Jumat, 14 Desember 2012

AIDS Education With 'Love from Wamena'

WAMENA - In an effort to raise awareness for HIV/AIDS while solving the education gap in neglected areas in Indonesia, AusAID and the Ford Foundation have turned to an unlikely medium to spread the message: filmmaking.

The pair has funded the feature-length film “Cinta dari Wamena” (“Love from Wamena”), featuring actors Nicholas Saputra and Susan Bachtiar. The film, directed by Lasja Susatyo, is set to hit local theaters in March 2013.

Executive producer Ronald Gunawan said that cultural values and a large education gap are the among main obstacles for AIDS awareness campaigns in Indonesia. He spent nine years working as a doctor in Papua, where the HIV/AIDS prevalence is 18 times higher than any other province in the country, infecting 2.4 percent of the local population.

“If we’re not doing anything about it, it’s very possible that Papua will become like Africa, which has 40 percent HIV/AIDS prevalence,” said Ronald, who is also a consultant at Corsores Indonesia, a nongovernmental organization involved in the film.

“Cinta dari Wamena” follows the story of three friends who leave their village homes to chase their dreams in Wamena, the largest town in Papua’s highlands. Along the way, they deal not only with a new way of life, but also HIV/AIDS. Leading the cast for the film are newcomers Maximus Itlay and Benyamin Lagowan, both students at Cenderawasih University in Jayapura, playing powerful roles.

Wamena, Ronald said, is a magnet for people who still live secluded in the mountains, as it represents modernity. People walk seven to eight days just to get to Wamena, driven by curiosity of a “modern life,” as Wamena offers schools, markets and office buildings.

On choosing Maximus, Benyamin and actress Madonna Marrey to play the central roles in the film, director Lasja said that it was her vision to put them in the spotlight.

“I didn’t want to put the outsiders [roles played by Nicholas and Susan] as heroes, because I want the movie to show local initiative and their strength to solve their own problems,” said Lasja, who recently also contributed to the anti-corruption campaign movie, “Kita vs Korupsi.”

In the trailer shown after the panel discussion at Blitzmegaplex, Jakarta, on Tuesday, the film shows how HIV/AIDS can be treated, while also trying to break the stereotype that AIDS is a curse.

Lasja found a study that explained why Papua is a unique case for the spread of HIV/AIDS, which was used during the development of the script, written by Sinar Ayu Massie. The study said that in Papua, marriage is strictly ruled by local tribes, and a man can only have intercourse with his wife after paying the dowry — usually in the form of pigs, which can cost up to Rp 10 million each ($1,040).

When Papuans move to a town and live more modernly, however, the rules of sex are less strict. Sex, Lasja says, becomes personal entertainment, because there is not much else to do. Ronald stresses that youngsters in Papua are not any different from those in any other cities.

“The only problem is that they don’t know how to protect themselves,” he said.

Benyamin said that the people of Papua have been shocked with the jump of modernity in the past few decades. For him to star in the movie also meant he had to learn more about AIDS.

“I remember I went to an AIDS campaign when I was in high school, but I was doing it because they told me to,” he said. “I didn’t really understand what was it all about.”

This is also why Ronald has such high hopes for the movie’s ability to spread the message about AIDS treatment. Lasja said the film focuses on medicinal treatment for the disease, rather than local homeopathic remedies.

AusAID’s Adrian Gilbert said that the film will be shown in 10 cities in Papua, followed by discussions about AIDS.

Using the power of visual media, combined with presentations on safe sex and AIDS prevention methods, the people behind the project hope to make a dent in the rising rates of AIDS in Indonesia. (JP)

Album Kidung Pujian Rohani Bahasa Kimaam Diluncurkan

MERAUKE - Setelah melalui penggarapan selama 2  minggu, akhirnya album kidung puji-pujian dalam Bahasa Kimaam diluncurkan. Peluncuran kidung pujian Bahasa Kimaam dalam bentuk  keping DVD tersebut dilakukan Bupati Merauke Drs Romanus Mbaraka, MT,  berlangsung di GOR Head Sai, Merauke, Jumat (7/12), malam.

