Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2013

Kunjungan Wisatawan Meningkat, Meski Kerap Terjadi Penembakan di Papua

JAYAPURA - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua mengumumkan sepanjang tahun 2012, kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara di bumi cenderawasih mengalami kenaikan yang cukup signifikan meski pada tahun yang lalu kerap terjadi penembakan diberbagai wilayah.

Hal tersebut sebagaimana diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua, Wim CH Rumbino, saat diwawancara pers dalam satu kesempatan, kemarin.Sayangnya, Rumbino tak menjelaskan secara spesifik mengapa kunjungan wisawatan meningkat meski terjadi sejumlah aksi  penembakan tersebut yang hampir memperburuk citra Papua dimata dunia.

"Jadi, penembakan maupun aksi demonstrasi di tahun 2012 tidak benar-benar memengaruhi kunjungan wisatawan. Sebab kunjungan di kemarin justru mengalami peningkatan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebagaimana data yang berhasil dihimpun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Papua, ada kurang lebih sebanyak 12 ribu wisatawan yang berkunjung ke provinsi tertimur di Indonesia ini. Kunjungan para turis lokal maupun manca negara ini terbagi dalam bentuk perorangan maupun kelompok.

Sementara para turis dari luar negeri yang berkunjung ke Papua lebih didominasi dari benua Asia, yakni dari negara Jepang dan Cina, sementara turis Eropa berasal dari Itali.Masih menurut Rumbino, selain kunjungan secara perorangan dan kelompok, ada juga kunjungan wisatawan manca negara yang dengan menggunakan kapal pesiar.

“Bayangkan kunjungan dengan kapal pesiar itu setiap tahun pasti ada yang datang dan mereka dalam jumlah yang banyak,” katanya.Ditambahkan dia, dengan adanya promosi Papua melalui  pameran expo Papua pada bulan April mendatang di Jakarta, maka pihaknya akan memanfaatkan momentum tersebut untuk lebih menjual pariwisata Papua ke dunia luar.

Dengan harapan kunjungan para turis manca negara maupun lokal akan bisa lebih meningkat sehingga bisa menambah Pajak Asli Daerah (PAD) Papua serta menumbuhkan iklim kepariwisataan Papua yang saat ini sudah mulai dikenal dunia luar.

“Maka itu, kedepan perlu juga kita tawarkan paket-paket perjalanan murah ke Papua melalui internet. Dan memang pasti akan bisa menarik banyak turis sebab masih terjadi penembakan saja turis tetap berdatangan. Apalagi kalau situasi kondusif ditambah promosi yang tepat pasti akan lebih meningkatkan kunjungan wisatawan ke sini,” tutupnya. [PemprovPapua]

Jumat, 15 Maret 2013

Pastor Neles Tebay, Raih Penghargaan Perdamaian di Korea Selatan

Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-soon yang berada di Seoul, Korea.

Tebay, yang selama ini giat memperjuangkan keadilan dan perdamaian di Papua serta berusaha agar dialog antara Jakarta dan Papua terwujud, akan mendapatkan penghargaan tersebut pada 13 Maret.

Menurut Tebay, penghargaan ini merupakan dukungan dari pihak internasional bahwa dialog merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan di Papua secara menyeluruh.

Menurutnya, kekerasan yang terjadi di Papua sejak 1963 hingga kini tidak dapat diselesaikan jika tidak ada dialog antara pemerintah Indonesia dengan masyarakat Papua.

Konflik di Papua yang sudah berlangsung lama, kata Romo Tebay, telah  merenggut nyawa baik dari masyarakat sipil maupun anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia. Selain itu, masih adanya sejumlah tahanan politik yang berada di beberapa tahanan di Papua menandakan bahwa masih ada konflik politik di bumi cendrawasih itu yang belum dituntaskan, ujarnya.

Penghargaan tersebut, menurutnya, juga merupakan bentuk pengakuan kepada pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua bahwa jalan dialog yang dipilih oleh kedua belah pihak sangat tepat sehingga tidak perlu ragu lagi untuk melaksanakannya.

