Tampilkan postingan dengan label dikkes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dikkes. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Desember 2012

Kampanye HIV 2012 di Tanah Papua

JAYAPURA - Salah satu isu strategis dalam rencana strategis (Renstra) Penanggulangan HIV dan AIDS Provinsi Papua Tahun 2012-2016 adalah HIV sudah berada di populasi umum dan perempuan rentan terinfeksi HIV dari pasangannya. Bila kaum perempuan sudah terinfeksi, dampaknya adalah anak-anak yang akan dilahirkan.

Kampanye HIV di Tanah Papua sejak tahun 2010 mengangkat tema ‘Kitorang Pangaruh, Mari Betanggung Jawab Untuk HIV’. Kampanye ini fokus pada kelompok sasaran laki-laki usia 15-49 tahun. Mengapa laki-laki ? Beberapa survey terkait perilaku menyebutkan laki-laki memiliki perilaku berganti-ganti pasangan seks, tidak mau menggunakan kondom serta enggan melakukan periksa HIV dan IMS.

Laki-laki kategori 4 M (Mobile Men with Money and Macho). Laki-laki yang suka berpergian (mobilitas tinggi), mempunyai uang dan membutuhkan pengakuan sebagai laki-laki ‘hebat’ memiliki kontribusi signifikan terhadap laju pertumbuhan HIV di Papua. Dengan uang yang mereka miliki, laki-laki kategori ini bisa membelanjakan uangnya untuk banyak hal, termasuk membeli seks.

Secara global, perilaku laki-laki menentukan atas berkembangnya epidemic HIV dan infeksi menular seksual (IMS). Selain itu konstruksi sosial dimana perempuan masih dianggap sebagai ‘nomor dua’, posisi laki-laki sangat dominan dalam membuat keputusan penggunaan kondom. Saatnya kaum laki-laki mengambil peran untuk selalu menjaga diri dan bertanggungjawab  untuk tidak menularkan penyakit, kususnya HIV dan IMS kepada pasangannya.

Tema ‘Kitorang Pangaruh, Mari Bertanggungjawab Untuk HIV’ dijabarkan dalam 6 pesan kunci yang sekaligus menjadi tujuan yang ingin dicapai. Enam pesan kunci itu adalah ‘Ko Tra Kosong Kalo Ko Jaga Diri’ (penundaan seks dini dan pengurangan jumlah pasangan seks), ‘Pake KONDOM Nyaman, Pake KONDOM Aman’ (peningkatan penggunaan kondom pada setiap kegiatan seks beresiko), ‘Mari Kitong Periksa HIV’ (ajakan periksa HIV), ‘Kawan, HIV Bukan Ujung dari Tong Pu Hidup’ (pengurangan stigma dan diskriminasi bagi orang terinfeksi dan pengobatan ARV), dan ‘Mari Kitong Periksa IMS’ (ajakan periksa IMS).(Jubi)

Jumat, 14 Desember 2012

Kominfo Perluas "Desa Informasi" ke Raja Ampat

WAISAI (RAJA AMPAT) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus menggalakan program Desa Informasi sampai ke pelosok Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat di daerah yang dijangkaunya melek informasi.

Setelah di Kabupaten Belu, NTT, Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini giliran di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang disambangi Desa Informasi. Peluncurannya diresmikan langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Syukri Batubara yang didampingi Bupati Raja Ampat Marcus Wanma, Sabtu (8/12/2012).

Syukri mengatakan, hal terpenting dari pencanangan program Desa Informasi adalah mewujudkan Indonesia Connected. Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo sejak 2009 lalu, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi antara desa dan perkotaan di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi tersebut fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Raja Ampat sendiri berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ini sesuatu yang baru dan positif, tetapi tetap harus diawasi karena tidak sedikit konten negatif ada di internet, termasuk konten atau situs-situs dari negara tetangga kita (Filipina)," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara menjawab pertanyaan Okezone di Raja Ampat.

