang dua tanjung.

Di pinggir pantai desa Urfu, kita dapat melihat sekelompok anak-anak bermain dengan riang sampai tidak mengenal waktu, mereka bisa berlama - lama bermain di pantai tersebut.

Tidak jauh dari pantai itu kita dapat berjalan dan melewati tangga yang tidak begitu banyak lalu turun ke bawah sekitar 15 meter dapat kita temui kolam-kolam yang di buat oleh warga untuk memelihara ikan, dan juga ada beberapa kolam air salobar yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci bagi para warga. Sebagian besar masyarakat Urfu adalah nelayan, mencari ikan. Bahkan kami menjumpai seorang anak dengan membawa ikan kecil yang sudah mati. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, memang adakalanya di pantai dapat di jumpai ikan - ikan yang sudah mati.

Ketika memasuki daerah pemukiman desa Urfu, sambutan dengan penuh kehangatan dan keramahan terlihat pada wajah penduduk Urfu. Wajah polos terpancar dari anak - anak di desa Urfu. Pengalaman yang menyenangkan dan selalu membekas di hati. Mengajak kita untuk kembali datang ke desa ini.

Urfu kaya panorama, masyarakat yang ramah dan hal-hal lain yang membuat desa ini menjadi begitu spesial dan layak untuk di kunjungi. (BeritaDaerah)

Kabui, Miniatur Ikon Raja Ampat yang Lebih Murah

WAISAI (RAJA AMPAT) - Pulau Wayag tersohor di kalangan wisatawan mancanegara sebagai ikon wisata Raja Ampat, Papua Barat. Bila destinasi ini sulit dijangkau, ada Teluk Kabui sebagai miniaturnya.

Landskap keras dari tebing dan berbukitan itu menjulang tinggi. Corak yang beraneka ragam dan unik menjadikan panorama tersendiri, yang bakal memanjakan mata siapapun didekatnya.

Hijaunya vegetasi di tumpukan pulau-pulau yang tersebar menjadi kamuflase yang sempurna seakan membungkus ratusan gugusan tebing berbentuk kerucut yang menyerupai pulau-pulau kecil. Itulah Teluk Kabui, orang menyebutnya sebagai miniatur Pulau Wayag, ikon eksotik di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.

Teluk Kabui menjadi alternatif untuk wisatawan bisa menikmati surga terakhir di dunia itu. Pasalnya, jarak yang harus ditempuh menuju Pulau Wayag cukup jauh memakan waktu tiga jam, menggunakan perahu cepat. Belum lagi ongkosnya yang mahal, antara Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk sekali jalan.

Nah, bagaimana caranya Anda bisa sampai ke Teluk Kabui? Tempat ini bisa Anda capai dengan menyewa perahu cepat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Harga sewa perahu sekira Rp2 juta sampai Rp2,5 juta untuk delapan orang, jauh lebih murah ketimbang ke Pulau Wayag. Sementara, perjalanan hanya ditempuh sekira 45-60 menit, tergantung kondisi cuaca.

Di Teluk Kabui, terdapat ratusan pulau kecil yang menyembul dari dasar laut. Anda bisa melakukan kegiatan, seperti diving, snorkeling, caving, atau sekadar bercengkerama dengan ikan-ikan yang begitu jelas terlihat dari permukaan.

Beruntung, Okezone dapat melihat langsung dengan kondisi alam yang begitu bersahabat, ombak seakan menyambut dengan ketenangannya. Sehingga, siapapun yang datang akan langsung menikmati keindahan dan kehijauan panorama alam di Teluk Kabui.

Satu yang menjadi ciri khas destinasi yang terletak antara Pulau Waigeo dan Pulau Gam itu adalah berdirinya puluhan pulau karang yang tersebar begitu cantik. Pulau-pulau karang ini memiliki ukuran bermacam-macam, mulai yang kecil hingga besar.

