Tampilkan postingan dengan label yapen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yapen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Robert Sineri, Putra Serui Pencipta Kompor Alternatif Terbaik se-Papua

SERUI (YAPEN) – Robert Sineri adalah salah satu anak asli Papua asal Yapen yang mendapat predikat terbaik dalam mengikuti konfensi gugus kendali mutu kualitas industry masyarakat yang diselenggarakan Dinas Perindak dan UKM Provinsi Papua. Ia menampilkan hasil temuannya, yakni kompor alternatif tanpa Bahan Bakar Minyak (BBM), yang nantinya akan mewakili Provinsi Papua pada tingkat Nasional di Balikpapan, November mendatang.

Kepada Bintang papua, Robert Sineri mengatakan bahwa semua itu dia peroleh berkat dukungan pemerintah daerah atas pengurusan hak paten, dalam menunjang kemajuan usahanya serta pihak Pemda telah membantu dirinya dalam menyediakan satu unit gedung usaha industri ditambah dengan peralatan yang dibutuhkan.

Untuk itu, Robert Sineri menyampaikan ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Pemda dalam membantu usahanya. “Saya menyampaikan terima kasih kepada Pemda yang telah membantu dengan bantuan dana yang cukup besar, serta membantu saya dengan membangun sebuah gedung untuk memproduksi kompor,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/10).

Menurutnya dengan apa yang telah diberikan oleh Pemda kepada dirinya, itu akan dijadikan untuk memotifasi dirinya, agar lebih tekun dalam berkarya sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi sesama anak daerah, yang sampai saat ini belum memiki pekerjaan tetap.

Dikatakan, kini saatnya bagi anak daerah untuk berkarya dan maju untuk membangun daerahnya sendiri. “Hasil ini memotifasi saya untuk terus berkarya dan membuka lapangan pekerjaan buat saudara-saudara saya yang tidak mempunyai lapangan pelerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Robert Sineri mengatakan, bukan saja hasil temuan kompor tersebut, namun menurutnya masih ada lagi berbagai temuan yang sementara dirancang olehnya, untuk itu dirinya berharap, Pemda akan terus mendukung apa yang sementara diperjuangkan, sehingga melalui bantuan tersebut kata Robert, pihaknya akan dapat mengembangkan produk-produk barunya.

“Produk yang akan kami keluarkan antara lain, kompor alternative tanpa BBM, bahan bakar/briket sagu, genteng dari ijuk, saveti tank untuk rumah berlabuh, dan lain-lain,” ungkapnya.(Bintang Papua)

Mas Kawin Simbol Ikatan Kekerabatan Antar Dua Suku

BIAK (BIAK NUMFOR)- Pembayaran emas kawin seringkali diplesetkan dengan membayar dan memberli perempuan seharga motor tempel atau dalam sebuah lagi dinyanyikan motor johnson diganti dengan satu buah buldozer. Lepas dari pro dan kontra sebenarnya emas kawin mengandung nilai-nilai adat yang tidak bisa dikesampingkan dalam membangun sebuah masyarakat menuju peradaban yang lebih baik.

Meski jaman sudah berubah dan jaman terus berkembang tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya bagi generasi muda di Tanah Papua menjadi sebuah keharusan yang selalu ditanamkan sejak dini.

“ Bagi saya emas kawin bukan soal besar dan jumlah nilai tapi bagaimana mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adat yang selama ini dianut,”papar Mama Merry Manggara Hindom, mengawali pembicaraan soal pembayaran emas kawin antar dua keret Boekorsjom dari Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor dan keret Rumakewi dari Kampung Krudu Kabupaten Yapen.

Namun demikian Max Boekorsjom wali dari Keluarga Perempuan yang menerima pembayaran emas kawin dari keret Rumakewi di Kota Jayapura belum lama ini mengatakan ajang ini jelas akan menjadi ruang pertemuan antar sesama saudara dalam menopang dan mendukung kelancaran ritual adat ini.” Kita jarang bertemu dan saat ini bisa menjadi ajang untuk saling belajar tentang bagaimana meneruskan tradisi emas kawin ini,” papar Boekorsjom.

