Tampilkan postingan dengan label biak numfor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biak numfor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Berwisata Pantai di Kampung Urfu

YENDIDOR (BIAK NUMFOR) - Mungkin sebagian dari kita tidak mengenal akan Urfu, bahkan mungkin tidak mengetahui Urfu. Urfu adalah salah satu kampung di Distrik Yendidor, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Luas kampung URFU yaitu 1,322 m2.

Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Selain dengan kendaraan pribadi dapat juga di tempuh dengan kendaraan umum, kita dapat naik kendaraan umum dari Terminal Biak Kota dengan jurusan Yendidor, dengan harga yang sangat murah kita membayar uang sebesar Rp.5.000,- dengan menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit.

Dari Adoki, jalan akan menuju ke desa Urfu. Desa ini memiliki tempat wisata yang sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama yang unik karena dikelilingi oleh formasi batu karang yang mengesankan. Dengan pemandangan laut dan pantai yang sangat menawan. Pemandangan laut di Urfu bagus karena laut yang teduh dan tidak bergelombang karena pantai tersebut terhalang dua tanjung.

Di pinggir pantai desa Urfu, kita dapat melihat sekelompok anak-anak bermain dengan riang sampai tidak mengenal waktu, mereka bisa berlama - lama bermain di pantai tersebut.

Tidak jauh dari pantai itu kita dapat berjalan dan melewati tangga yang tidak begitu banyak lalu turun ke bawah sekitar 15 meter dapat kita temui kolam-kolam yang di buat oleh warga untuk memelihara ikan, dan juga ada beberapa kolam air salobar yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci bagi para warga. Sebagian besar masyarakat Urfu adalah nelayan, mencari ikan. Bahkan kami menjumpai seorang anak dengan membawa ikan kecil yang sudah mati. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, memang adakalanya di pantai dapat di jumpai ikan - ikan yang sudah mati.

Ketika memasuki daerah pemukiman desa Urfu, sambutan dengan penuh kehangatan dan keramahan terlihat pada wajah penduduk Urfu. Wajah polos terpancar dari anak - anak di desa Urfu. Pengalaman yang menyenangkan dan selalu membekas di hati. Mengajak kita untuk kembali datang ke desa ini.

Urfu kaya panorama, masyarakat yang ramah dan hal-hal lain yang membuat desa ini menjadi begitu spesial dan layak untuk di kunjungi. (BeritaDaerah)

Senin, 07 November 2011

Mas Kawin Simbol Ikatan Kekerabatan Antar Dua Suku

BIAK (BIAK NUMFOR)- Pembayaran emas kawin seringkali diplesetkan dengan membayar dan memberli perempuan seharga motor tempel atau dalam sebuah lagi dinyanyikan motor johnson diganti dengan satu buah buldozer. Lepas dari pro dan kontra sebenarnya emas kawin mengandung nilai-nilai adat yang tidak bisa dikesampingkan dalam membangun sebuah masyarakat menuju peradaban yang lebih baik.

Meski jaman sudah berubah dan jaman terus berkembang tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya bagi generasi muda di Tanah Papua menjadi sebuah keharusan yang selalu ditanamkan sejak dini.

“ Bagi saya emas kawin bukan soal besar dan jumlah nilai tapi bagaimana mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adat yang selama ini dianut,”papar Mama Merry Manggara Hindom, mengawali pembicaraan soal pembayaran emas kawin antar dua keret Boekorsjom dari Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor dan keret Rumakewi dari Kampung Krudu Kabupaten Yapen.

Namun demikian Max Boekorsjom wali dari Keluarga Perempuan yang menerima pembayaran emas kawin dari keret Rumakewi di Kota Jayapura belum lama ini mengatakan ajang ini jelas akan menjadi ruang pertemuan antar sesama saudara dalam menopang dan mendukung kelancaran ritual adat ini.” Kita jarang bertemu dan saat ini bisa menjadi ajang untuk saling belajar tentang bagaimana meneruskan tradisi emas kawin ini,” papar Boekorsjom.

Hal yang unik dalam prosesi pembayaran emas kawin antar keret Boekorsjom dan keret Rumakewi telah menyepakati dalam mengantar emas kawin tidak diperkenankan membawa bendera nasional Merah Putih yang selama ini seringkali dipraktekan dalam prosesi pembayaran emas kawin.