“Di sinilah yang membedakan Bunaken di Manado dengan Raja Ampat, yakni batu-batu karang yang besar, tinggi, dan jumlahnya banyak. Batu karang itulah keunggulan dan ciri khas di Raja Ampat,” kata Weraldus Wae, warga setempat yang juga pemandu wisata.

Di tempat ini juga, Kata Weraldus, selain menikmati perairan yang dangkal dan jernih, batu karang yang menonjol, wisatawan juga bisa menikmati keindahan pasir timbul yang terletak di tengah-tengah laut. “Pasir itu muncul hanya sesaat, terutama saat cuaca bagus dan ombak laut tidak pasang,” jelasnya.

Keindahan Teluk Kabui inilah yang oleh orang sekitar menyebutnya sebagai surga terakhir miniatur Pulau Wayag. “Raja Ampat juga memilki tempat wisata lain yang tak kalah hebat, yakni Pulau Mayalibit dan Desa Wisata Arborek,” kata Weraldus menutup pembicaraan. (Okezone)

Selasa, 11 Desember 2012

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

BIAK (BIAK) Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan. (MTV)

Senin, 07 November 2011

Manokwari, Tujuan Wisata untuk Para Pecinta Alam

MANOKWARI - Tak hanya melimpah hasil sumber daya alamnya, bumi Papua menyimpan keunikan dan panorama alam yang luar biasa. Destinasi wisata bahari di Kabupaten Manokwari, masih terjaga keasliannya, menarik untuk dinikmati para pecinta keindahan alam. Ada tiga tempat wisata pantai yang layak dinikmati oleh para pelancong yakni Pantai Pasir Putih, Pantai Bakaro dan Pantai Aipiri. Pantai Pasir Putih terletak di Kampung Pasir Putih,

Distrik Manokwari Timur, hanya perlu waktu 15 menit dapat di jangkau dengan kendaraan dari kota Manokwari, Ibu Kota Papua Barat. Sepanjang mata memandang, pasirnya putih, airnya bening, sehingga anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua berlama-lama mandi. Pantai ini menjadi pi

lihan warga kota untuk melepas penat di kala libur akhir pekan dan libur nasional.

Tak kalah menariknya adalah Pantai Bakaro. Letak pantai ini di kampung Pasirindo, Distrik Manokwari Timur, hanya lebih kurang 5-6 km kearah timur dari kota Manokwari, sayangnya akses jalan yang sempit sudah rusak, tak kunjung diperbaiki, sehingga para pengunjung perlu ekstra hati-hati.

Daya tarik pantai, selain mempesona, debur ombaknya besar, ada potensi wisata yang langka yakni pemanggilan iklan yang biasa dilakukan oleh sesepuh kampung, yang kenal sebagai "Pawang", Lucas Barayap menggunakan sebuah sumpritan atau peluit khusus. Saat Lucas memanggil dengan peluit ajaibnya, maka hanya hitungan menit ribuan ikan besar dan kecil mendekat ke pinggir pantai untuk disaksikan para wisatawan.

Di pantai Bakaro sudah dikembangkan pengelolaannya dengan pihak swasta. "Pak Mamad Suaedi telah membangun Bakaro Beach yang dilengkapi kolam renang dan fasilitas pendukung lainnya serta penginapan," kata Pendamping Kelompok Desa Wisata Bakaro Agutinus S.

Pantai Aipiri terletak di Kampung Aipiri, Distrik Manokwari Timur. Untuk sampai ke pantai ini menempuh jarak lebih kurang 7 Km dari kota Manokwari. Pantai ini indah dipandang, hamparan pasirnya bersih, ombaknya besar karena merupakan pesisir laut Pasific.

Pantai ini berpotensi untuk kegiatan selancar bagi para wisatawan luar negeri. Sayangnya, fasilitas penunjang untuk menarik wisatawan belum ada sama sekali. Di pantai Pasir Putih, terlihat sampah berserakan, yang dibuang secara sembarangan oleh para pengunjung dan masyarakat setempat.

