Tampilkan postingan dengan label kota jayapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota jayapura. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2013

Potensi Daerah Belum Terekspos jadi Penyebab Kurangnya Investasi di Papua

JAYAPURA - Penjabat Gubernur Provinsi Papua, drh. Constant Karma menilai belum diliriknya Papua sebagai daerah investasi oleh para investor lebih disebabkan oleh belum tereksposnya potensi daerah secara mendunia.

Padahal provinsi tertimur di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar tiga juta jiwa ini, mempunyai kekayaan alam melimpah baik di daratan maupun dilautan. Oleh karena itu, lanjut dia, kekayaan alam di Papua perlu lebih banyak dipromosikan ke luar supaya para investor bisa melirik serta mengetahui potensi apa yang dapat "digarap" guan mendukung pertumbuhan perekonomian daerah.

"Jadi sampai saat ini belum banyak yang berinvestasi di Papua dan itu dikarenakan mereka belum tahu akan potensi yang dimiliki kita. Maka itu potensi Papua perlu lebih dipromosikan supaya bisa diketahui oleh orang luar termasuk para investor," kata Gubernur Constant Karma kepada wartawan, di Jayapura, kemarin. Dia mengatakan, sebenarnya bila daerah ini menarik banyak investasi, maka sudah pasti akan pula menyedot banyak lahan kerja, sementara angka pengangguran akan bisa ditekan.

"Kalau saya beri contoh, misalnya seperti Tonasa dia ingin bangun semen curah di daerah Depapre. Bila rencana ini terwujud maka sudah pasti harga semen bisa turun sampai dengan 30 persen. Belum lagi akan banyak membutuhkan karyawan dan ini tentunya bisa mengurangi angka pengangguran," katanya.

Ditanya mengenai kekhawatiran investor kaitannya dengan masalah hak ulayat tanah yang terkadang sangat berbelit-belit, jawab Karma, hal tersebut bisa diselesaikan dengan melakukan pendekatakan baik secara kekeluargaan maupun adat, sebab sebagian besar investor yang sudah lebih dulu memanamkan modalnya di Papua bisa keluar dari masalah rumit tersebut.

"Ada banyak contoh kan seperti yang sudah kita lihat di depan mata kita baik investor yang ada di Kota Jayapura maupun di daerah lainnya di Papua. Contoh di Jayapura sudah ada mall besar-besar kan. Ya, memang para investor harus sabar menghadapai para tokoh-tokoh, kepala suku, dan tentu harus berdialog dengan mereka sampai final baru lepas uang. Kalau buru-buru tidak bisa maka mesti pelan-pelan, bahkan sampai butuh waktu berbulan-bulan. Tidak apa kan yang penting semuanya selesai.," tukas dia. [PemprovPapua]

Kunjungan Wisatawan Meningkat, Meski Kerap Terjadi Penembakan di Papua

JAYAPURA - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua mengumumkan sepanjang tahun 2012, kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara di bumi cenderawasih mengalami kenaikan yang cukup signifikan meski pada tahun yang lalu kerap terjadi penembakan diberbagai wilayah.

Hal tersebut sebagaimana diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Wim CH Rumbino, saat diwawancara pers dalam satu kesempatan, kemarin.Sayangnya, Rumbino tak menjelaskan secara spesifik mengapa kunjungan wisawatan meningkat meski terjadi sejumlah aksi  penembakan tersebut yang hampir memperburuk citra Papua dimata dunia.

"Jadi, penembakan maupun aksi demonstrasi di tahun 2012 tidak benar-benar memengaruhi kunjungan wisatawan. Sebab kunjungan di kemarin justru mengalami peningkatan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebagaimana data yang berhasil dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, ada kurang lebih sebanyak 12 ribu wisatawan yang berkunjung ke provinsi tertimur di Indonesia ini. Kunjungan para turis lokal maupun manca negara ini terbagi dalam bentuk perorangan maupun kelompok.