Desa Informasi di Kabupaten Raja Ampat  terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK),  Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) dan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).

Dalam acara peresmian, Dirjen Kominfo juga melakukan serah terima MPLIK dengan Bupati Raja Ampat.

Adapun sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di kecamatan, sedangkan dua unit MPLIK akan ditempatkan di sekolah dan pelayanan secara mobile.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat Marcus Wanma menyatakan senang dan menyambut baik program bantuan Kominfo. "Tentu saja ini bakal membuka akses baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan banyak perkembangan pengetahuan dunia luar terhadap masyarakat dan khususnya anak-anak," ujarnya.

"Tentunya kita akan terus meningkatkan keterampilan, dengan demikian taraf hidup masyarakat Raja Ampat akan terangkat melalui informasi ini," sambung Marcus.

Dia juga mengakui bahwa sumbangan serupa (pelayanan internet) juga pernah dilakukan dua kementerian lain yakni Kemendiknas dan Kemenhub, selain yang baru-baru ini dari Kominfo

"Dengan begitu, ini bakal menguntungkan kita, khususnya masyarakat dan pelajar disini, fasilitas bertambah, informasi makin banyak yang masuk ke Desa Waisai, Raja Ampat," tuturnya (Okezone)

Selasa, 11 Desember 2012

Wamena Juga Punya 'Laskar Pelangi'

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Bangunan SD Inpres Jiwika terbuat dari seng dan kayu, sangat sederhana. Letaknya berada di antara perbukitan-perbukitan Wamena, Papua. Datanglah ke sana untuk melihat 'Laskar Pelangi' ala Papua.

Siapa yang tidak tahu film Laskar Pelangi? Film tersebut menceritakan tentang kisah Kehidupan siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Belitong. Tidak hanya di situ, Papua juga punya SD Inpres Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena. Anda bisa traveling ke sana sekaligus melihat para mutiara hitam cilik yang sedang mengejar mimpinya.

detikTravel dan tim Dream Destination Papua akhirnya tiba di Wamena, Papua, Senin (26/11/2012). Sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh perbukitan dan memiliki udara yang sangat sejuk. Uniknya, di sini para rombongan tidak hanya diajak untuk melihat kehidupan Suku Dani, salah satu suku terbesar di Papua dari dekat, tapi juga diajak untuk melihat Sekolah Dasar Inpres Jiwika.

Letak sekolah berada di tengah-tengah perbukitan. Mungkin, tidak ada sekolah yang mempunyai pemandangan secantik ini. SD ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan langit biru di atasnya. Benar-benar menggagumkan!

Saat itu, terlihat beberapa siswa yang sedang asyik bermain di lapangan rumput yang luas. Bendera merah putih pun tertancap di pinggir lapangannya. Bendera paling sakral di negeri ini menjadi pengingat, anak-anak kecil tersebut tinggal di negeri yang amat kaya.

Rombongan pun diajak berkenalan oleh Sakeus Dabi, Kepala Sekolah SD Inpres Jiwika yang sudah menjabat selama 15 tahun. Dengan pakaian seragam dinas yang berwarna hijau, Sakeus menceritakan kisah SD di tengah bukit ini.

"Kami di sini menceritakan mereka tentang baca tulis. Dari sekitar 150 siswa, hanya sekitar 70 saja yang aktif. Gurunya hanya 10 orang saja," kata Sakeus.

Sakeus menambahkan, sekolah ini sudah ada sejak 1981. Dari dulu pun bangunannya seperti ini, tidak ada yang berubah.

Rombongan lalu diajak untuk melihat kelas dan bertemu dengan para siswanya. Mereka sungguh lucu. Tak sedikit mereka yang malu-malu saat dipotret atau diajak bercanda.