Tak pelak, hamparan pasir putih di pantai ini menjadi kotor. Beruntung ada sejumlah aktifis mahasiswa Universita Negeri Papua (Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia) yang memiliki jiwa sadar Sapta Pesona, sehingga mau membersihkan pantai. "Ya kita membersihkan pantai ini sendiri karena besok (Minggu, 30 Oktober 2011) dijadikan tempat kegiatan Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia," ucap Sheilla Tarami, mahasiswa Universitas Negeri Papua (Unipa).

Sheilla mengusulkan agar di pantai Pasar Putih ada petugas kebersihan pantai, petugas keamanan, perlu dibangun tempat sampah, WC umum, dan penjaga pantai, karena pada saat pengunjung membludak, pernah ada pengunjung (anak kecil) yang tewas tenggelam.Tak diragukan lagi keindahan tiga pantai ini, namun sekali lagi, sarana dan prasarana pendukung masih sangat terbatas.

Belum dikembangkan secara serius, sehingga pantai sebagai tujuan wisata lokal dan manca negara unggulan belum terwujud. "Tiga distinasi pariwisata pantai ini akan kita kembangkan secara serius mulai tahun 2012.

Sudah dialokasikan anggaran dari Anggaran Pendapat dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Manokwari dan APBD Provinsi Papu Barat untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar tiga pantai ini dapat menarik minat para wisatawan," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manokwari Yusak Wabiya.

Pihaknya, kata Yusak juga telah mengajukan bantuan dana untuk pemberdayaan masyarakat desa wisata kepada Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. "Kita mengajukan 10 desa wisata untuk memperoleh bantuan dana dari Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tetapi baru tiga desa yang disetujui akan mendapatkan dana pemberdayaan masyarakat desa wisata yakni Kampung Pasir Putih, Kampung Bakaro dan Kampung Aipiri. Kita ingin dana ini bermanfaat untuk mendorong usaha masyarakat, agar mereka mampu mengembangkan usahanya, meningkatkan kesejahteraannya," kata Yusak Wabiya menambahkan.

Pada tahun 2011, di Desa (Kampung) Wisata Pasir Putih,Kampung Bakaro, dan Kampung Aipiri masing-masing akan memperoleh bantuan pemberdayaan masyarakat desa wisata sebesar Rp 80 juta. Bantuan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha seperti penjualan souvenir, hasil laut dan kuliner bagi para pengunjung.

Terkait pengembangkan dan peningkatan potensi distinasi pariwisata, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Drs Bakri MM, seperti disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Media Cetak & Elektronik Yuyanti mengatakan, jiwa Sapta Pesona di kalangan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), harus terus ditingkatkan.

"Sebab, Pokdarwis menjadi ujung tombak keberhasilan desa wisata atau objek wisata. Artinya, jika objek yang dikelola tersebut menerapkan Sapta Pesona, maka dipastikan wisatawan akan ketagihan berkunjung ke objek wisata tersebut dan sebaliknya jika Sapta Pesona tidak diimplementasikan hasilnya akan kontraproduktif," ujar Yuyanti.

Partisipasi para mahasiswa Unipa membersihkan sampah di pantai Pasir Putih pantas menjadi contoh, bagi pelajar dan masyarakat di Manokwari. "Kita sedih sekali melihat pantai ini kotor karena banyak pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Ini sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi nyatanya belum menjadi kegiasaan," kata Yuyanti menambahkan. (Suara Karya)

Eceng Gondok Gerogoti Danau Paniai

ENAROTALI (PANIAI) — Selama tidak ada kegiatan pembersihan hingga pemusnahan dan pengerukan, lama atau cepat Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) bakal menutupi sebagian Danau Paniai. Tumbuhan liar yang mulai berkembang sejak lima tahun lalu itu kini nyaris menghiasi pinggiran danau, tepatnya di sekitar Dermaga Aikai.