Album Bahasa Kimaam ini  dilakukan paduan suara Ikatan Pelajar Mahasiswa Kimaam (IPMK).  Bupati Romanus mengungkapkan, selama ini belum ada pujian lagu rohani dalam bahasa daerah di Selatan Papua yang dibuatkan dalam album.

Padahal, lanjutnya, Gereja Katolik  telah hadir selama  100  tahun lebih di Selatan Papua. Berbeda dengan daerah Utara Papua,  telah banyak  bermunculan lagu-lagu rohani yang dialbumkan dalam bahasa daerah.
Di lain pihak, lanjutnya, ada banyak komponis-komponis  dari Kimaam yang sejak lama  bermunculan. Namun tak satupun yang punya ide atau gagasan untuk membuat sebuah album rohani dalam bahasa daerah.   ‘’Ini yang mendorong saya sehingga pada malam ini album lagu rohani  dalam bahasa Kimaam dapat kita luncurkan,’’ katanya.

Dikatakan,  album  lagu rohani ini selain bertujuan melestarikan bahasa dan budaya lokal juga yang lebih penting adalah memuliakan Tuhan melalui puji-pujian.

Bupati Romanus berharap, dengan peluncuran album rohani dalam bahasa Kimaam ini, kedepan akan bermunculan pula album-album  lagu rohani dalam bahasa daerah lainnya di Selatan Papua, baik dari Kabupaten Boven Digoel, Mappi maupun Asmat.

Ditambahkan Bupati,  persiapan pembuatan album rohani dalam Bahasa Kimaam ini hanya berlangsung selama 2 minggu. Pada peluncuran ini, sebanyak 2000 keping DVD telah cetak.

‘’Selain dicetak dalam bentuk DVD, juga akan  dicetak dalam bentuk kaset pita,’’ kata Alex Ronggo, komponis dari album tersebut.(Radar Merauke)

Berwisata Pantai di Kampung Urfu

YENDIDOR (BIAK NUMFOR) - Mungkin sebagian dari kita tidak mengenal akan Urfu, bahkan mungkin tidak mengetahui Urfu. Urfu adalah salah satu kampung di Distrik Yendidor, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Luas kampung URFU yaitu 1,322 m2.

Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Selain dengan kendaraan pribadi dapat juga di tempuh dengan kendaraan umum, kita dapat naik kendaraan umum dari Terminal Biak Kota dengan jurusan Yendidor, dengan harga yang sangat murah kita membayar uang sebesar Rp.5.000,- dengan menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit.

Dari Adoki, jalan akan menuju ke desa Urfu. Desa ini memiliki tempat wisata yang sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama yang unik karena dikelilingi oleh formasi batu karang yang mengesankan. Dengan pemandangan laut dan pantai yang sangat menawan. Pemandangan laut di Urfu bagus karena laut yang teduh dan tidak bergelombang karena pantai tersebut terhalang dua tanjung.

Di pinggir pantai desa Urfu, kita dapat melihat sekelompok anak-anak bermain dengan riang sampai tidak mengenal waktu, mereka bisa berlama - lama bermain di pantai tersebut.

Tidak jauh dari pantai itu kita dapat berjalan dan melewati tangga yang tidak begitu banyak lalu turun ke bawah sekitar 15 meter dapat kita temui kolam-kolam yang di buat oleh warga untuk memelihara ikan, dan juga ada beberapa kolam air salobar yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci bagi para warga. Sebagian besar masyarakat Urfu adalah nelayan, mencari ikan. Bahkan kami menjumpai seorang anak dengan membawa ikan kecil yang sudah mati. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, memang adakalanya di pantai dapat di jumpai ikan - ikan yang sudah mati.