Sementara para turis dari luar negeri yang berkunjung ke Papua lebih didominasi dari benua Asia, yakni dari negara Jepang dan Cina, sementara turis Eropa berasal dari Itali.Masih menurut Rumbino, selain kunjungan secara perorangan dan kelompok, ada juga kunjungan wisatawan manca negara yang dengan menggunakan kapal pesiar.

“Bayangkan kunjungan dengan kapal pesiar itu setiap tahun pasti ada yang datang dan mereka dalam jumlah yang banyak,” katanya.Ditambahkan dia, dengan adanya promosi Papua melalui  pameran expo Papua pada bulan April mendatang di Jakarta, maka pihaknya akan memanfaatkan momentum tersebut untuk lebih menjual pariwisata Papua ke dunia luar.

Dengan harapan kunjungan para turis manca negara maupun lokal akan bisa lebih meningkat sehingga bisa menambah Pajak Asli Daerah (PAD) Papua serta menumbuhkan iklim kepariwisataan Papua yang saat ini sudah mulai dikenal dunia luar.

“Maka itu, kedepan perlu juga kita tawarkan paket-paket perjalanan murah ke Papua melalui internet. Dan memang pasti akan bisa menarik banyak turis sebab masih terjadi penembakan saja turis tetap berdatangan. Apalagi kalau situasi kondusif ditambah promosi yang tepat pasti akan lebih meningkatkan kunjungan wisatawan ke sini,” tutupnya. [PemprovPapua]

Senin, 24 Desember 2012

Lukisan Kulit Kayu Kombouw Sentani Berpotensi Susul Noken

JAYAPURA - Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan budaya dunia dan mendapat pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) seperti noken, mengingat lukisan itu hanya ada dikalangan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura. Titus Pekei, Peneliti Ekologi dan Penggagas Noken Papua, Warisan Budaya Takbenda mengatakan, sepanjang ada orang yang benar-benar mendalami makna dan lukisan kulit kayu, maka tidak menutup kemungkinan akan mendapat pengakuan dunia sama seperti noken.

“Bisa saja, sepanjang ada orang yang mendalami maknanya. Misalnya khas dan nilai yang tak tergantikan yang terkandung dalam lukisan kulit kayu dan itutidak ada di tempat lain. Lukisan kulit kayu kan adalah perpaudan kreasi alam dengan menusia. Tapi memang tetapi harus dikaji lebih dalam. Karena lukisan yang ada di kulit kayu seperti binatang atau gambar lainnya menggambarkan kondisi alam. Jadi saya menilai lukisan kulit kayu juga punya potensi untuk mengikuti jejak noken,” kata Titus Pekei, Selasa (18/12).

Menurutnya, selain lukisan kulit kayu, masih banyak warisan budaya lainnya dari Papua yang bisa didorong untuk mendapat pengakuan UNESCO seperti patung Asmat atau tarian Yospan.

“Kedepan harus diidentifikasi lagi apa saja yang bisa direkomendasikan dari Papua. Banyak langkah yang bisa kita tempuh untuk mencari pengakuan budaya Papua. Meski itu tidak mudah. Untuk noken sendiri sejak 2008 lalu saya sudah mulai menyusun kerangka berpikir mengenai ketika beberapa budaya Indonesia seperti batik dan keris masuk UNESCO. Saya memikirkan bagaimana kalau noken digagas ke UNESCO. Lalu saya sampaikan ini ke beberapa pihak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala yang ditemui saat memperjuangkan noken Papua menjadi warisan budaya duni adalah adalah membangun pemahaman bahwa noken adalah budaya yang sudah diyakini masyarakat Papua. Selain itu untuk membawanya ke dunia internasional harus malalui beberapa syarat termasuk uji kelayakan.