Sejak 13 tahun yang lalu, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Tji Hak-soon memberikan penghargaan kepada individu maupun organisasi yang berjuang untuk keadilan dan perdamaian di dunia. Nama yayasan ini diambil dari almarhum Uskup Daniel Tji Hak-Soon yang mendedikasikan hidup dan pekerjaannya untuk membebaskan mereka yang mengalami ketidakadilan.

“Penghargaan ini juga memperkuat komitmen pemerintah Indonesia dan orang Papua untuk tetap maju menuju suatu dialog Jakarta-Papua dalam rangka menyelesaikan konflik Papua. Kita tidak tahu kapan dialog akan dimulai tetapi kedua belah pihak sudah tidak perlu ragu lagi terhadap jalan dialog yang telah dipilih untuk menyelesaikan konflik Papua,” ujar Tebay..

Ia mendesak agar pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua termasuk Organisasi Papua Merdeka  segera menentukan format yang tepat untuk melakukan dialog tersebut.

Tebay mengakui bahwa Papua tidak memiliki kepemimpinan tunggal tetapi dia menolak jika hal itu dijadikan permasalahan untuk menggelar dialog.

“Dan pemerintah Indonesia dan orang Papua mulai betul-betul mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk masuk kedalam meja dialog,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat berkomitmen tinggi untuk menyelesaikan persoalan Papua termasuk melakukan dialog. Kasus Papua, kata Julian, harus dilihat secara menyeluruh.

“Untuk kasus Papua kan harus dilihat secara komprehensif yah, tidak bisa secara parsial , untuk melihat atau menangani masalah-masalah yang ada di sana,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Presiden tidak mengizinkan adanya pelanggaran hak asasi manusia terjadi di Papua.[VOA]

Senin, 07 November 2011

Mas Kawin Simbol Ikatan Kekerabatan Antar Dua Suku

BIAK (BIAK NUMFOR)- Pembayaran emas kawin seringkali diplesetkan dengan membayar dan memberli perempuan seharga motor tempel atau dalam sebuah lagi dinyanyikan motor johnson diganti dengan satu buah buldozer. Lepas dari pro dan kontra sebenarnya emas kawin mengandung nilai-nilai adat yang tidak bisa dikesampingkan dalam membangun sebuah masyarakat menuju peradaban yang lebih baik.

Meski jaman sudah berubah dan jaman terus berkembang tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya bagi generasi muda di Tanah Papua menjadi sebuah keharusan yang selalu ditanamkan sejak dini.

“ Bagi saya emas kawin bukan soal besar dan jumlah nilai tapi bagaimana mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adat yang selama ini dianut,”papar Mama Merry Manggara Hindom, mengawali pembicaraan soal pembayaran emas kawin antar dua keret Boekorsjom dari Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor dan keret Rumakewi dari Kampung Krudu Kabupaten Yapen.

Namun demikian Max Boekorsjom wali dari Keluarga Perempuan yang menerima pembayaran emas kawin dari keret Rumakewi di Kota Jayapura belum lama ini mengatakan ajang ini jelas akan menjadi ruang pertemuan antar sesama saudara dalam menopang dan mendukung kelancaran ritual adat ini.” Kita jarang bertemu dan saat ini bisa menjadi ajang untuk saling belajar tentang bagaimana meneruskan tradisi emas kawin ini,” papar Boekorsjom.

Hal yang unik dalam prosesi pembayaran emas kawin antar keret Boekorsjom dan keret Rumakewi telah menyepakati dalam mengantar emas kawin tidak diperkenankan membawa bendera nasional Merah Putih yang selama ini seringkali dipraktekan dalam prosesi pembayaran emas kawin.