Ketika memasuki daerah pemukiman desa Urfu, sambutan dengan penuh kehangatan dan keramahan terlihat pada wajah penduduk Urfu. Wajah polos terpancar dari anak - anak di desa Urfu. Pengalaman yang menyenangkan dan selalu membekas di hati. Mengajak kita untuk kembali datang ke desa ini.

Urfu kaya panorama, masyarakat yang ramah dan hal-hal lain yang membuat desa ini menjadi begitu spesial dan layak untuk di kunjungi. (BeritaDaerah)

Megahnya Katedral Tiga Raja Timika

TIMIKA - Timika, suatu kota di Papua memiliki katedral yang megah. Arsitekturnya yang modern mampu membuat siapa pun terkesima oleh bangunannya.

Katedral ini letaknya berada di tengah kota dan mudah untuk dikunjungi.

Terletak di tengah Kota Timika, Kabupaten Mimika. Gereja dengan model arsitektur modern mampu mengalihkan pandangan mata para pengguna jalan raya di depanya.

Gereja ini diresmikan oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Leopoldo Girreli. (Detik)

Pantai Batu Hitam Di Desa Tablanusu

DEPAPRE (JAYAPURA) - Papua menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, salah satu bukti keajabiban Papua, dapat kita temui di Desa Tablanusu, Kabupaten Jayapura, di tempat ini dapat kita temui bahwa pantainya di penuhu dengan batu-batu hitam yang bertekstur halus dan berbentuk lonjong, jangan unik! Pantai ini punya sesuatu yang unik, berbeda dari pantai-pantai lain di Papua.

Desa Tablanusu terletak di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Desa ini menjadi desa wisata oleh pemerintah provinsi Papua. Perjalanan ditempuh kurang lebih dua jam dari Bandara Sentani dengan jarak sekitar 33 kilometer jauhnya.

Dibutuhkan dua jam perjalanan dari Jayapura untuk menuju Desa Tablanusu. Tepatnya desa ini terletak di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua.

Sepanjang perjalanan menuju Desa Tablanusu dengan mobil,Anda akan melewati bukit dan lembah yang masih dikelilingi hutan lebat Papua,  Anda akan naik-turun bukit sambil melihat pemandangan yang eksotis maka kicauan burung khas Papua akan terdengar disana.

Saat tiba di desanya, ada hal menarik yang dapat Anda temui adalah desa ini sepenuhnya dilapisi batu-batu hitam. Batu-batu tersebut berbentuk lonjong dengan permukaan yang halus. Ini bukanlah batu biasa, cobalah berpijak di atas batunya dengan kaki telanjang. Rasanya seperti terapi! Udara segar dan suasana yang tenang akan membuat Anda betah berlama-lama di sana.

Desa Tablanusu adalah desa mungil yang dihuni oleh orang Papua yang ramah. Rumah-rumah penduduk dari kayu juga berjejer rapi di desanya. Desa Tablanusu artinya matahari terbenam, di desa ini diam sepuluh suku papua, Sumile, Danya, Suwae, Apaserai, Serantow, Wambena, Semisu, Selli, Yufuwai, dan Yakurimlen, yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan.

Pantai di Desa Tablanusu akan menjadi tempat terindah yang tak pernah Anda lupakan.Pantai berbatu hitam ini menjadi bukti keajaiban Papua yang tak pernah habis. (BeritaDaerah)

Pulau Mansinam Yang Indah

MANOKWARI - Pulau Mansinam terletak di kabupaten Manokwari, provinsi Papua Barat. Untuk kita dapat ke pulau Mansinam, maka kita harus terlebih dahulu menuju ke kota Manokwari.

Apabila naik pesawat maka hanya membutuhkan waktu sekitar 6 jam lamanya perjalanan di udara, dan apabila naik kapal laut maka membutuhkan waktu selama satu minggu untuk sampai ke kota ini.

Setelah sampai di Manokwari maka dari pusat kota manokwari, saudara harus menuju ke pasir putih, dimana disana ada pelabuhan kecil untuk kita dapat menyeberang ke pulau mansinam. Orang-orang disana menyebutkannya taxi air atau perahu longboat.