Hal yang unik dalam prosesi pembayaran emas kawin antar keret Boekorsjom dan keret Rumakewi telah menyepakati dalam mengantar emas kawin tidak diperkenankan membawa bendera nasional Merah Putih yang selama ini seringkali dipraktekan dalam prosesi pembayaran emas kawin.

Memang kebiasaan mengantarkan prosesi emas kawin dengan membawa bendera Merah Putih atau juga simbol bendera yang lain tidak diketahui sejak kapan berlaku. Namun yang jelas dalam budaya Papua tradisi membawa bendera memang belum ada dan baru berkembang sejak masuknya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kedua belah pihak memutuskan bahwa yang akan menjadi simbol prosesi terdepan adalah lambang Burung Kuning sebagai simbol kekayaan alam di Tanah Papua. Burung Cenderawasih yang dipasang di tiang utama harus diserahkan kepada pihak perempuan sebagai tanda pintu rumah keluarga menerima. Tentunya saudara perempuan dari pengantin yang akan menerima simbol Burung Kuning dan menyerahkan kepada pihak laki-laki piring (Ben Bepon) dan uang sebagai tanda awal prosesi pembayaran emas kawin.

Bentuk emas kawin yang akan dibayar pertama untuk mama dari anak perempuan yang selama ini melahirkan dan membesarkannya. Atau bisa dikenal dengan istilah” uang susu.” Selanjutnya emas kawin bagi keluarga besar atau keret yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penerima emas kawin.

Begitulah prosesi yang dijalani oleh dua belas pihak baik keret Boekorsjom dari pihak perempuan mau pun keret Rumakewi dari pihak laki-laki. Namun yang jelas apa yang sebenarnya menjadi simbol dan arti emas kawin bagi orang Papua khususnya dalam Kebudayaan Biak Numfor terutama Kampung Samber di Kabupaten Biak Numfor.

Harta-harta emas kawin sejak dulu meliputi piring kuno China(ben bepon),gelang perak, gelang kulit siput atau kerang(samfar). Emas kawin atau bride price adalah benda-benda berharga yang diberikan kepada orang tua mempelai perempuan oleh mempelai pria atau kerabatnya. Atau pengertian lain menyebutkan bride price artinya benda-benda berharga yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai perempuan beserta kerabat-kerabatnya. Tujuan dari pelaksanaan pembayaran emas kawin ini adalah untuk mengikat masing-masing keluarga untuk saling menghargai dan menolong dalam segala hal.

Faktor-faktor yang memberikan perbedaan dalam emas kawin adalah besaran dan jumlah nilainya yang ditentukan masing-masing pihak. Adapun besarnya jumlah emas kawin biasanya ditentukan oleh status perempuan, latar belakang keluarga, keperawanan, maupun kecantikan dan saat sekarang ini faktor pendidikan juga ikut menentukan besaran jumlah emas kawin.

Sejak jaman Belanda di Biak Numfor, pemerintah telah menetapkan besaran nilai emas kawin sesuai dengan kesanggupan dan nilai kewajaran. Misalnya saja mempelai perempuan berasal dari keluarga pendiri kampung atau manseren mnu dan masih berstatus perawan, maka jumlah yang wajib diberikan kepada kaum pengantin pria dan kerabatnya sebesar 100 barang papus dan sejumlah uang tunai.

Sebaliknya jika jika tidak perawan lagi atau janda dan bukan keluarga terpandang dikenakan nilai sebesar 50 barang papus dan sejumlah uang tunai.
Perbincangan soal emas kawin sebenarnya sudah menjadi perdebatan para pakar antropolog, Levi Struss yang dikutip dalam buku Prof Dr Jan Van Baal yang menyatakan praktek emas kawin menyebabkan seorang perempuan merupakan obyek atau benda yang ditranfer atau ditransaksi antara para lelaki. Penyamaan seorang perempuan dengan benda yang dijadikan obyek transaksi antar kaum pria oleh pakar antorpolog Levi Strauss ini secara tidaklangsung menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari kaum pria.