Sederhana, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah ini.
Enam kelas di sini saling terhubung dan memiliki ruangan yang tidak terlalu besar. Bangku kayu dan papan tulis hitam menjadi fasilitas untuk mereka belajar.

Namun, tidak semua di sini memakai seragam merah putih layaknya sekolah dasar lain. Selain soal seragam, banyak dari mereka yang tidak menggunakan sepatu. Akan tetapi, semangat mereka tidak pernah patah untuk belajar.

"Memang hanya ada beberapa saja yang punya seragam, yang tidak punya cukup memakai baju biasa saja," kata Sakeus kepada detikTravel.

Sakeus juga menambahkan, para siswa di sini tinggal di beberapa kampung di sekitar Distrik Kurulu. Mereka pun masih banyak yang tinggal di Honai, rumah adat Suku Dani di tengah pegunungan. Tapi, mereka semua sangat semangat untuk belajar.

"Di sini kami tidak mengenakan biaya, biayanya cuma-cuma. Kami hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-red) saja. Jadi kami benar-benar meminta bantuan pemerintah dari pusat, Jakarta," tambah Sakeus menjelaskan.

Di sini, para siswa diajarkan pelajaran seperti sekolah dasar lainnya. Ada matematika, penjaskes, dan lain-lain. Mereka sekolah tiap hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 07.30 WIT sampai pukul 13.30 WIT.

"Setelah sekolah, biasanya para siswa ada yang bantu-bantu orang tua, seperti berkebun," ujar Sakeus.

Senyum mereka sangat tulus. Meski sebagian besar malu-malu saat diajak berbincang, namun mereka mempersembahkan suatu nyanyian untuk rombongan kami.

'Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu. Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.'

Jika berkunjung ke Wamena, sempatkanlah datang ke SD Inpres Jiwika ini. Sekolah sederhana yang terbuat dari seng kayu, namun memiliki pemandangan hijau dan biru di sekelilingnya.

Senyum dan tingkah para siswanya akan membuat Anda jatuh cinta dengan mereka. Traveling seperti ini akan membuat hati Anda lebih kaya. Percayalah! (Detik)

Senin, 07 November 2011

Robert Sineri, Putra Serui Pencipta Kompor Alternatif Terbaik se-Papua

SERUI (YAPEN) – Robert Sineri adalah salah satu anak asli Papua asal Yapen yang mendapat predikat terbaik dalam mengikuti konfensi gugus kendali mutu kualitas industry masyarakat yang diselenggarakan Dinas Perindak dan UKM Provinsi Papua. Ia menampilkan hasil temuannya, yakni kompor alternatif tanpa Bahan Bakar Minyak (BBM), yang nantinya akan mewakili Provinsi Papua pada tingkat Nasional di Balikpapan, November mendatang.

Kepada Bintang papua, Robert Sineri mengatakan bahwa semua itu dia peroleh berkat dukungan pemerintah daerah atas pengurusan hak paten, dalam menunjang kemajuan usahanya serta pihak Pemda telah membantu dirinya dalam menyediakan satu unit gedung usaha industri ditambah dengan peralatan yang dibutuhkan.

Untuk itu, Robert Sineri menyampaikan ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Pemda dalam membantu usahanya. “Saya menyampaikan terima kasih kepada Pemda yang telah membantu dengan bantuan dana yang cukup besar, serta membantu saya dengan membangun sebuah gedung untuk memproduksi kompor,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/10).

Menurutnya dengan apa yang telah diberikan oleh Pemda kepada dirinya, itu akan dijadikan untuk memotifasi dirinya, agar lebih tekun dalam berkarya sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi sesama anak daerah, yang sampai saat ini belum memiki pekerjaan tetap.