Memang kebiasaan mengantarkan prosesi emas kawin dengan membawa bendera Merah Putih atau juga simbol bendera yang lain tidak diketahui sejak kapan berlaku. Namun yang jelas dalam budaya Papua tradisi membawa bendera memang belum ada dan baru berkembang sejak masuknya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kedua belah pihak memutuskan bahwa yang akan menjadi simbol prosesi terdepan adalah lambang Burung Kuning sebagai simbol kekayaan alam di Tanah Papua. Burung Cenderawasih yang dipasang di tiang utama harus diserahkan kepada pihak perempuan sebagai tanda pintu rumah keluarga menerima. Tentunya saudara perempuan dari pengantin yang akan menerima simbol Burung Kuning dan menyerahkan kepada pihak laki-laki piring (Ben Bepon) dan uang sebagai tanda awal prosesi pembayaran emas kawin.

Bentuk emas kawin yang akan dibayar pertama untuk mama dari anak perempuan yang selama ini melahirkan dan membesarkannya. Atau bisa dikenal dengan istilah” uang susu.” Selanjutnya emas kawin bagi keluarga besar atau keret yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penerima emas kawin.

Begitulah prosesi yang dijalani oleh dua belas pihak baik keret Boekorsjom dari pihak perempuan mau pun keret Rumakewi dari pihak laki-laki. Namun yang jelas apa yang sebenarnya menjadi simbol dan arti emas kawin bagi orang Papua khususnya dalam Kebudayaan Biak Numfor terutama Kampung Samber di Kabupaten Biak Numfor.

Harta-harta emas kawin sejak dulu meliputi piring kuno China(ben bepon),gelang perak, gelang kulit siput atau kerang(samfar). Emas kawin atau bride price adalah benda-benda berharga yang diberikan kepada orang tua mempelai perempuan oleh mempelai pria atau kerabatnya. Atau pengertian lain menyebutkan bride price artinya benda-benda berharga yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai perempuan beserta kerabat-kerabatnya. Tujuan dari pelaksanaan pembayaran emas kawin ini adalah untuk mengikat masing-masing keluarga untuk saling menghargai dan menolong dalam segala hal.

Faktor-faktor yang memberikan perbedaan dalam emas kawin adalah besaran dan jumlah nilainya yang ditentukan masing-masing pihak. Adapun besarnya jumlah emas kawin biasanya ditentukan oleh status perempuan, latar belakang keluarga, keperawanan, maupun kecantikan dan saat sekarang ini faktor pendidikan juga ikut menentukan besaran jumlah emas kawin.

Sejak jaman Belanda di Biak Numfor, pemerintah telah menetapkan besaran nilai emas kawin sesuai dengan kesanggupan dan nilai kewajaran. Misalnya saja mempelai perempuan berasal dari keluarga pendiri kampung atau manseren mnu dan masih berstatus perawan, maka jumlah yang wajib diberikan kepada kaum pengantin pria dan kerabatnya sebesar 100 barang papus dan sejumlah uang tunai.

Sebaliknya jika jika tidak perawan lagi atau janda dan bukan keluarga terpandang dikenakan nilai sebesar 50 barang papus dan sejumlah uang tunai.
Perbincangan soal emas kawin sebenarnya sudah menjadi perdebatan para pakar antropolog, Levi Struss yang dikutip dalam buku Prof Dr Jan Van Baal yang menyatakan praktek emas kawin menyebabkan seorang perempuan merupakan obyek atau benda yang ditranfer atau ditransaksi antara para lelaki. Penyamaan seorang perempuan dengan benda yang dijadikan obyek transaksi antar kaum pria oleh pakar antorpolog Levi Strauss ini secara tidaklangsung menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari kaum pria.

Namun demikian bagi Jan Van Baal, pakar antropolog yang juga mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea (Provinsi Papua dan Papua Barat) sebenarnya perlakuan terhadap kaum perempuan sebagai benda transaksi kaum pria bukan semata-mata karena kehendak kaum pria sendiri tetapi lebih dari itu kesediaan dari kaum perempuan untuk menjadikan dirinya obyek transaksi. Jadi bagi Jaan Van Baal prinsip-prinsip tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat.

Melalui kerelaan seorang perempuan untuk diperlakukan sebagai benda yang dipertukarkan merupakan tindakan yang bisa memungkinkan saudara laki-lakinya memperoleh sejumlah harta yang dibutuhkan untuk membayar emas kawinnya sendiri. Hal ini semakin memperat hubungan kekerabatan dengan saudara-saudara laki-laki dan orang tua perempuan bisa mendapat bantuan dari suami (pihak keluarga suami) selama perkawinan itu berlangsung.