Namun demikian bagi Jan Van Baal, pakar antropolog yang juga mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea (Provinsi Papua dan Papua Barat) sebenarnya perlakuan terhadap kaum perempuan sebagai benda transaksi kaum pria bukan semata-mata karena kehendak kaum pria sendiri tetapi lebih dari itu kesediaan dari kaum perempuan untuk menjadikan dirinya obyek transaksi. Jadi bagi Jaan Van Baal prinsip-prinsip tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat.

Melalui kerelaan seorang perempuan untuk diperlakukan sebagai benda yang dipertukarkan merupakan tindakan yang bisa memungkinkan saudara laki-lakinya memperoleh sejumlah harta yang dibutuhkan untuk membayar emas kawinnya sendiri. Hal ini semakin memperat hubungan kekerabatan dengan saudara-saudara laki-laki dan orang tua perempuan bisa mendapat bantuan dari suami (pihak keluarga suami) selama perkawinan itu berlangsung.

Jadi emas kawin bisa menurut antropolog Nelte Hubertina Mansoben-Mampioper dalam Skripsinya berjudul Kedudukan dan Peranan Wanita Dalam Kebudayaan Biak Numfor, Studi Kasus Kampung Samber Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor menyebutkan antara lain,
1. Emas Kawin merupakan alat pengabsahan terhadap suatu perkawinan.
2. Merupakan media yang disatu pihak menuntut sang isteri untuk tetap setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkawinan tersebut. Dilain pihak menuntut suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik agar emas kawin yang telah dibayar oleh pihaknya tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian.
3. Emas Kawin merupakan alat pengikat antara dua kelompok kekerabatan, yaitu antara kelompok kekerabatan pihak perempuan dengan kelompok kekerabatan pihak pria. Biasanya ikatan kekerabatan tersebut diperkuat melalui upacara-upacara yang melibatkan kedua kelompok. Misalnya upacara turun tanah (Sababu), upacara pengguntingan rambut (kapaknik); dan upacara inisiasi, workbor yang dilakukan bagi anak-anak terutama laki-laki sulung dari suatu perkawinan. Sedangkan bagi anak-anak perempuan dilakukan juga kapaknik dan upacara inisiasi, insos.
4. Emas kawin, menimbulkan hubungan timbal balik atau resiprokal antara kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda. Biasanya saat mengumpulkan benda emas kawin, semua penduduk warga kampung terlibat. Tidak terbatas pada kelompok klen atau marga tertentu saja. Tradisi Biak Numfor menuntut semua warga di kampung merasa berkewajiban untuk saling membantu sesama warga guna mendukung prosesi ini. Hal ini jelas akan menimbulkan rasa kebersamaan sesama warga kampung termasuk keret atau klen di kampung.
5. Pembagian emas kawin di kampung terutama keret perempuan juga menimbulkan rasa solidaritas antar klen untuk saling membantu dalam pembayaran emas kawin berilutnya bagi warga di kampung.

Terlepas dari definisi atau pun perdebatan para pakar antropolog soal pembayaran emas kawin di mana peran perempuan dianggap sebagai obyek. Namun yang jelas kehadiran setiap klen dan kaum kerabat dalam peristiwa pembayaran emas kawin bisa menumbuhkan rasa solidaritas dan meningkatkan perasaan solidaritas antar keret di dalam masyarakat khususnya di Tanah Papua.(Jubi)

Yosim Pancar ,Tarian Persahabatan Kontemporer Masyarakat Papua

JAYAPURA — Dua pancar gas, dua pancar keliling kota, kota Jakarta. Dua pancar gas, dua pancar gas kelililing kota, kota Jakarta. Begitulah syair lagu yang sering didendangkan dalam Yosim Pancar di Kampung-kampung di Papua khususnya di Biak Numfor.

Banyak yang tidak mengetahui sejak kapan tarian muda-mudi atau persahabatan dimulai di Papua tetapi tradisi dan budaya suatu masyarakat berkembang sesuai dengan perubahan jaman. Sebenarnya dalam upacara adat tak lepas pula dari tabuhan tifa dan lengkingan suara penari. Misalnya upacara inisiasi bagi para pemuda akil baliq dalam Budaya Biak Numfor. Wor K’bor, upacara inisiasi bagi para pemuda yang telah lulus dari rumah bujang atau Rumsram yang dilakukan selama berminggu-minggu dengan tarian, menyanyi dan tentunya minum saguer (swansrai).