Tanaman eceng gondok sebenarnya bukan tidak berguna. Ia bisa dimanfaat untuk menghasilkan berbagai barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Di Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, warga di sana mengolahnya menjadi sendal, taplak meja, hiasan dinding, dompet, kertas seni, dan banyak jenis handycraft lainnya. Usaha kerajinan eceng gondok tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Hasilnya ternyata sudah merambah ke pasar ekspor di Eropa dan Timur Tengah.

Di Merauke, beberapa perempuan Marind membentuk satu kelompok kerajinan tangan dengan berbahan eceng gondok. Tanaman tersebut tidak susah didapat.

Di Paniai, usaha begitu belum ada. Bahkan tidak banyak yang mengenal manfaat eceng gondok. Karena itu, tak heran jika masyarakat dalam beberapa kesempatan mendesak pemerin-tah daerah segera memusnahkan tanaman yang sudah ‘hadir’ di pekarangan rumah-rumah penduduk di tepian Danau Paniai. “Pemerintah daerah harus musnahkan eceng gondok yang sekarang ada tumbuh di pinggir Danau Paniai. Kalau dibiarkan, nanti danau penuh dengan tumbuhan liar itu,” ujar Yan Pigai.

Sudah beberapa kali ia menyampaikan persoalan ini ke pihak Eksekutif dan Legislatif. “Tapi tidak pernah ada respon,” kesal Yan. Rencana pember-sihanpun batal. “Kalau peme-rintah sempat akomodir, kitong sudah bersihkan dari dulu.” Seharusnya instansi teknis memprogramkan pembersihan Danau Paniai dari ancaman eceng gondok.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Paniai, Barnabas Gobai mengaku terkendala dengan banyaknya usulan kegiatan. Eceng gondok baru dibersihkan masyarakat difasilitasi instansi yang dipimpinnya. “Tahun-tahun kemarin belum bisa bersihkan rumput eceng gondok secara keseluruhan. Hanya sekali dibersihkan dengan membentuk kelompok kerja. Pembersihan-nya dilakukan oleh masyarakat di Aikai, Ibumoma dan Kebo,” paparnya.

Barnabas Gobai yakin, tana-man berbunga cantik yang saban hari tumbuh subur pasti berimbas pada ekosistem di Danau Paniai. Selain bikin kotor danau, juga akan mengganggu arus transportasi danau, perahu dan speedboat. Bahkan eceng gondok juga bisa mempercepat proses pendangkalan danau.
Karenanya harus dibersihkan sekaligus dimusnahkan. Meski tergolong tumbuhan air berb-ahaya, di sisi lain ada kegunaan jika diambil batangnya dibuat tali, sampahnya bisa dijadikan pupuk.
“Sudah programkan pada tahun anggaran ini, jadi kita akan bersihkan,” janji Barnabas.

Lokasi sekitar Danau Paniai yang ditumbuhi Eceng Gondok antara lain di Distrik Paniai Timur, Distrik Kebo dan Distrik Paniai Barat. Di Kampung Aikai, Ibumoma, Weyabado, Dagouto, Agabado, Waneuwo, Kagupagu, Yagai dan Obano banyak ditumbuhi rumput liar ini.

Danau Paniai yang luasnya 14.500 hektare terletak di ketinggian 1.700 meter diatas permukaan laut, tergolong danau purbakala. Di danau ini terdapat berbagai jenis ikan air tawar, termasuk ikan pelangi (rainbow/melanotaenia ayama-ruensis) yang konon memiliki nilai jual tinggi.

Awalnya, Danau Paniai dengan dua danau lainnya, Danau Tigi (luasnya 5.000 ha) dan Danau Tage (luasnya 3.400 ha) disebut Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali menemukan ketiga danau itu pada tahun 1937, Ir. F.J Wissel, seorang pilot berkebangsaan Belanda. Kala itu Wissel ter-bang dari Manokwari melintasi pegunungan dan melihat tiga danau indah.