Jadi emas kawin bisa menurut antropolog Nelte Hubertina Mansoben-Mampioper dalam Skripsinya berjudul Kedudukan dan Peranan Wanita Dalam Kebudayaan Biak Numfor, Studi Kasus Kampung Samber Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor menyebutkan antara lain,
1. Emas Kawin merupakan alat pengabsahan terhadap suatu perkawinan.
2. Merupakan media yang disatu pihak menuntut sang isteri untuk tetap setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkawinan tersebut. Dilain pihak menuntut suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik agar emas kawin yang telah dibayar oleh pihaknya tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian.
3. Emas Kawin merupakan alat pengikat antara dua kelompok kekerabatan, yaitu antara kelompok kekerabatan pihak perempuan dengan kelompok kekerabatan pihak pria. Biasanya ikatan kekerabatan tersebut diperkuat melalui upacara-upacara yang melibatkan kedua kelompok. Misalnya upacara turun tanah (Sababu), upacara pengguntingan rambut (kapaknik); dan upacara inisiasi, workbor yang dilakukan bagi anak-anak terutama laki-laki sulung dari suatu perkawinan. Sedangkan bagi anak-anak perempuan dilakukan juga kapaknik dan upacara inisiasi, insos.
4. Emas kawin, menimbulkan hubungan timbal balik atau resiprokal antara kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda. Biasanya saat mengumpulkan benda emas kawin, semua penduduk warga kampung terlibat. Tidak terbatas pada kelompok klen atau marga tertentu saja. Tradisi Biak Numfor menuntut semua warga di kampung merasa berkewajiban untuk saling membantu sesama warga guna mendukung prosesi ini. Hal ini jelas akan menimbulkan rasa kebersamaan sesama warga kampung termasuk keret atau klen di kampung.
5. Pembagian emas kawin di kampung terutama keret perempuan juga menimbulkan rasa solidaritas antar klen untuk saling membantu dalam pembayaran emas kawin berilutnya bagi warga di kampung.

Terlepas dari definisi atau pun perdebatan para pakar antropolog soal pembayaran emas kawin di mana peran perempuan dianggap sebagai obyek. Namun yang jelas kehadiran setiap klen dan kaum kerabat dalam peristiwa pembayaran emas kawin bisa menumbuhkan rasa solidaritas dan meningkatkan perasaan solidaritas antar keret di dalam masyarakat khususnya di Tanah Papua.(Jubi)

Minggu, 06 November 2011

Kontingen Merauke Juara Umum Festival Seni Kreasi Papua XI

BIAK - Kontingen kabupaten Merauke, Sabtu, keluar sebagai juara umum pada ajang festival seni kreasi Papua XI yang berlangsung di kabupaten Biak Numfor sejak 11 hingga 15 Oktober 2011.

Asisten Satu Sekda Biak Pualus Resirwawan atas nama pejabat Gubernur Papua Dr Syamsul Arief Rivai menutup resmi pengelaran seni kreasi Papua XI pada Sabtu.

Pejabat Gubernur papua Syamsul arief Rivai dalam amanatnya tertulis dibacakan Asisten satu paulus Resirwawan mengharapkan, lewat festival seni kreasi, Papua dapat melestarikan eksistensi berbagai kesenian daerah khas Papua.

"Melalui festival seni kreasi bisa menjaga serta mempertahankan keaslian budaya seni Papua kepada generasi muda," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua panitia pelaksana andris kafiar dalam rekomendasinya mengharapkan jajaran pemkab/kota harus mengalokasikan dana kegiatan festival sama dengan cabang sepak bola.

Selain itu, lanjut Andris yang juga Kadinas Kebudayaan dan Pariwisata Biak, meminta pemkab untuk membangun gedung kesenian yang permanen sebagai tempat pelaksanaan berbagai kegiatan kesenian dan budaya di kabupaten Biak Numfor.

"Panitia rekomendasikan pada tahun anggaran 2012 gedung kesenian Biak segera dibangun sehingga menjadi lokasi setiap event budaya dan kesenian se-Papua," harap Andris Kafiar.

Hingga Sabtu pukul 19.00 WIT meski festival seni kreasi Papua telah berkahir namun panitia penyelenggara masih menggelar panggung hiburan rakyat di areal meseum Cenderawasih kabupaten Biak Numfor. (Antara)

Info Menarik