Memang kebiasaan mengantarkan prosesi emas kawin dengan membawa bendera Merah Putih atau juga simbol bendera yang lain tidak diketahui sejak kapan berlaku. Namun yang jelas dalam budaya Papua tradisi membawa bendera memang belum ada dan baru berkembang sejak masuknya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kedua belah pihak memutuskan bahwa yang akan menjadi simbol prosesi terdepan adalah lambang Burung Kuning sebagai simbol kekayaan alam di Tanah Papua. Burung Cenderawasih yang dipasang di tiang utama harus diserahkan kepada pihak perempuan sebagai tanda pintu rumah keluarga menerima. Tentunya saudara perempuan dari pengantin yang akan menerima simbol Burung Kuning dan menyerahkan kepada pihak laki-laki piring (Ben Bepon) dan uang sebagai tanda awal prosesi pembayaran emas kawin.

Bentuk emas kawin yang akan dibayar pertama untuk mama dari anak perempuan yang selama ini melahirkan dan membesarkannya. Atau bisa dikenal dengan istilah” uang susu.” Selanjutnya emas kawin bagi keluarga besar atau keret yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penerima emas kawin.

Begitulah prosesi yang dijalani oleh dua belas pihak baik keret Boekorsjom dari pihak perempuan mau pun keret Rumakewi dari pihak laki-laki. Namun yang jelas apa yang sebenarnya menjadi simbol dan arti emas kawin bagi orang Papua khususnya dalam Kebudayaan Biak Numfor terutama Kampung Samber di Kabupaten Biak Numfor.

Harta-harta emas kawin sejak dulu meliputi piring kuno China(ben bepon),gelang perak, gelang kulit siput atau kerang(samfar). Emas kawin atau bride price adalah benda-benda berharga yang diberikan kepada orang tua mempelai perempuan oleh mempelai pria atau kerabatnya. Atau pengertian lain menyebutkan bride price artinya benda-benda berharga yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai perempuan beserta kerabat-kerabatnya. Tujuan dari pelaksanaan pembayaran emas kawin ini adalah untuk mengikat masing-masing keluarga untuk saling menghargai dan menolong dalam segala hal.

Faktor-faktor yang memberikan perbedaan dalam emas kawin adalah besaran dan jumlah nilainya yang ditentukan masing-masing pihak. Adapun besarnya jumlah emas kawin biasanya ditentukan oleh status perempuan, latar belakang keluarga, keperawanan, maupun kecantikan dan saat sekarang ini faktor pendidikan juga ikut menentukan besaran jumlah emas kawin.

Sejak jaman Belanda di Biak Numfor, pemerintah telah menetapkan besaran nilai emas kawin sesuai dengan kesanggupan dan nilai kewajaran. Misalnya saja mempelai perempuan berasal dari keluarga pendiri kampung atau manseren mnu dan masih berstatus perawan, maka jumlah yang wajib diberikan kepada kaum pengantin pria dan kerabatnya sebesar 100 barang papus dan sejumlah uang tunai.

Sebaliknya jika jika tidak perawan lagi atau janda dan bukan keluarga terpandang dikenakan nilai sebesar 50 barang papus dan sejumlah uang tunai.
Perbincangan soal emas kawin sebenarnya sudah menjadi perdebatan para pakar antropolog, Levi Struss yang dikutip dalam buku Prof Dr Jan Van Baal yang menyatakan praktek emas kawin menyebabkan seorang perempuan merupakan obyek atau benda yang ditranfer atau ditransaksi antara para lelaki. Penyamaan seorang perempuan dengan benda yang dijadikan obyek transaksi antar kaum pria oleh pakar antorpolog Levi Strauss ini secara tidaklangsung menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari kaum pria.

Namun demikian bagi Jan Van Baal, pakar antropolog yang juga mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea (Provinsi Papua dan Papua Barat) sebenarnya perlakuan terhadap kaum perempuan sebagai benda transaksi kaum pria bukan semata-mata karena kehendak kaum pria sendiri tetapi lebih dari itu kesediaan dari kaum perempuan untuk menjadikan dirinya obyek transaksi. Jadi bagi Jaan Van Baal prinsip-prinsip tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat.

