Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Black Sweet : Band Anak Jayapura yang Sukses di Jakarta

JAYAPURA - Berawal dari dua band yang berbeda, band Cenderawasih di bawah asuhan TNI Angkatan Darat dan band Universitas Cenderawasih yang personelnya para mahasiswa di kampus tersebut. Sekitar tahun 1977 di Jayapura, mulailah mereka mencoba untuk mencipta lagu, beberapa di antaranya Memory 3 Februari dan Rintihan Sebuah Lagu, serta sebuah lagu ciptaan Harry Letsoin bertajuk Smile.

Lagu-lagu itu mendapat sambutan hangat dalam setiap pentasnya, sehingga begitu digemari masyarakat kota Jayapura. Atas dasar itu pula mereka berencana untuk lebih serius lagi dalam bermusik. Dan ini menjadikan sebuah pergulatan batin yang luar biasa ketika mereka harus memutuskan tetap melanjutkan kuliah yang hanya tinggal satu semester lagi menjadi sarjana atau pergi ke Jakarta untuk meraih cita-cita bermusik. Dengan pertimbangan matang, mereka memutuskan untuk tetap bermusik. Dengan formasi awal, yaitu Steven Letsoin (lead guitar), Harry Letsoin (bass), Gerald F Tethool (keyboard), Jhon Keff (drum), dan Ian Ulukyanan (lead vokal)

Mengadu Nasib ke Jakarta
Bermodalkan kemampuan bermusik yang tinggi dan uang saku dari Steven Letsoin yang didapat dari mengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Cenderawasih, mereka pun bertolak menuju Jakarta untuk menggapai mimpinya sebagai pemusik. Mereka menumpang kapal laut/kapal barang dengan perjalanan hampir dua puluh hari lamanya.

Pada 31 Desember 1981 di Jakarta, secara resmi nama Black Sweet diproklamasikan dengan merekrut beberapa anggota baru, yakni Amry M Kahar (saxophone), Karim Assor (terompet), dan Iskandar Assor (terompet), yang tidak lain adalah mantan anggota band Black Brother.

Dalam strategi pemasarannya, mereka mencoba menawarkan lagu-lagunya ke beberapa perusahaan rekaman. Album pertama pun beredar dengan mengusung lagu Rintihan Sebuah Hati ciptaan Letsoin dan Pusaka tak Bernama ciptaan Sam Kapissa. Album yang berisikan 12 lagu ini mendapat sambutan dari masyarakat luas. Dengan sendirinya nama Black Sweet mulai terangkat kepermukaan khasanah musik Indonesia.

Pada periode 80-an, Black Sweet menyelesaikan tiga album pop Indonesia, album rohani dan album lagu-lagu daerah nusantara. Di antara lagu-lagu tersebut ada lagu ciptaan Steven Letsoin yaitu Akhir Sebuah Kisah Lalu yang masuk dalam tangga lagu-lagu nasional pada saat itu.

Kontrak Baru
Pada tahun 1984, Black Sweet menandatangani kontrak baru dengan Pratama Record dan merilis dau album, yaitu Christie dan Ayah Ibu. Peluncuran kedua album ini disusul dengan pergantian personel di kelompok Black Sweet dengan keluarnya Amry dan Iskandar. Posisi mereka digantikan oleh Albert Sumlang. Dengan formasi inilah Black Sweet mulai mendapatkan tawaran untuk tampil di pub atau cafe, dan ini dijalaninya selama tujuh tahun.

Sempat menghilang beberapa saat dari dunia musik tidak menyurutkan tekad Black Sweet untuk membuat album baru. Dengan menggandeng Duba Record mereka pun melahirkan album dan beberapa lagunya menjadi hit, di antaranya bertajuk Kau, Aku dan Dia. Beberapa album daerah juga album rohani dikeluarkan bersama Duba Rekord.

Tahun 1995, perubahan formasi kembali terjadi dengan masuknya Anto Sax pada saxophone dan Iche Fofied pada bass. Formasi ini sangat produktif memproduksi album rekaman dan juga beberapa kompilasi lagu-lagu dari album-album awal Black Sweet. Posisi ini bertahan sampai sekarang walaupun tidak menutup kemungkinan berkolaborasi dengan musisi lain.