“Namun pada akhirnya saya bangga karena noken sudah bisa diakui dunia dan orang lain seperti bisa mengerti dan memahi noken itu apa. Semoga kedepannya noken dari setiap suku digali dan diselamatkan oleh suku itu sendiri. Dalami dan kenalilah identitas budayamu, jangan mengatas namakan budaya orang lain, karena noken dihasilkan mama Papua lewat imajinasi dan perasaan. Ada banyak nilai yang terkadung dalam noken. Nilai budaya, sosial, kehidupan serta beberapa hal lainnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan dimasa lalu, beberapa daerah di Papua setiap noken yang digunakan seseorang memiliki makna tertentu dan mengambarkan identitas diri orang tersebut. “Dahulu di Sentani ada noken yang memiliki empat manik-manik dan orang yang makai itu artinya, orang yang derajatnya di atas. Noken dari anggrek di Paniai sama halnya.Orang yang menggunakan itu dijaman dulu hanya orang berada atau tingkat ekonomi dan martabatnya di atas,” jelasnya.

Untuk itu lanjut dia, semua orang yang ada di Papua harus mengenali kembali nilai yang terkandung di dalam noken. Apalgi sekarang di Papua sudah jarang orang menggunakan noken, sehingga lambat laun mereka tidak akan mengenal lagi nilai-nilai budaya yang menjinakkan manusia Papua.

“Noken semestinya kembali menyadarkan manusia Papua apa yang menjadi hak mereka dan mana yang bukan. Harapan dan target saya, saya akan kampanyekan noken di mana setiap kali pelantikan gubernur/bupati/wali kota maka kepala sukunya harus membawa noken suku atau daerah masing-masing. Misalnya dari Sentani maka harus membawa noken khas Sentani. Ini bukan membedakan atau membuat jarak tapi menjiwai tugas dan tanggung jawab. Itulah alasannya kenapa Noken diterima UNESCO karena noken punya nilai-nilai yang cukup tinggi serta sejarah yang panjang. Noken tidak bisa digantikan dengan noken lain. Pemda juga harus kembali mengenai semua wasian budaya yang ada di Papua. Cukup banyak sebenarnya hanya kita yang sering malas tahu,” tutup Titus Pekei. (Jubi)

Senin, 07 November 2011

Black Sweet : Band Anak Jayapura yang Sukses di Jakarta

JAYAPURA - Berawal dari dua band yang berbeda, band Cenderawasih di bawah asuhan TNI Angkatan Darat dan band Universitas Cenderawasih yang personelnya para mahasiswa di kampus tersebut. Sekitar tahun 1977 di Jayapura, mulailah mereka mencoba untuk mencipta lagu, beberapa di antaranya Memory 3 Februari dan Rintihan Sebuah Lagu, serta sebuah lagu ciptaan Harry Letsoin bertajuk Smile.

Lagu-lagu itu mendapat sambutan hangat dalam setiap pentasnya, sehingga begitu digemari masyarakat kota Jayapura. Atas dasar itu pula mereka berencana untuk lebih serius lagi dalam bermusik. Dan ini menjadikan sebuah pergulatan batin yang luar biasa ketika mereka harus memutuskan tetap melanjutkan kuliah yang hanya tinggal satu semester lagi menjadi sarjana atau pergi ke Jakarta untuk meraih cita-cita bermusik. Dengan pertimbangan matang, mereka memutuskan untuk tetap bermusik. Dengan formasi awal, yaitu Steven Letsoin (lead guitar), Harry Letsoin (bass), Gerald F Tethool (keyboard), Jhon Keff (drum), dan Ian Ulukyanan (lead vokal)

Mengadu Nasib ke Jakarta
Bermodalkan kemampuan bermusik yang tinggi dan uang saku dari Steven Letsoin yang didapat dari mengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Cenderawasih, mereka pun bertolak menuju Jakarta untuk menggapai mimpinya sebagai pemusik. Mereka menumpang kapal laut/kapal barang dengan perjalanan hampir dua puluh hari lamanya.