Wor K’bor ini khusus para pemuda Suku Biak pada jaman dulu sebelum masuknya Injil, guna menjalani ritus peralihan di mana bagian ujung alat kelamin para pria muda dipotong atau ditiriskan dengan buluh atau bambu yang halus sebagai simbol menuju ke dunia orang dewasa. (Untuk lebih lengkap soal Wor K’bor bisa dalam Dr JR Mansoben, kumpulan tulisan Prof Dr Koentjaraninggrat, Ritus Peralihan di Indonesia).

Namun demikian menuurut antropolog Dr Enos Rumansara dalam penelitiannya berjudul Tari yosim pancar dan pergeseran nilai religius tari tradisional orang Biak menyebutkan tarian-tarian khas atau yang sakral dari masyarakat Biak Numfor mengalami pergeseran-pergeseran nilai dari tarian religius menjadi tarian-tarian bersifat kontemporer sesuai perkembangan jaman. Kalau masyarakat di Sarmi lebih mengenal tarian lemon nipis, masyarakat di Wamena juga punya sekise. Bagi masyarakat Suku Dani, Mee, Nduga mengenal tarian Tup dan Tem.

Yosim pancar mulanya berasal dari tarian pergaulan masyarakat Yapen Waropen dan Biak. Awalnya tarian ini hanya terdiri dari Yosim dan Pancar. Dalam perkembangannya dua tarian ini digabung menjadi satu, Yosim Pancar.

Sebenarnya jika disimak, tarian-tarian ini bukan tarian khas Papua tetapi paduan antara gerakan khas Papua yang berkembang sesuai peradaban jaman. Atau oleh para pengamat budaya disebut tarian kontemporer. Alat musiknya pun bermacam-macam ada yang asli Papua dan juga dari luar Papua. Hampir kebanyakan anak-anak muda dari Biak Numfor suka membuat gitar, juk dan stand bass dari kayu susu.

Perangkat musik yang digunakan dalam tarian yosim pancar sangat sederhana, terdiri dari uku lele(juk) dan gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat musik stand bass yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua. Alat bass ini ada berbentuk bulat seperti gitar tapi ada pula yang berbentuk kotak. Tak heran kalau ada sentilan yang menyebut para pemegang bas berbentuk kotak alias “bass tahan perasaan (bas tape).” Pemain bass dalam Yosim Pancar menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena pemain bass bisa memetik memakai jari atau juga mengetok-mengetok pakai tangan atau sendal jepit.

Selain tifa sebagai alat perkusi ada juga labu kering yang diisi dengan manik-manik atau batu kerikil yang disebut kalabasa. Alat ini cukup dimainkan dengan cara menggoyang-goyangkan agar bunyi perkusi yang padu dengan bass.

Kalau Yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak biasanya hanya diiringi tifa saja, tifa ini merupakan alat musik gendang khas Papua tradisional di daerah pesisir tanah Papua. Gerakan yosim lebih banyak disesuaikan dengan hentakan tifa dan bass. Pemukul tifa biasa menggerakan badang sambil mengangkat tifa ke udara sambil memegangnya.

Kata Yosim Pancar sendiri mulai muncul saat pesawat bermesin jet mendarat di Biak sekitar 1960 an konflik antara Belanda dan Indonesia. Saat itu banyak pesawat tempur Indonesia MIG buatan Rusia melakukan akrobatik di Bandara Mokmer (sekarang Frans Kaisiepo). Bahkan warga sempat mengarang lagu yosim berjudul dua pancar gas. “ Dua pancar gas, dua pancar gas keliling Kota kota Jakarta.” Gerakan tarian meniru pesawat jet tempur atau pancar gas. Sejak itu sebutan Yosim Pancar mulai menjadi terkenal dalam tarian pergaulan anak-anak muda di Tanah Papua khususnya di Teluk Cenderawasih. (jubi)

Info Menarik