Black Sweet juga ikut berperan serta dalam mempromosikan daerah Boven Digoel dalam rangka mandukung program pemerintah dalam hal pariwisata. Maka keluarlah VCD Black Sweet vol 1 dan 2.

Memang musik Black Sweet identik dengan musik pop melankolis dan salah seorang personilnya, Harry Letsoin, juga mengarasemen serta menciptakan lagu untuk artis lain. Grup ini juga membawa penyanyi Indonesia untuk konser ke luar negeri sebagai wakil budaya atau undangan event organizier dari luar negeri.

Dari uratan wajah mereka yang sudah menua dan masih melakukan show di beberpa tempat, mereka terlihat puas. Dari hasil bermusik, mereka dapat membiayai anak-anak mereka sampai jenjang mahasiswa, menginggat awal karier musik mereka yang penuh perjuangan dan meninggalkan kerja sebagai dosen dan bangku kuliah demi musik. (Jubi)

DISKOGRAFI
Album :
1. Pusara Tak Bernama (Vol 1/Pop) Dm/Pelangi 1979
2. Akhir Sebuah Kisah (Vol 3/Pop) Dm/Ar 1981
3. Terlambat Sudah (Pop Indonesia) Duba 1994
4. Nona Si Jantung Hati (Daerah Papua/Maluku) Duba 2001
5. Lestari, Dm/Virgo 1984

Yosim Pancar ,Tarian Persahabatan Kontemporer Masyarakat Papua

JAYAPURA — Dua pancar gas, dua pancar keliling kota, kota Jakarta. Dua pancar gas, dua pancar gas kelililing kota, kota Jakarta. Begitulah syair lagu yang sering didendangkan dalam Yosim Pancar di Kampung-kampung di Papua khususnya di Biak Numfor.

Banyak yang tidak mengetahui sejak kapan tarian muda-mudi atau persahabatan dimulai di Papua tetapi tradisi dan budaya suatu masyarakat berkembang sesuai dengan perubahan jaman. Sebenarnya dalam upacara adat tak lepas pula dari tabuhan tifa dan lengkingan suara penari. Misalnya upacara inisiasi bagi para pemuda akil baliq dalam Budaya Biak Numfor. Wor K’bor, upacara inisiasi bagi para pemuda yang telah lulus dari rumah bujang atau Rumsram yang dilakukan selama berminggu-minggu dengan tarian, menyanyi dan tentunya minum saguer (swansrai).

Wor K’bor ini khusus para pemuda Suku Biak pada jaman dulu sebelum masuknya Injil, guna menjalani ritus peralihan di mana bagian ujung alat kelamin para pria muda dipotong atau ditiriskan dengan buluh atau bambu yang halus sebagai simbol menuju ke dunia orang dewasa. (Untuk lebih lengkap soal Wor K’bor bisa dalam Dr JR Mansoben, kumpulan tulisan Prof Dr Koentjaraninggrat, Ritus Peralihan di Indonesia).

Namun demikian menuurut antropolog Dr Enos Rumansara dalam penelitiannya berjudul Tari yosim pancar dan pergeseran nilai religius tari tradisional orang Biak menyebutkan tarian-tarian khas atau yang sakral dari masyarakat Biak Numfor mengalami pergeseran-pergeseran nilai dari tarian religius menjadi tarian-tarian bersifat kontemporer sesuai perkembangan jaman. Kalau masyarakat di Sarmi lebih mengenal tarian lemon nipis, masyarakat di Wamena juga punya sekise. Bagi masyarakat Suku Dani, Mee, Nduga mengenal tarian Tup dan Tem.

Yosim pancar mulanya berasal dari tarian pergaulan masyarakat Yapen Waropen dan Biak. Awalnya tarian ini hanya terdiri dari Yosim dan Pancar. Dalam perkembangannya dua tarian ini digabung menjadi satu, Yosim Pancar.