Pada 31 Desember 1981 di Jakarta, secara resmi nama Black Sweet diproklamasikan dengan merekrut beberapa anggota baru, yakni Amry M Kahar (saxophone), Karim Assor (terompet), dan Iskandar Assor (terompet), yang tidak lain adalah mantan anggota band Black Brother.

Dalam strategi pemasarannya, mereka mencoba menawarkan lagu-lagunya ke beberapa perusahaan rekaman. Album pertama pun beredar dengan mengusung lagu Rintihan Sebuah Hati ciptaan Letsoin dan Pusaka tak Bernama ciptaan Sam Kapissa. Album yang berisikan 12 lagu ini mendapat sambutan dari masyarakat luas. Dengan sendirinya nama Black Sweet mulai terangkat kepermukaan khasanah musik Indonesia.

Pada periode 80-an, Black Sweet menyelesaikan tiga album pop Indonesia, album rohani dan album lagu-lagu daerah nusantara. Di antara lagu-lagu tersebut ada lagu ciptaan Steven Letsoin yaitu Akhir Sebuah Kisah Lalu yang masuk dalam tangga lagu-lagu nasional pada saat itu.

Kontrak Baru
Pada tahun 1984, Black Sweet menandatangani kontrak baru dengan Pratama Record dan merilis dau album, yaitu Christie dan Ayah Ibu. Peluncuran kedua album ini disusul dengan pergantian personel di kelompok Black Sweet dengan keluarnya Amry dan Iskandar. Posisi mereka digantikan oleh Albert Sumlang. Dengan formasi inilah Black Sweet mulai mendapatkan tawaran untuk tampil di pub atau cafe, dan ini dijalaninya selama tujuh tahun.

Sempat menghilang beberapa saat dari dunia musik tidak menyurutkan tekad Black Sweet untuk membuat album baru. Dengan menggandeng Duba Record mereka pun melahirkan album dan beberapa lagunya menjadi hit, di antaranya bertajuk Kau, Aku dan Dia. Beberapa album daerah juga album rohani dikeluarkan bersama Duba Rekord.

Tahun 1995, perubahan formasi kembali terjadi dengan masuknya Anto Sax pada saxophone dan Iche Fofied pada bass. Formasi ini sangat produktif memproduksi album rekaman dan juga beberapa kompilasi lagu-lagu dari album-album awal Black Sweet. Posisi ini bertahan sampai sekarang walaupun tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan musisi lain.

Black Sweet juga ikut berperan serta dalam mempromosikan daerah Boven Digoel dalam rangka mandukung program pemerintah dalam hal pariwisata. Maka keluarlah VCD Black Sweet vol 1 dan 2.

Memang musik Black Sweet identik dengan musik pop melankolis dan salah seorang personilnya, Harry Letsoin, juga mengarasemen serta menciptakan lagu untuk artis lain. Grup ini juga membawa penyanyi Indonesia untuk konser ke luar negeri sebagai wakil budaya atau undangan event organizier dari luar negeri.

Dari uratan wajah mereka yang sudah menua dan masih melakukan show di beberpa tempat, mereka terlihat puas. Dari hasil bermusik, mereka dapat membiayai anak-anak mereka sampai jenjang mahasiswa, menginggat awal karier musik mereka yang penuh perjuangan dan meninggalkan kerja sebagai dosen dan bangku kuliah demi musik. (Jubi)

DISKOGRAFI
Album :
1. Pusara Tak Bernama (Vol 1/Pop) Dm/Pelangi 1979
2. Akhir Sebuah Kisah (Vol 3/Pop) Dm/Ar 1981
3. Terlambat Sudah (Pop Indonesia) Duba 1994
4. Nona Si Jantung Hati (Daerah Papua/Maluku) Duba 2001
5. Lestari, Dm/Virgo 1984

Persipura : Jangan Ancam Kami

JAYAPURA - Adanya pernyaatan dari Deputi Bidang Kompetisi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Saleh Ismail Mukadar yang menyebutkan, jika memang Persipura tidak secepatnya menentukan pilihan akan mengikuti kompetisi yang mana. Maka, akan ditinggal dan tidak akan diikutkan dalam kompetisi yang digelar PSSI mendapat reaksi dari kubu tim Mutiara Hitam.

