Tampilkan postingan dengan label waisai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waisai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Wayag, Ikon Raja Ampat Siap Jadi Geopark

WAISAI (RAJA AMPAT) - Ampat memiliki banyak potensi keindahan alam yang patut menjadi kebanggan Indonesia. Salah satu yang kini tengah dibenahi adalah Kepulauan Wayag.

Raja Ampat telah tersohor di kalangan wisatawan dunia berkat keindahan alamnya. Wilayahnya yang terdiri atas pulau-pulau kecil menjadikan setiap sudut Raja Ampat bisa dieksplorasi dengan maksimal. Salah satu yang kini menjadi titik perhatian adalah Kepulauan Wayag.

Wayag merupakan ikon Raja Ampat. Banyak sudut dari pulau ini yang menjadi representasi keindahan Raja Ampat. Tak salah bila Wayag akan dijadikan geopark, yang kini sedang dalam tahap pengusulan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kadis Pariwisata Raja Ampat sekarang sedang ke Jakarta, membicarakan rencana ini bersama Kemenparekraf. Tinggal dijalankan untuk menjadi geopark. Kami sendiri sudah mengupayakannya dari tahun lalu, studi banding ke Langkawi, soasialisasi ke masyarakat wilayah itu. Mereka menyatakan mendukung," papar Klasina Rumbekwan, Kepala Dinas Promosi Pariwisata Raja Ampat kepada wartawan pada acara "Adira Beauty X-Pedition Jelajah Nusantara" di Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini.

Ditambahkan Ina, begitu dia biasa disapa, setelah menjadi geopark Wayag akan semakin dilindungi. Wisatawan yang masuk maupun keluar akan ditata lebih tertib dan teratur. Sebab masalahnya saat ini, wisatawan dari Sorong bisa datang dan pergi begitu saja tanpa membeli pin.

Ya, untuk masuk ke wilayah Kepulauan Raja Ampat, wisatawan memang harus membeli pin yang berlaku setahun. Harga pin untuk wisatawan lokal adalah Rp250 ribu sedangkan wisatawan mancanegara adalah Rp500 ribu. Bila rencana ini berhasil diwijudkan, Ina mengatakan bahwa peran dan keterlibatan masyarakat untuk menjaga daerahnya akan semakin besar.

Ditegaskankan Ina, nantinya tidak akan banyak perubahan terhadap keindahan alam geopark Wayag. "Di sana, wisatawan bisa naik ke puncak untuk melihat pemandangan. Kami akan membuat jalur trekking. Sebenarnya, tidak banyak yang akan diubah, alam tetap dijaga sebagaimana adanya, namun kecuraman jalur trekking yang sekarang mencapai 90 derajat, akan dibuat lebih nyaman," tambahnya. Ina mengatakan, selain Kepulauan Wayag, ada Kabui yang menjadi miniatur Wayag. (Okezone)

Kabui, Miniatur Ikon Raja Ampat yang Lebih Murah

WAISAI (RAJA AMPAT) - Pulau Wayag tersohor di kalangan wisatawan mancanegara sebagai ikon wisata Raja Ampat, Papua Barat. Bila destinasi ini sulit dijangkau, ada Teluk Kabui sebagai miniaturnya.

Landskap keras dari tebing dan berbukitan itu menjulang tinggi. Corak yang beraneka ragam dan unik menjadikan panorama tersendiri, yang bakal memanjakan mata siapapun didekatnya.

Hijaunya vegetasi di tumpukan pulau-pulau yang tersebar menjadi kamuflase yang sempurna seakan membungkus ratusan gugusan tebing berbentuk kerucut yang menyerupai pulau-pulau kecil. Itulah Teluk Kabui, orang menyebutnya sebagai miniatur Pulau Wayag, ikon eksotik di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.

Teluk Kabui menjadi alternatif untuk wisatawan bisa menikmati surga terakhir di dunia itu. Pasalnya, jarak yang harus ditempuh menuju Pulau Wayag cukup jauh memakan waktu tiga jam, menggunakan perahu cepat. Belum lagi ongkosnya yang mahal, antara Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk sekali jalan.

Nah, bagaimana caranya Anda bisa sampai ke Teluk Kabui? Tempat ini bisa Anda capai dengan menyewa perahu cepat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Harga sewa perahu sekira Rp2 juta sampai Rp2,5 juta untuk delapan orang, jauh lebih murah ketimbang ke Pulau Wayag. Sementara, perjalanan hanya ditempuh sekira 45-60 menit, tergantung kondisi cuaca.

Di Teluk Kabui, terdapat ratusan pulau kecil yang menyembul dari dasar laut. Anda bisa melakukan kegiatan, seperti diving, snorkeling, caving, atau sekadar bercengkerama dengan ikan-ikan yang begitu jelas terlihat dari permukaan.

Beruntung, Okezone dapat melihat langsung dengan kondisi alam yang begitu bersahabat, ombak seakan menyambut dengan ketenangannya. Sehingga, siapapun yang datang akan langsung menikmati keindahan dan kehijauan panorama alam di Teluk Kabui.

Satu yang menjadi ciri khas destinasi yang terletak antara Pulau Waigeo dan Pulau Gam itu adalah berdirinya puluhan pulau karang yang tersebar begitu cantik. Pulau-pulau karang ini memiliki ukuran bermacam-macam, mulai yang kecil hingga besar.

“Di sinilah yang membedakan Bunaken di Manado dengan Raja Ampat, yakni batu-batu karang yang besar, tinggi, dan jumlahnya banyak. Batu karang itulah keunggulan dan ciri khas di Raja Ampat,” kata Weraldus Wae, warga setempat yang juga pemandu wisata.