Melalui kerelaan seorang perempuan untuk diperlakukan sebagai benda yang dipertukarkan merupakan tindakan yang bisa memungkinkan saudara laki-lakinya memperoleh sejumlah harta yang dibutuhkan untuk membayar emas kawinnya sendiri. Hal ini semakin memperat hubungan kekerabatan dengan saudara-saudara laki-laki dan orang tua perempuan bisa mendapat bantuan dari suami (pihak keluarga suami) selama perkawinan itu berlangsung.

Jadi emas kawin bisa menurut antropolog Nelte Hubertina Mansoben-Mampioper dalam Skripsinya berjudul Kedudukan dan Peranan Wanita Dalam Kebudayaan Biak Numfor, Studi Kasus Kampung Samber Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor menyebutkan antara lain,
1. Emas Kawin merupakan alat pengabsahan terhadap suatu perkawinan.
2. Merupakan media yang disatu pihak menuntut sang isteri untuk tetap setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkawinan tersebut. Dilain pihak menuntut suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik agar emas kawin yang telah dibayar oleh pihaknya tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian.
3. Emas Kawin merupakan alat pengikat antara dua kelompok kekerabatan, yaitu antara kelompok kekerabatan pihak perempuan dengan kelompok kekerabatan pihak pria. Biasanya ikatan kekerabatan tersebut diperkuat melalui upacara-upacara yang melibatkan kedua kelompok. Misalnya upacara turun tanah (Sababu), upacara pengguntingan rambut (kapaknik); dan upacara inisiasi, workbor yang dilakukan bagi anak-anak terutama laki-laki sulung dari suatu perkawinan. Sedangkan bagi anak-anak perempuan dilakukan juga kapaknik dan upacara inisiasi, insos.
4. Emas kawin, menimbulkan hubungan timbal balik atau resiprokal antara kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda. Biasanya saat mengumpulkan benda emas kawin, semua penduduk warga kampung terlibat. Tidak terbatas pada kelompok klen atau marga tertentu saja. Tradisi Biak Numfor menuntut semua warga di kampung merasa berkewajiban untuk saling membantu sesama warga guna mendukung prosesi ini. Hal ini jelas akan menimbulkan rasa kebersamaan sesama warga kampung termasuk keret atau klen di kampung.
5. Pembagian emas kawin di kampung terutama keret perempuan juga menimbulkan rasa solidaritas antar klen untuk saling membantu dalam pembayaran emas kawin berilutnya bagi warga di kampung.

Terlepas dari definisi atau pun perdebatan para pakar antropolog soal pembayaran emas kawin di mana peran perempuan dianggap sebagai obyek. Namun yang jelas kehadiran setiap klen dan kaum kerabat dalam peristiwa pembayaran emas kawin bisa menumbuhkan rasa solidaritas dan meningkatkan perasaan solidaritas antar keret di dalam masyarakat khususnya di Tanah Papua.(Jubi)

'Si Putih' Tebar Pesona di Teluk Flaminggo

AGATS (ASMAT) — Setiap menyinggahi Kota Agats, Kabupaten Asmat, ‘si putih’ itu selalu menjadi pusat perhatian. Ia selalu tebar pesona bagi setiap yang memandangnya, bak tokoh papan atas. Biasanya ‘si putih’ tiga kali ia memberi kode yang beralun sama. ‘Si putih’ memberikan kode pertama dari jauh, warga mulai meninggalkan rumah. Kode kedua, ‘si putih’ mendekat, warga kota saling berebutan melewati jalan utama yang lebarnya sekitar dua meter menuju Teluk Flaminggo. Kode ketiga, ‘si putih’ berhenti, warga pun berebutan menjumpai ‘si putih’ yang ’tergeletak’ di Muara Kali Asuwetsy (baca: Aswetj) Agats.