Dikatakan, kini saatnya bagi anak daerah untuk berkarya dan maju untuk membangun daerahnya sendiri. “Hasil ini memotifasi saya untuk terus berkarya dan membuka lapangan pekerjaan buat saudara-saudara saya yang tidak mempunyai lapangan pelerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Robert Sineri mengatakan, bukan saja hasil temuan kompor tersebut, namun menurutnya masih ada lagi berbagai temuan yang sementara dirancang olehnya, untuk itu dirinya berharap, Pemda akan terus mendukung apa yang sementara diperjuangkan, sehingga melalui bantuan tersebut kata Robert, pihaknya akan dapat mengembangkan produk-produk barunya.

“Produk yang akan kami keluarkan antara lain, kompor alternative tanpa BBM, bahan bakar/briket sagu, genteng dari ijuk, saveti tank untuk rumah berlabuh, dan lain-lain,” ungkapnya.(Bintang Papua)

Jelang Hari Kesehatan Nasional, Komisi Penangulangan AIDS (KPA )Jayawijaya Putar Film Bertema HIV/AIDS

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Dalam rangka hari kesehatan nasional (12/11) mendatang dan hari aids sedunia (1/12), Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Jayawijaya bekerjasama beberapa tenaga kesehatan melakukan penyuluhan dan pemutaran film yng bertemakan hiv-aids, Sabtu (5/11).

Salah satu dokter dari RSUD Wamena, dr. Grace Daimboa, SP.B mengatakan, kegiatan yang dilakukan dalam rangka hari kesehatan nasioanal difokuskan pada hiv-aids, bukan karena penyakit tersebut lebh eksklusif dibandingkan dengan penyakit lainnya tetapi karena kegiatan yang dilaksanakan juga menjelang peringatan hari aids sedunia.

“Sekalian kami mengadakan acara untuk kedua peringatan tersebut, salah satunya yaitu penyuluhan dan pemutaran film hiv-aids,” ujarnya kepada wartawan.

Dijelaskannya, kegiatan lain yang akan yaitu dilakukan penyuluhan di sekolah-sekolah, khususnya tingkat SMP dan SMA/K, lalu di rumah sakit (RS) digiatkan penyuluhan kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKMRS). Selainn itu lanjutnya, juga akan dilakukan pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh adat yang akan dilakukan pada (15/11) untuk sosialisasi kondom. Karena selama ini menurutnyam stigma kondom masih kuat terutama dari adat dan agama.

“Jadi kami rencana lakukan hal itu, karena kita tahu saat ini kasus hiv-aids di Jayawijaya sudah mencapai angka 1481. Jadi kami sebagai tenaga kesehatan dari RS dan Dinas kesehatan dan KPA mempunyai kewajiban moral,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA Jayawijaya, Daulat Martuaraja mengatakan, dengan penyuluhan dan pemutaran film tersebut diharapkan pengetahuan masyarakat bertambah, sehingga tidak ada lagi diskriminasi khususnya kepada orang dengan hiv-aids (Odha). Peningkatan kasus hiv terus terjadi sehingga diharapkannya, semua warga kota Wamena ikut berpartisipasi menanggulanginya, minimal mengetahui informasinya dan menyebarkannya kepada lingkungan sekitarnya.

“Dengan pemutaran film maka informasi secara lengkap disampaikan kepada masyarakat, karena orang yang datang menonton dari awal hingga akhir. Itulah sebabnya mengapa pemutaran film ini dilakukan di tengah kota, walaupun masyarakat memang sudah sering mendengar informasi tentang hiv-aids, tetapi bagaimana informasi yang tepat dan benar melalui pemutaran film,” tandasnya. (Pasifik Pos)

Pentingnya Mengetahui Indikasi Infeksi HIV/AIDS dan Penanganannya

JAYAPURA - Hubungan seks gonta-ganti pasangan, menggunakan jarum suntik narkoba dan transfusi darah bersama-sama adalah perilaku yang menyebabkan terinveksinya virus HIV/AIDS. Demikian anggapan umum untuk memastikan apakah seseorang mengidap HIV/AIDS atau tidak. Selain itu, ada cara lain untuk mengetahui seseorang positif HIV yaitu VCT (Voluntary Counseling and Testing).