Di tempat ini juga, Kata Weraldus, selain menikmati perairan yang dangkal dan jernih, batu karang yang menonjol, wisatawan juga bisa menikmati keindahan pasir timbul yang terletak di tengah-tengah laut. “Pasir itu muncul hanya sesaat, terutama saat cuaca bagus dan ombak laut tidak pasang,” jelasnya.

Keindahan Teluk Kabui inilah yang oleh orang sekitar menyebutnya sebagai surga terakhir miniatur Pulau Wayag. “Raja Ampat juga memilki tempat wisata lain yang tak kalah hebat, yakni Pulau Mayalibit dan Desa Wisata Arborek,” kata Weraldus menutup pembicaraan. (Okezone)

Kominfo Perluas "Desa Informasi" ke Raja Ampat

WAISAI (RAJA AMPAT) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus menggalakan program Desa Informasi sampai ke pelosok Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat di daerah yang dijangkaunya melek informasi.

Setelah di Kabupaten Belu, NTT, Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini giliran di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang disambangi Desa Informasi. Peluncurannya diresmikan langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Syukri Batubara yang didampingi Bupati Raja Ampat Marcus Wanma, Sabtu (8/12/2012).

Syukri mengatakan, hal terpenting dari pencanangan program Desa Informasi adalah mewujudkan Indonesia Connected. Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo sejak 2009 lalu, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi antara desa dan perkotaan di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi tersebut fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Raja Ampat sendiri berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ini sesuatu yang baru dan positif, tetapi tetap harus diawasi karena tidak sedikit konten negatif ada di internet, termasuk konten atau situs-situs dari negara tetangga kita (Filipina)," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara menjawab pertanyaan Okezone di Raja Ampat.

Desa Informasi di Kabupaten Raja Ampat  terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK),  Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) dan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).

Dalam acara peresmian, Dirjen Kominfo juga melakukan serah terima MPLIK dengan Bupati Raja Ampat.

Adapun sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di kecamatan, sedangkan dua unit MPLIK akan ditempatkan di sekolah dan pelayanan secara mobile.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat Marcus Wanma menyatakan senang dan menyambut baik program bantuan Kominfo. "Tentu saja ini bakal membuka akses baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan banyak perkembangan pengetahuan dunia luar terhadap masyarakat dan khususnya anak-anak," ujarnya.

"Tentunya kita akan terus meningkatkan keterampilan, dengan demikian taraf hidup masyarakat Raja Ampat akan terangkat melalui informasi ini," sambung Marcus.

Dia juga mengakui bahwa sumbangan serupa (pelayanan internet) juga pernah dilakukan dua kementerian lain yakni Kemendiknas dan Kemenhub, selain yang baru-baru ini dari Kominfo

"Dengan begitu, ini bakal menguntungkan kita, khususnya masyarakat dan pelajar disini, fasilitas bertambah, informasi makin banyak yang masuk ke Desa Waisai, Raja Ampat," tuturnya (Okezone)

Minggu, 06 November 2011

Festival dan Travel Mart Raja Ampat 2011 di Pantai Waisai Tercinta (WTC)

WAISAI (RAJA AMPAT) - Festival dan Travel Mart Raja Ampat 2011 dibuka di Pantai Waisai Tercinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat. Pembukaan dimeriahkan dengan tarian tradisional dan performa arti ibu kota, Kamis (20/10/2011).

Ketua Panitia Festival & Travel Mart 2011 Ferdinand Dimara mengatakan, festival bahari ini dihadirkan untuk mempromosikan pariwisata maritim Raja Ampat.

Selain itu mempertemukan operator wisata yang ada di Raja Ampat dengan sejumlah agen perjalanan.

Sementara menurut Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenetrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Hari Utoro Drajat, event pariwisata ini menunjukkan bahwa pelaku dan masyarakkat Raja Ampat menyadari besarnya potensi wisata di daerahnya yang berbasis kemaritiman.

"Raja Ampat adalah wilayah khusus yang dikembangkan menjadi wilayah wisata maritim," ujar Hari, saat membuka festival dan travel mart Raja Ampat 2011.

Bupati Raja Ampat Marcus Wanma mengatakan, keindahan wilayahnya yang kaya dengan karang dan biota laut sudah dikenal sampai ke penjuru dunia. Oleh sebab itu, dia berharap Raja Ampay bisa menjadi tujuan utama wisatawan asing maupun domestik. Terutama pecinta selam dan penikmat wisata bawah laut. Raja Ampat yang terdiri dari empat pulau besar, yakni Pulau Wageo, Misol, Batanta, dan Salawati, serta 1.000 lebih pulau-pulau kecil menyimpan keragaman flora-fauna juga tradisi budaya.

Dalam festival bahari ini, pengunjung dapat menikmatinya dalam bentuk suguhan paket wisata, pesta kesenian juga kuliner. Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat Yusdi N Lamatenggo, tujuan festival ialah memperkenalkan dan mempromosikan panorama bawah laut yang memesona. Selain itu juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari 7.000 orang (2010) menjadi 10.000 pada tahun ini.

Hari menambahkan, Raja Ampat telah memiliki potensi daya tarik wisata bahari. Selanjutnya yang perlu ditingkatkan ialah fasilitas penunjang dan aksesibilitas yang mudah menuju Raja Ampat. Tak lupa, melibatkan masyarakatnya berperan aktif dalam kegiatan ekonomi industri wisata.

Dalam festival bahari ini, selain pesta seni dan budaya, juga diadakan lomba foto bawah laut dan panorama kehidupan masyarakat Raja Ampat. Serta, seminar tentang menyelam yang berwawasan lingkungan. (Kompas)

Info Menarik