Ada yang menikmati keindahan ‘si putih’ dengan mendatangi langsung, namun tak sedikit pula yang menikmati kemolekan ‘si putih’ dari jauh. Kehadiran ‘si putih’ ini seakan membebaskan kepenatan Warga Kota Agats yang jauh dari tempat hiburan. Lebih lega lagi, ‘si putih’ ini tak hanya memamerkan tubuhnya di Teluk Flaminggo, tetapi ia juga membawa sejuta kebutuhan yang akan dinikmati Warga Kota Agats. Ada pakaian, sembako dan kebutuhan Warga Kota Agats lainnya. Lebih menariknya lagi, ia juga tak pernah absen membawa sayur-mayur dari berbagai daerah yang disinggahinya. Tidak mengherankan, kepada ‘si putih’ ini orang menyebutnya Toserba alias Toko Serba Ada yang memanjakan Warga Agats.

Itulah sekelumit cerita ketika KM. Kelimutu dan KM. Tatamailau ketika bersandar di Muara Kali Aswetsj Agats. Kehadiran kapal penumpang tersebut, selain mengantar dan menjemput penumpang di Agats, juga dijadikan tempat rekreasi sesaat oleh warga. Betapa tidak, Kota Asmat yang berada di tengah belantara, tentu haus dengan berbagai sarana hiburan. Bagi Orang Asmat, maupun Orang Papua, sebutan Kapal Putih untuk Kapal PT PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) masih erat hubungannya masa Pemerintahan Kerajaan Belanda di Papua. Kisah asal-usul nama kapal putih masih diceritakan lebih dominan oleh generasi yang hidup awal 1960-an. Bagi warga, sejumlah kisah kapal putih itu tak dapat dilupakan. Seperti yang dikisahkan kembali oleh Paitua Salmon Kadam (79) di Agats. “Bagi kami, kapal putih bukan sekedar hiburan tetapi akan membawa kami ke masa lalu, di saat kami mengenal kapal putih,” katanya.

Salmon Kadam maupun generasi muda Papua angkatan 60-an tak bisa melupakan sejumlah pengalaman bersama kapal putih ketika melintasi Daratan Papua (dulu Netherland New Guinea -red). Meskipun, pemerintah Kerajaan Belanda ‘angkat kaki’ dari Netherland New Guinea ketika itu, sebutan kapal putih ternyata masih disebutkan hingga saat ini. Dan sebutan kapal putih saat ini ditujukan untuk Kapal Motor (KM) penumpang milik PT. PELNI yang melayani Papua. Tak mengherankan, apabila beberapa sesepuh duduk di pinggir Kali Asuwetsj, mereka kerap menceritakan seputar sejarah dan pengalaman melihat dan berlayar bersama kapal putih pada zaman Belanda.

Lain dulu lain sekarang. Kini, kapal putih milik PELNI yang singgah sesaat di Agats ini dimanfaatkan warga menjadi tempat rekreasi favorit. Pada Tahun 2009, misalnya. KM Tatamailau dan KM Kelimutu serta kapal-kapal barang yang berlabuh di muara Kali Asuwetsy ramai dikunjungi warga sekedar menikmati suasana yang berbeda. Tak canggung-canggung, warga mengeluarkan gocekan untuk sewa speedboat, longboat dan perahu dayung menuju kapal.

Ritme kehidupan warga ini terjadi hampir tiap kali kapal penumpang akan bersandar atau sebelum berlabuh. Warga di Kota Agats biasanya beramai-ramai mengunjungi kapal penumpang dengan berbagai tujuan dan kepentingan, termasuk berkunjung sekedar melepas lelah (hiburan). Maklum, Warga Agats rata-rata haus hiburan karena penat bekerja di rumah atau perkantoran selama berminggu-minggu hingga bulan dan tahun.
Melihat animo masyarakat yang berlebihan, pada Agustus 2009 pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Asmat mendesak pihak eksekutif untuk segera difungsikan dermaga sedang dibangun yang terletak di ujung Kampung Bis, tak jauh dari kota Agats. Sekarang, dermaga itu sudah dapat dipergunakan untuk kapal penumpang dan kapal barang, termasuk kapal para wisatawan yang ingin menyaksikan Kebudayaan Asmat.