VCT merupakan suatu cara untuk mengetahui keadaan seseorang terinveksi HIV/AIDS atau tidak. Namun, yang menjadi hal utama ketika ikut VCT adalah kesadaran seseorang memeriksakan diri atau bersedia untuk diketahui statusnya sebelum konseling dengan konselor. Saat konseling terjadi komunikasi dua arah antara klien dan konselor sehingga klien mendapatkan banyak hal terutama mengenai seluk-beluk penyebaran HIV/AIDS serta meningkatkan pemahaman klien menyangkut tanda-tanda teridentifikasi HIV/AIDS.

Bila proses konseling antara klien dan konselor selesai ada dialog lanjutan soal kesediaan pasien ikut tes HIV. Tes HIV atau testing sebagai perlakuan awal berupa tes kepada klien untuk mengetahui statusnya terinveksi virus HIV. Kejelasan status HIV seorang klien akan ditindaklanjuti baik berupa pengobatan, dukungan moril maupun pendekatan komunikasi persuasif untuk mengubah tingkah laku. Ketika lembaga kesehatan sudah menyediakan VCT ternyata masih ada sebagian orang yang tidak bersedia ikut VCT. Hal ini dijumpai pada pengalaman dokter yang melayani ruang VC T di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura. “Di sini ada klien yang enggan diperiksa karena takut diberi stigma negatif. Dengan alasan itu klien hanya sebatas konseling dengan pihak dokter karena takut dicap sebagai “orang terkutuk” jika ketahuan terinveksi HIV/AIDS,” kata Kepala Klinis VCT RSU Daerah Abepura, Nyoman Sri Antari, di Jayapura, beberapa hari yang lalu.

Walaupun hanya sekedar konseling, kata Nyoman, klien tidak berinisiatif menyampaikan keluhannya walaupun oleh pihak dokter sudah lebih dulu mengetahui tanda-tanda fisik orang terjangkit virus HIV/AIDS. “Umumnya klien masih enggan diperiksa secara suka rela padahal itu perlu diketahui agar ada tindak lanjut dari pihak medis,” ujarnya. Pengalaman dokter yang melayani VCT di RSUD Abepura menunjukkan masih minimnya kesadaran klien untuk lebih terbuka saat diperiksa secara suka rela bila saat konseling dengan konselor. Yang lebih berinisiatif untuk melakukan proses pemeriksaan positif HIV bagi klien malahan dari pihak dokter sementara klien sendiri enggan diperiksa. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan pendekatan khusus bagi klien agar lebih terbuka dan tidak sungkan saat melaksanakan konsultasi dengan konselor. Menurut dr. Nyoman Sri Antari, ada dua hal yang menyebabkan klien enggan diperiksa yaitu kurang sadar diri dan paradigma lama “stigmatisasi”. Klien kurang menyadiri kalau ada tanda-tanda teridentifikasi positif HIV pada dirimya. Stigmatisasi membuat klien urung niat diperiksa karena berpikir bahwa orang yang mengidap virus HIV positif berujung pada pendiskriminasian oleh komunitas atau lingkungannya.

Pada Tahun 2005 hingga Agustus 2010 jumlah kumulatif pasien yang mengidap HIV/AIDS di RSUD Abepura tercatat 395 orang. Menurut dr. Nyoman Sri Antari penanganan sejumlah pasien tersebut terdiri dari berbagai jenjang baik kaum muda maupun ibu hamil. VCT bagi kaum muda kebanyakan dilaporkan saat konseling karena bermula dari hubungan seks di luar nikah. Yang menjadi aneh menurut Nyoman adalah klien masih terpengaruh dengan pola pikir stigmatisasi bahwa penyakit HIV/AIDS sebagai penyakit aib karena melakukan perbuatan salah.”