Terpesona dengan keindahan-nya, Wissel memutuskan untuk mendarat dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut. Di jaman Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren berasal dari bahasa Belanda yang artinya Danau-danau Wissel.

Danau Paniai diakui sebagai danau purbakala oleh utusan dari 157 negara peserta ‘The 12th World Lakes Conference’ (Konferensi Danau se-Dunia) yang dihelat di Rajasthan, India (28 Oktober - 2 November 2007).

Pesonanya panorama alam dengan udaranya yang sejuk, menjadi daya tarik tersendiri. Memikat hati wisatawan. Bebe-rapa obyek wisata alam, selain tiga danau itu, kerapkali dikun-jung wisatawan mancanegara (wisman). Pelancong bisa memilih lokasi sesuai keinginannya ketika berekreasi. Ada bebatuan, pasir di tepian danau, dikelilingi tebing-tebing yang lumayan tinggi, menambah daya tarik obyek wisata di Kabupaten Paniai.
Gubernur Papua, Barnabas Suebu saat pencanangan ‘One Man One Tree’ di Kampung Ipakiye, memuji pesona alam Paniai. Ia menyebut Paniai ada-lah Swiss-nya Indonesia. Paniai cocok dijadikan kota tujuan wisata.

Menjadikan Paniai sebagai tujuan wisata, memang tak mudah. Butuh kerja keras dan dana yang tak sedikit. “Supaya turis bisa sampai di Paniai tentu harus ada transportasi, ako-modasi, juga obyek yang mau dijual.”
Pembangunan jalan poros Timika-Paniai-Deiyai meru-pakan upaya pemerintah menjadikan Paniai sebagai pusat wisata. Ini akan mempermudah hadirnya wisatawan, di sisi lain mendukung akses pasar masyarakat antar kabupaten.

Sayangnya, Danau Paniai kian rusak dengan menjamurnya bangunan kumuh. Rumah dan kios dibangun di pinggir dan di atas danau.

Bupati Paniai, Naftali Yogi sampai marah melihat pemandangan kumuh. “Bangu-nan-bangunan itu bikin jelek pemandangan,”tuturnya geram. Hingga kini bangunannya masih berdiri kokoh. Tragisnya, kebersihan lingkungan tak diperhatikan.(Jubi)

Sagu, Tanaman Pangan yang Tahan Perubahan Lingkungan

JAYAPURA — Sagu termasuk salah satu tanaman sumber pangan yang tahan terhadap perubahan iklim dan hama. Sehingga tanaman pangan yang menjadi makanan asli masyarakat Papua ini, perlu dilindungi semua pihak.

“Saya melihat sagu termasuk tanaman pangan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, berbeda dengan tanaman sumber pangan lain yang sangat rentan,” kata Lindon Pangkali, salah satu pemerhati lingkungan hidup Papua, yang juga mantan Koordinator Forest Watch Region Papua kepad ya berpasir dan berlumpur, akan membuat tepung sagu kotor. Karena itu biasa kalau kitong mau ramas sagu, cari air yang bersih dan bukan di kali atau sungai kecil, yang airnya bergerak tapi air yang tenang,” katanya.

Dia menambahkan, sekarang ini kalau mau pangkur sagu sudah sulit karena kali atau sungai kecil sudah tak jernih seperti dulu lagi.

Para pakar menyebutkan sagu (Metroxylon spp.) merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati tumbuhan asli Asia Tenggara, yang tumbuh secara alami di dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah.

Sedangkan Indonesia termasuk negara yang memiliki luasan hampir 50 persen dari sagu dunia dan 85 persen, diantaranya terdapat di Papua yang tersebar di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan beberapa daerah yang belum terinventarisasi.


Para pakar telah mengindentfikasi sebanyak 51 jenis sagu di Papua dengan berbagai keragaman kualitas telah teridentifikasi. Keragaman itu merupakan sumber plasma nutfah yang harus dilestarikan karena berpotensi sebagai sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman sagu di masa mendatang untuk mendapatkan varietas-varietas unggul.