Bagi Warga Asmat, kedatangan kapal putih memberikan inspirasi baru. Diakui Tokoh Masyarakat Adat Asmat, Izaak Arr. “Kapal-kapal putih ini banyak membawa hal baru bagi Orang Asmat,” katanya. Rute kapal penumpang dijadwalkan oleh PT PELNI yaitu dari Agats ke Kota Merauke, sebaliknya dari Agats ke Timika, Tual, Dobo dan Makassar. Selain kapal penumpang, sebutan kapal putih bagi Warga Asmat ditujukan untuk kapal pesiar warna putih milik wisatawan mancanegara yang biasa datang per triwulan. Kehadiran kapal orang bule tersebut juga menjadi pusat perhatian Orang Agats.

Salah satu warga pengunjung kapal turis, Natalis Mbicim, mengakui kagum dengan berbagai fasilitas mewah di atas kapal tersebut. Dari berbagai jenis Kapal Pesiar milik turis asing, salah satunya adalah kapal MV Clipper Odessy milik Warga Amerika Serikat. Bila dibandingkan kapal-kapal milik Indonesia, kapal pesiar milik Orang Amerika itu tampak bersih dan fasilitasnya serba mewah. Kapal itu juga berkecepatan tinggi dan dilengkapi sarana komunikasi satelit. Selain kapal pesiar milik turis asal Amerika, masih ada lagi kapal pesiar milik turis dari Jerman, Perancis dan negara Eropa lainnya. Tujuan kedatangan kapal dan para turis adalah melakukan perjalanan wisata ke beberapa obyek wisata Asmat, seperti Museum Kebudayaan Asmat (Keuskupan Agats), Rumah Bujang (Rumah Adat Jew), mengikuti ajang pesta budaya, atau pesta ritual tertentu.

JUBI mencatat, sekitar 30 hingga 70 unit perahu dayung khas Asmat biasanya dipergunakan dalam perarakan penyambutan para turis. Satu perahu memuat sekitar 10 orang. Ketika kapal berlabuh, kapal pesiar maupun para turis biasanya diperiksa pihak imigrasi dan Kantor Bea Cukai dari Kabupaten Merauke, bekerjasama dengan pihak kepolisian. Rata-rata para turis memiliki kelengkapan administrasi.

Secara geografis, memang alam Asmat sulit dijangkau dengan transportasi darat atau udara, kecuali menggunakan transportasi air. Hampir 80% lebih merupakan luasan air dengan ketinggian permukaan tanah 0-100 meter dpl. Kawasan rawa berlumpur tak bisa terhindar oleh pengaruh pasang-surut air laut. Medan sulit terjangkau, tetapi paling banyak dijelajahi oleh kapal kayu, kapal dagang milik pedagang Bugis, Buton, Makassar dan lainnya. Kapal pedagang rata-rata memasuki hingga kampung-kampung Wilayah Asmat secara berkala. Selain itu, kapal milik Pemda Asmat masih mempengaruhi tingkat mobilisasi masyarakat di pelosok Wilayah Aasmat. Mobilisasi warga juga terjadi dengan menggunakan perahu longboat, perahu dayung, speedboat dan perahu ketinting. (jubi)

Yosim Pancar ,Tarian Persahabatan Kontemporer Masyarakat Papua

JAYAPURA — Dua pancar gas, dua pancar keliling kota, kota Jakarta. Dua pancar gas, dua pancar gas kelililing kota, kota Jakarta. Begitulah syair lagu yang sering didendangkan dalam Yosim Pancar di Kampung-kampung di Papua khususnya di Biak Numfor.

Banyak yang tidak mengetahui sejak kapan tarian muda-mudi atau persahabatan dimulai di Papua tetapi tradisi dan budaya suatu masyarakat berkembang sesuai dengan perubahan jaman. Sebenarnya dalam upacara adat tak lepas pula dari tabuhan tifa dan lengkingan suara penari. Misalnya upacara inisiasi bagi para pemuda akil baliq dalam Budaya Biak Numfor. Wor K’bor, upacara inisiasi bagi para pemuda yang telah lulus dari rumah bujang atau Rumsram yang dilakukan selama berminggu-minggu dengan tarian, menyanyi dan tentunya minum saguer (swansrai).