Karena hanya membutuhkan waktu selama 15 menit untuk menyeberang dan sampai di pulau mansinam,  biayanyapun tidak mahal, satu orang dikenakan biaya Rp 3.000. Taxi air ini juga digunakan sebagai alat transportasi utama bagi masyarakat yang tinggal di pulau Mansinam untuk menuju ke kota Manokwari.

Dan perlu kita ketahui juga bahwa pulau Mansinam ini memiliki sejarahnya yang sudah dikenal oleh seluruh penduduk yang ada di Manokwari maupun semua orang ada di tanah papua. Pulau Mansinam ini pertama kali didatangi oleh misionaris dari belanda yaitu C.W. Ottowen En J.G. Geisler untuk membawa injil masuk di tanah papua (pulau Papua), sehingga pulau ini memiliki sejarah yang luar biasa bagi seluruh masyarakat yang ada di tanah papua.

Setiap tanggal 5 Februari disetiap tahunnya, pulau ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat papua, dari semua kabupaten yang ada di pulau papua semuanya datang ke tempat ini. Oleh karena pada tanggal tersebut adalah perayaan Injil masuk ke tanah Papua.

Di pulau Mansinam ini juga dikenal dengan keindahan panorama dipinggir pantai, pasir pantainya yang putih dan bersih, air lautnya berwarna biru dan jernih.

Dan biasanya setiap pengunjung yang datang ke pulau Mansinam ini akan berenang atau mandi di pinggiran pantai pulau Mansinam. (BeritaDaerah)

Wayag, Ikon Raja Ampat Siap Jadi Geopark

WAISAI (RAJA AMPAT) - Ampat memiliki banyak potensi keindahan alam yang patut menjadi kebanggan Indonesia. Salah satu yang kini tengah dibenahi adalah Kepulauan Wayag.

Raja Ampat telah tersohor di kalangan wisatawan dunia berkat keindahan alamnya. Wilayahnya yang terdiri atas pulau-pulau kecil menjadikan setiap sudut Raja Ampat bisa dieksplorasi dengan maksimal. Salah satu yang kini menjadi titik perhatian adalah Kepulauan Wayag.

Wayag merupakan ikon Raja Ampat. Banyak sudut dari pulau ini yang menjadi representasi keindahan Raja Ampat. Tak salah bila Wayag akan dijadikan geopark, yang kini sedang dalam tahap pengusulan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kadis Pariwisata Raja Ampat sekarang sedang ke Jakarta, membicarakan rencana ini bersama Kemenparekraf. Tinggal dijalankan untuk menjadi geopark. Kami sendiri sudah mengupayakannya dari tahun lalu, studi banding ke Langkawi, soasialisasi ke masyarakat wilayah itu. Mereka menyatakan mendukung," papar Klasina Rumbekwan, Kepala Dinas Promosi Pariwisata Raja Ampat kepada wartawan pada acara "Adira Beauty X-Pedition Jelajah Nusantara" di Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini.

Ditambahkan Ina, begitu dia biasa disapa, setelah menjadi geopark Wayag akan semakin dilindungi. Wisatawan yang masuk maupun keluar akan ditata lebih tertib dan teratur. Sebab masalahnya saat ini, wisatawan dari Sorong bisa datang dan pergi begitu saja tanpa membeli pin.

Ya, untuk masuk ke wilayah Kepulauan Raja Ampat, wisatawan memang harus membeli pin yang berlaku setahun. Harga pin untuk wisatawan lokal adalah Rp250 ribu sedangkan wisatawan mancanegara adalah Rp500 ribu. Bila rencana ini berhasil diwijudkan, Ina mengatakan bahwa peran dan keterlibatan masyarakat untuk menjaga daerahnya akan semakin besar.