Masih ada sebagian orang menganggap HIV/AIDS sebagai aib sehingga untuk berkonsultasi dengan konselor agak susah karena kesadaran dirinya masih rendah. Itu pun kalau diajak konseling tunggu inisiatif dari dokter,” ujarnya. Sebagai suatu pilihan utama, ada beberapa hal yang perlu diketahui manfaat dari VCT sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS. Pertama, peningkatan perilaku tidak beresiko. Klien yang tidak beresiko biasanya ada perubahan peningkatan perilaku bila stasusnya sudah jelas tidak terinveksi HIV/AIDS. Dalam hal ini klien mengetahui bagaimana model penyebaran HIV/AIDS melalui konseling sehingga bisa menghindarinya melalui perubahan tingkah laku. Kedua, pencegahan segera. Klien diberi pencegahan bila dalam dirinya ada gejala-gejala awal terinveksi virus HIV/AIDS. Setidaknya gejala ini bisa dicegah melalui penanganan lebih lanjut para medis baik berupa bentuk perawatan maupun pendekatan komunikasi berupa dorongan moril kepada klien. Ketiga, peningkatan kualitas hidup ODHA.

Dijelaskan, orang yang menjalankan tes HIV/AIDS tidak bisa dipaksa tapi harus dijalani dengan suka rela. Sebelum tes klien mendapatkan konseling terlebih dahulu melalui percakapan rahasia dengan konselor (petugas perawatan). Konselor dapat membantu mengatasi kekhawtiran dan membuat keputusan pribadi yang sehat terhadap klien. Dalam konseling seorang klien dapat membicarakan semua kekhwatiran dan perasaannya terkait tingkah laku dan kondisi lingkungan sekitarnya. Klien dapat memutuskan secara suka rela menjalani tes HIV/AIDS melalui pengambilan darah setelah melewati proses konseling. Namun konseling juga dapat dilakukan setelah hasil tes diperoleh, baik HIV positif maupun negatif.

Untuk mendapatkan hasil HIV positif atau negatif dilakukan proses pengambilan darah dari pembuluh tangan untuk diuji di laboratorium apakah ada antibodi terhadap HIV. Tes ini bersifat suka rela dan rahasia. Penderita HIV positif biasanya diberi ARV (Anti Redro Virus) yang dapat diperoleh dari dokter ahli atau rumah sakit umum. Obat ini tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat menunkan jumlah virus dalam tubuh sehingga bisa bertahan hidup relatif lebih lama.

Tes HIV memiliki kegunaan yaitu dengan tes HIV kita mengetahui status HIV sejak dini agar bisa menjaga kesehatan dan masa depan dengan lebih baik. Bila tahu status HIV sejak dini, baik hasilnya positif maupun negatif maka kesehatan dapat dijaga dengan perilaku sehat melalui memperbaiki pola makan, pemakain obamt dan kebersihan. Biasanya gejala awal penyakit AIDS penderita adalah seseorang terkena virus HIV lebih awal tanpa menunjukkan tanda yang jelas. Penderita hanya mengalami demam selama 3 hingga 6 minggu tergantung kekebalan tubuh penderita kontak dengan virus HIV. Penderita HIV kembali ke kondisi membaik atau sehat selama beberapa tahun dan perlahan daya tahan tubuh mulai lemah sehingga menimbulkan sakit karena ada serangan demam berulangkali.

Di Jayapura ada beberapa lembaga atau tempat rujukan yang dimanfaatkan untuk mendapatkan konseling dan testing suka rela untuk HIV/AIDS antara lain RSUD Abepura, RS Dian Harapan, RSUD Jayapura, Klinik Kespro Yayasan Kesehatan Bethesda, Balai Pengobatan Christami Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YKPM), Yayasan Harapan Ibu (YHI) Papua, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBII), Kelompok Kerja Wanita (KKW) Papua dan Jayapura Support Group. (Jubi)

Info Menarik