Wor K’bor ini khusus para pemuda Suku Biak pada jaman dulu sebelum masuknya Injil, guna menjalani ritus peralihan di mana bagian ujung alat kelamin para pria muda dipotong atau ditiriskan dengan buluh atau bambu yang halus sebagai simbol menuju ke dunia orang dewasa. (Untuk lebih lengkap soal Wor K’bor bisa dalam Dr JR Mansoben, kumpulan tulisan Prof Dr Koentjaraninggrat, Ritus Peralihan di Indonesia).

Namun demikian menuurut antropolog Dr Enos Rumansara dalam penelitiannya berjudul Tari yosim pancar dan pergeseran nilai religius tari tradisional orang Biak menyebutkan tarian-tarian khas atau yang sakral dari masyarakat Biak Numfor mengalami pergeseran-pergeseran nilai dari tarian religius menjadi tarian-tarian bersifat kontemporer sesuai perkembangan jaman. Kalau masyarakat di Sarmi lebih mengenal tarian lemon nipis, masyarakat di Wamena juga punya sekise. Bagi masyarakat Suku Dani, Mee, Nduga mengenal tarian Tup dan Tem.

Yosim pancar mulanya berasal dari tarian pergaulan masyarakat Yapen Waropen dan Biak. Awalnya tarian ini hanya terdiri dari Yosim dan Pancar. Dalam perkembangannya dua tarian ini digabung menjadi satu, Yosim Pancar.

Sebenarnya jika disimak, tarian-tarian ini bukan tarian khas Papua tetapi paduan antara gerakan khas Papua yang berkembang sesuai peradaban jaman. Atau oleh para pengamat budaya disebut tarian kontemporer. Alat musiknya pun bermacam-macam ada yang asli Papua dan juga dari luar Papua. Hampir kebanyakan anak-anak muda dari Biak Numfor suka membuat gitar, juk dan stand bass dari kayu susu.

Perangkat musik yang digunakan dalam tarian yosim pancar sangat sederhana, terdiri dari uku lele(juk) dan gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat musik stand bass yang berfungsi sebagai bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua. Alat bass ini ada berbentuk bulat seperti gitar tapi ada pula yang berbentuk kotak. Tak heran kalau ada sentilan yang menyebut para pemegang bas berbentuk kotak alias “bass tahan perasaan (bas tape).” Pemain bass dalam Yosim Pancar menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena pemain bass bisa memetik memakai jari atau juga mengetok-mengetok pakai tangan atau sendal jepit.

Selain tifa sebagai alat perkusi ada juga labu kering yang diisi dengan manik-manik atau batu kerikil yang disebut kalabasa. Alat ini cukup dimainkan dengan cara menggoyang-goyangkan agar bunyi perkusi yang padu dengan bass.

Kalau Yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak biasanya hanya diiringi tifa saja, tifa ini merupakan alat musik gendang khas Papua tradisional di daerah pesisir tanah Papua. Gerakan yosim lebih banyak disesuaikan dengan hentakan tifa dan bass. Pemukul tifa biasa menggerakan badang sambil mengangkat tifa ke udara sambil memegangnya.

Kata Yosim Pancar sendiri mulai muncul saat pesawat bermesin jet mendarat di Biak sekitar 1960 an konflik antara Belanda dan Indonesia. Saat itu banyak pesawat tempur Indonesia MIG buatan Rusia melakukan akrobatik di Bandara Mokmer (sekarang Frans Kaisiepo). Bahkan warga sempat mengarang lagu yosim berjudul dua pancar gas. “ Dua pancar gas, dua pancar gas keliling Kota kota Jakarta.” Gerakan tarian meniru pesawat jet tempur atau pancar gas. Sejak itu sebutan Yosim Pancar mulai menjadi terkenal dalam tarian pergaulan anak-anak muda di Tanah Papua khususnya di Teluk Cenderawasih. (jubi)

Info Menarik