Ditegaskankan Ina, nantinya tidak akan banyak perubahan terhadap keindahan alam geopark Wayag. "Di sana, wisatawan bisa naik ke puncak untuk melihat pemandangan. Kami akan membuat jalur trekking. Sebenarnya, tidak banyak yang akan diubah, alam tetap dijaga sebagaimana adanya, namun kecuraman jalur trekking yang sekarang mencapai 90 derajat, akan dibuat lebih nyaman," tambahnya. Ina mengatakan, selain Kepulauan Wayag, ada Kabui yang menjadi miniatur Wayag. (Okezone)

Kabui, Miniatur Ikon Raja Ampat yang Lebih Murah

WAISAI (RAJA AMPAT) - Pulau Wayag tersohor di kalangan wisatawan mancanegara sebagai ikon wisata Raja Ampat, Papua Barat. Bila destinasi ini sulit dijangkau, ada Teluk Kabui sebagai miniaturnya.

Landskap keras dari tebing dan berbukitan itu menjulang tinggi. Corak yang beraneka ragam dan unik menjadikan panorama tersendiri, yang bakal memanjakan mata siapapun didekatnya.

Hijaunya vegetasi di tumpukan pulau-pulau yang tersebar menjadi kamuflase yang sempurna seakan membungkus ratusan gugusan tebing berbentuk kerucut yang menyerupai pulau-pulau kecil. Itulah Teluk Kabui, orang menyebutnya sebagai miniatur Pulau Wayag, ikon eksotik di Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.

Teluk Kabui menjadi alternatif untuk wisatawan bisa menikmati surga terakhir di dunia itu. Pasalnya, jarak yang harus ditempuh menuju Pulau Wayag cukup jauh memakan waktu tiga jam, menggunakan perahu cepat. Belum lagi ongkosnya yang mahal, antara Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk sekali jalan.

Nah, bagaimana caranya Anda bisa sampai ke Teluk Kabui? Tempat ini bisa Anda capai dengan menyewa perahu cepat dari Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Harga sewa perahu sekira Rp2 juta sampai Rp2,5 juta untuk delapan orang, jauh lebih murah ketimbang ke Pulau Wayag. Sementara, perjalanan hanya ditempuh sekira 45-60 menit, tergantung kondisi cuaca.

Di Teluk Kabui, terdapat ratusan pulau kecil yang menyembul dari dasar laut. Anda bisa melakukan kegiatan, seperti diving, snorkeling, caving, atau sekadar bercengkerama dengan ikan-ikan yang begitu jelas terlihat dari permukaan.

Beruntung, Okezone dapat melihat langsung dengan kondisi alam yang begitu bersahabat, ombak seakan menyambut dengan ketenangannya. Sehingga, siapapun yang datang akan langsung menikmati keindahan dan kehijauan panorama alam di Teluk Kabui.

Satu yang menjadi ciri khas destinasi yang terletak antara Pulau Waigeo dan Pulau Gam itu adalah berdirinya puluhan pulau karang yang tersebar begitu cantik. Pulau-pulau karang ini memiliki ukuran bermacam-macam, mulai yang kecil hingga besar.

“Di sinilah yang membedakan Bunaken di Manado dengan Raja Ampat, yakni batu-batu karang yang besar, tinggi, dan jumlahnya banyak. Batu karang itulah keunggulan dan ciri khas di Raja Ampat,” kata Weraldus Wae, warga setempat yang juga pemandu wisata.

Di tempat ini juga, Kata Weraldus, selain menikmati perairan yang dangkal dan jernih, batu karang yang menonjol, wisatawan juga bisa menikmati keindahan pasir timbul yang terletak di tengah-tengah laut. “Pasir itu muncul hanya sesaat, terutama saat cuaca bagus dan ombak laut tidak pasang,” jelasnya.