Ketua Umum Persipura, Benhur Tommy Mano menegaskan agar PSSI tidak mengancam Persipura. “Jadi jangan mengancam kami. Kami bukan klub yang baru dibentuk, namun kami ini sudah lama berkiprah di sepak bola Indonesia,” kata Tommy Mano, Senin 31 Oktober 2011.

Pada dasarnya Persipura selalu siap mengikuti kompetisi, namun harus benar-benar kompetisi yang resmi. “Dan PT Liga Indonesia (LI) yang musim lalu menggelar kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) sudah disahkan oleh AFC. Sementara PSSI baru saja membentuk badan hukum dan PT. Liga Primer Indonesia Sportindo. Namun kita belum masih tahu jelas apakah sudah disahkan oleh AFC atau tidak,” tandas Tommy Mano.

Sebelumnya, Deputi Bidang Kompetisi PSSI, Saleh Ismail Mukadar kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan ketua umum dan pengurus Persipura, Senin 31 Oktober mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan kepada klub bahwa PSSI akan tegas dalam mengambil sikap. Sehingga jika ada klub yang tidak ikut, maka akan ditinggal dan tidak akan diikutkan dalam kompetisi yang digelar PSSI.

“Jika Persipura tidak ikut, maka maaf saja kami akan tetap melangsungkan Liga. Karena syarat minimal menggelar kompetisi itu 10 peserta sudah bisa dilangsungkan. Dan sekarang sudah ada 17 dengan Persipura. Dan jika saja Persipura keberatan dan Sriwijaya keberatan, maka kami masih punya 15 klub yang bisa ikut kompetisi,” kata Saleh Mukadar. (Jubi)

Sagu, Tanaman Pangan yang Tahan Perubahan Lingkungan

JAYAPURA — Sagu termasuk salah satu tanaman sumber pangan yang tahan terhadap perubahan iklim dan hama. Sehingga tanaman pangan yang menjadi makanan asli masyarakat Papua ini, perlu dilindungi semua pihak.

“Saya melihat sagu termasuk tanaman pangan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, berbeda dengan tanaman sumber pangan lain yang sangat rentan,” kata Lindon Pangkali, salah satu pemerhati lingkungan hidup Papua, yang juga mantan Koordinator Forest Watch Region Papua kepad ya berpasir dan berlumpur, akan membuat tepung sagu kotor. Karena itu biasa kalau kitong mau ramas sagu, cari air yang bersih dan bukan di kali atau sungai kecil, yang airnya bergerak tapi air yang tenang,” katanya.

Dia menambahkan, sekarang ini kalau mau pangkur sagu sudah sulit karena kali atau sungai kecil sudah tak jernih seperti dulu lagi.

Para pakar menyebutkan sagu (Metroxylon spp.) merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati tumbuhan asli Asia Tenggara, yang tumbuh secara alami di dataran atau rawa dengan sumber air yang melimpah.

Sedangkan Indonesia termasuk negara yang memiliki luasan hampir 50 persen dari sagu dunia dan 85 persen, diantaranya terdapat di Papua yang tersebar di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan beberapa daerah yang belum terinventarisasi.


Para pakar telah mengindentfikasi sebanyak 51 jenis sagu di Papua dengan berbagai keragaman kualitas telah teridentifikasi. Keragaman itu merupakan sumber plasma nutfah yang harus dilestarikan karena berpotensi sebagai sumber daya genetik yang dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman sagu di masa mendatang untuk mendapatkan varietas-varietas unggul.

Selain sagu, berbagai jenis pohon kayu-kayuan seperti kayu hitam (Diospyros sp.), matoa (Pometia pinnata), terentang (Campnosperma sp.) dan jenis-jenis tanaman pioneer tumbuh di hutan sagu. (Tabloid Jubi)

Info Menarik