Selain sagu, berbagai jenis pohon kayu-kayuan seperti kayu hitam (Diospyros sp.), matoa (Pometia pinnata), terentang (Campnosperma sp.) dan jenis-jenis tanaman pioneer tumbuh di hutan sagu. (Tabloid Jubi)

Objek Wisata di Kota Sorong Terkendala Kurangnya Dukungan Infrastruktur

KOTA SORONG - Objek wisata Kota Sorong tidak kalah indahnya dengan yang ada di Kabupaten Raja Ampat. Misalnya, objek wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari dan sekitarnya. Namun sayangnya, daerah tujuan wisata yang berlokasi di daerah pinggiran kota itu hingga sekarang belum didukung infrastruktur yang representatif.

Tahun 2011 ini ada peningkatan ruas jalan ke lokasi wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari sekitar 15 km dari pusat Kota Sorong. Namun, yang dikerjakan lewat program semeninasi hanya sekitar 1,5 km saja.

"Seperti diketahui, objek wisata di Saoka hingga Tanjung Kasuari memiliki keindahan pantai pasir putih dihiasi bebatuan hitam. Daerah perairan itu cantik karena airnya yang bersih dan jernih. Para pengunjung, umumnya dari seluruh wilayah Kepala Burung dan wisatawan, apabila berkunjung ke Kota Sorong, rasanya belum puas jika tidak berkunjung ke Saoka dan Tanjung Kasuari untuk piknik," kata Wem, salah seorangwarga Saoka, kepada pers di Sorong kemarin.

Dikatakan Wem, selama ini ruas jalan dari Kota Sorong ke lokasi wisata tersebut tak didukung infrastruktur jalan yang memadai. Baru tahun 2011 ini, melalui APBN, ruas jalan itu disemen dan itu pun baru 1,5 km. Karena itu, masyarakat minta kepada pemerintah pusat agar tahun 2011 dan selanjutnya proyek semenisasi itu diadakan terus agar membantu mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan wisata pantai itu.

Menurut Wem, jalan Saoka-Sorong ini juga merupakan akses ke jalan trans-Papua Barat. Antara lain, di ruas jalan itu nanti akan menghubungkan Kota Sorong dengan Kabupaten Tambrau melalui Sausapor (ibu kota sementara Kabupaten Tambrauw).

Wali Kota Sorong, Drs JA Jumame, MM, membenarkan bahwa warga pedalaman setempat minta pemerintah dapat meneruskan proyek semenisasi Kota Sorong ke Saoka itu bukan tahun ini saja, melainkan akan berlanjut tahun-tahun datang. Melalui ruas jalan itu, menurut Jumame, terdapat banyak objek wisata sama yang dengan di Kepulauan Raja Ampat. Bahkan lebih karena wisatawan, ketika turun dari pesawat, langsung ke objek wisata tanpa harus melalui laut yang melelahkan.

Di Sorong sendiri terdapat banyak objek wisata, seperti di Pulau Buaya, Pulau Sof, dan Pulau Doom. Tiga pulau itu memiliki objek wisata laut dengan karang-karang yang indah sebab belum dijamah manusia dengan bom ikan, karena berada di pusat Kota Sorong.

Keindahan tiga pulau itu akan kian terasa apabila para wisatawan mandi maupun menikmati alam bawah laut, yang dihuni jutaan ikan besar dan kecil dengan aneka warna yang menyejukkan mata. Lokasi itu mudah dijangkau dalam waktu 10-15 menit dari pusat kota. Saat ini sudah dinikmati sejumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Sorong.

Keunggulan lain dari berwisata di Kota Sorong adalah di kota itu telah tumbuh hotel-hotel kelas menengah ke atas. "Jadi, para wisatawan bisa berwisata ke lokasi-lokasi wisata setempat dari siang hingga sore dan pulang langsung masuk hotel," kata Jumame. (Suara Karya)

Info Menarik