Keindahan Teluk Kabui inilah yang oleh orang sekitar menyebutnya sebagai surga terakhir miniatur Pulau Wayag. “Raja Ampat juga memilki tempat wisata lain yang tak kalah hebat, yakni Pulau Mayalibit dan Desa Wisata Arborek,” kata Weraldus menutup pembicaraan. (Okezone)

‘Timai’ Ritual for conservation

The traditional community of Misool Island, Raja Ampat, West Papua, affirmed its commitment to the conservation of marine resources by declaring the Communal Zone of the Southeast Misool Marine Protected Area (MPA) in Yellu village, Misool Island.

The Southeast Misool MPA is the largest part of the Raja Ampat marine protected area network. It covers 366,000 hectares and is situated in the Coral Triangle Zone, which is the world center of marine biological diversity.

The declaration, facilitated by The Nature Conservancy (TNC) by involving the Raja Ampat regional administration, was marked by a custom ritual called timai, which is a traditional ceremony to honor and offer prayers to the community’s ancestors.

This ritual was conducted by communal elders, who floated offerings — betel leaves, areca nuts, tobacco, chicken eggs and white and yellow rice smeared with chicken blood — in the sea while praying for marine security in order to keep the local people supplied with abundant resources.

The natural resources of the waters of Raja Ampat are a major source of livelihood particularly for fishermen haven’t yet been enjoyed to the maximum by the local community and are still in endangered condition.

Based on TNC research during 2007 – 2009, more than 94 percent of the marine resources of Raja Ampat waters benefited fishermen from other regions in East Indonesia.

Under such circumstances, the fishery potential of Raja Ampat is threatened by overfishing and destructive fishing, such as the use of explosives, poisons and closely knitted nets.

By establishing the communal zone along with the observance of local wisdom such as the sasi tradition, which is a model of management of marine resources by closing local waters to the catching of biota during a certain period, the community’s welfare will hopefully be enhanced.

“The zoning system applied to Misool combines modern conservation with local wisdom to encourage the utilization of marine resources in a sensible manner,” marine program director from TNC Indonesia, Abdul Halim, said when attending the declaration ceremony.

(JakartaPost)

Kominfo Perluas "Desa Informasi" ke Raja Ampat

WAISAI (RAJA AMPAT) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus menggalakan program Desa Informasi sampai ke pelosok Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat di daerah yang dijangkaunya melek informasi.

Setelah di Kabupaten Belu, NTT, Kabupaten Boven Digoel, Papua, kini giliran di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat yang disambangi Desa Informasi. Peluncurannya diresmikan langsung oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Syukri Batubara yang didampingi Bupati Raja Ampat Marcus Wanma, Sabtu (8/12/2012).

Syukri mengatakan, hal terpenting dari pencanangan program Desa Informasi adalah mewujudkan Indonesia Connected. Desa Informasi merupakan salah satu terobosan yang dilakukan Kemenkominfo sejak 2009 lalu, khususnya Penyelenggaraan Pos dan Informatika, sebagai solusi mengurangi kesenjangan informasi antara desa dan perkotaan di seluruh wilayah Indonesia.

Desa Informasi tersebut fokus pada wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Raja Ampat sendiri berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ini sesuatu yang baru dan positif, tetapi tetap harus diawasi karena tidak sedikit konten negatif ada di internet, termasuk konten atau situs-situs dari negara tetangga kita (Filipina)," ujar Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara menjawab pertanyaan Okezone di Raja Ampat.

Desa Informasi di Kabupaten Raja Ampat  terdiri dari beberapa unsur yaitu Desa Dering, Desa pintar, Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK),  Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) dan Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).

Dalam acara peresmian, Dirjen Kominfo juga melakukan serah terima MPLIK dengan Bupati Raja Ampat.

Adapun sarana komunikasi data terdiri dari tujuh unit PLIK yang ditempatkan di kecamatan, sedangkan dua unit MPLIK akan ditempatkan di sekolah dan pelayanan secara mobile.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat Marcus Wanma menyatakan senang dan menyambut baik program bantuan Kominfo. "Tentu saja ini bakal membuka akses baik dalam maupun luar negeri. Sehingga akan banyak perkembangan pengetahuan dunia luar terhadap masyarakat dan khususnya anak-anak," ujarnya.