Sebenarnya jika disimak, tarian-tarian ini bukan tarian khas Papua tetapi paduan antara gerakan khas Papua yang berkembang sesuai peradaban jaman. Atau oleh para pengamat budaya disebut tarian kontemporer. Alat musiknya pun bermacam-macam ada yang asli Papua dan juga dari luar Papua. Hampir kebanyakan anak-anak muda dari Biak Numfor suka membuat gitar, juk dan stand bass dari kayu susu.

Perangkat musik yang digunakan dalam tarian yosim pancar sangat sederhana, terdiri dari uku lele(juk) dan gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat musik stand bass yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua. Alat bass ini ada berbentuk bulat seperti gitar tapi ada pula yang berbentuk kotak. Tak heran kalau ada sentilan yang menyebut para pemegang bas berbentuk kotak alias “bass tahan perasaan (bas tape).” Pemain bass dalam Yosim Pancar menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena pemain bass bisa memetik memakai jari atau juga mengetok-mengetok pakai tangan atau sendal jepit.

Selain tifa sebagai alat perkusi ada juga labu kering yang diisi dengan manik-manik atau batu kerikil yang disebut kalabasa. Alat ini cukup dimainkan dengan cara menggoyang-goyangkan agar bunyi perkusi yang padu dengan bass.

Kalau Yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak biasanya hanya diiringi tifa saja, tifa ini merupakan alat musik gendang khas Papua tradisional di daerah pesisir tanah Papua. Gerakan yosim lebih banyak disesuaikan dengan hentakan tifa dan bass. Pemukul tifa biasa menggerakan badang sambil mengangkat tifa ke udara sambil memegangnya.

Kata Yosim Pancar sendiri mulai muncul saat pesawat bermesin jet mendarat di Biak sekitar 1960 an konflik antara Belanda dan Indonesia. Saat itu banyak pesawat tempur Indonesia MIG buatan Rusia melakukan akrobatik di Bandara Mokmer (sekarang Frans Kaisiepo). Bahkan warga sempat mengarang lagu yosim berjudul dua pancar gas. “ Dua pancar gas, dua pancar gas keliling Kota kota Jakarta.” Gerakan tarian meniru pesawat jet tempur atau pancar gas. Sejak itu sebutan Yosim Pancar mulai menjadi terkenal dalam tarian pergaulan anak-anak muda di Tanah Papua khususnya di Teluk Cenderawasih. (jubi)

Minggu, 06 November 2011

Festival Kreasi Seni Papua XI 2011 Digelar Sebagai Sarana Promosi Pariwisata Daerah

BIAK (BIAK) - Ajang Festival Kreasi Seni Papua 2011 digelar sebagai sarana promosi pariwisata daerah, dengan harapan dapat memperkenalkan berbagai jenis kesenian dan budaya khas asli masyarakat Papua. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Biak Andris Kafiar, Selasa (11/10/2011).

Sedikitnya 600 seniman perwakilan berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Papua mengikuti ajang tersebut. Festival akan berlangsung di Kabupaten Biak Numfor pada 11-15 Oktober 2011.

"Melalui festival kreasi seni diharapkan seniman dapat melestarikan keaslian budaya dan beragam seni asli Papua," harap Andris Kafiar

Ajang Festival Kreasi Seni Papua akan menampilkan delapan jenis perlombaan di antaranya tarian balada Cenderawasih, cerita rakyat, sosio drama, pameran, penataan stand, lagu daerah serta tarian kreasi Papua.

Hingga Senin sore, sedikitnya 20 kabupaten/kota telah menyatakan kesiapan untuk hadir di antaranya kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Jayawaijaya, Supiori, Yapen kepulauan, Waropen, tuan rumah Biak serta beberapa kabupaten pedalaman di provinsi Papua. "Saya harapkan semua jadwal kegiatan festival kreasi seni Papua 2011 di Kabupaten Biak Numfor dapat terlaksana dengan aman dan lancar sesuai agenda panitia penyelenggara," kata Andris.

Menjelang pembukaan festival kreasi seni Papua 2011, situasi kota Biak sekitarnya tampak kondusif. Berbagai kegiatan masyarakat seperti biasanya, di antaranya sekolah, perkantoran swasta dan pemerintah, angkutan taksi, ojek, pelabuhan dan bandara tetap beroperasi melayani kebutuhan masyarakat setempat. (Kompas)

Info Menarik