"Tentunya kita akan terus meningkatkan keterampilan, dengan demikian taraf hidup masyarakat Raja Ampat akan terangkat melalui informasi ini," sambung Marcus.

Dia juga mengakui bahwa sumbangan serupa (pelayanan internet) juga pernah dilakukan dua kementerian lain yakni Kemendiknas dan Kemenhub, selain yang baru-baru ini dari Kominfo

"Dengan begitu, ini bakal menguntungkan kita, khususnya masyarakat dan pelajar disini, fasilitas bertambah, informasi makin banyak yang masuk ke Desa Waisai, Raja Ampat," tuturnya (Okezone)

Selasa, 11 Desember 2012

Wamena Juga Punya 'Laskar Pelangi'

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Bangunan SD Inpres Jiwika terbuat dari seng dan kayu, sangat sederhana. Letaknya berada di antara perbukitan-perbukitan Wamena, Papua. Datanglah ke sana untuk melihat 'Laskar Pelangi' ala Papua.

Siapa yang tidak tahu film Laskar Pelangi? Film tersebut menceritakan tentang kisah Kehidupan siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah, Belitong. Tidak hanya di situ, Papua juga punya SD Inpres Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena. Anda bisa traveling ke sana sekaligus melihat para mutiara hitam cilik yang sedang mengejar mimpinya.

detikTravel dan tim Dream Destination Papua akhirnya tiba di Wamena, Papua, Senin (26/11/2012). Sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh perbukitan dan memiliki udara yang sangat sejuk. Uniknya, di sini para rombongan tidak hanya diajak untuk melihat kehidupan Suku Dani, salah satu suku terbesar di Papua dari dekat, tapi juga diajak untuk melihat Sekolah Dasar Inpres Jiwika.

Letak sekolah berada di tengah-tengah perbukitan. Mungkin, tidak ada sekolah yang mempunyai pemandangan secantik ini. SD ini dikelilingi oleh perbukitan hijau dan langit biru di atasnya. Benar-benar menggagumkan!

Saat itu, terlihat beberapa siswa yang sedang asyik bermain di lapangan rumput yang luas. Bendera merah putih pun tertancap di pinggir lapangannya. Bendera paling sakral di negeri ini menjadi pengingat, anak-anak kecil tersebut tinggal di negeri yang amat kaya.

Rombongan pun diajak berkenalan oleh Sakeus Dabi, Kepala Sekolah SD Inpres Jiwika yang sudah menjabat selama 15 tahun. Dengan pakaian seragam dinas yang berwarna hijau, Sakeus menceritakan kisah SD di tengah bukit ini.

"Kami di sini menceritakan mereka tentang baca tulis. Dari sekitar 150 siswa, hanya sekitar 70 saja yang aktif. Gurunya hanya 10 orang saja," kata Sakeus.

Sakeus menambahkan, sekolah ini sudah ada sejak 1981. Dari dulu pun bangunannya seperti ini, tidak ada yang berubah.

Rombongan lalu diajak untuk melihat kelas dan bertemu dengan para siswanya. Mereka sungguh lucu. Tak sedikit mereka yang malu-malu saat dipotret atau diajak bercanda.

Sederhana, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sekolah ini.
Enam kelas di sini saling terhubung dan memiliki ruangan yang tidak terlalu besar. Bangku kayu dan papan tulis hitam menjadi fasilitas untuk mereka belajar.

Namun, tidak semua di sini memakai seragam merah putih layaknya sekolah dasar lain. Selain soal seragam, banyak dari mereka yang tidak menggunakan sepatu. Akan tetapi, semangat mereka tidak pernah patah untuk belajar.

"Memang hanya ada beberapa saja yang punya seragam, yang tidak punya cukup memakai baju biasa saja," kata Sakeus kepada detikTravel.

Sakeus juga menambahkan, para siswa di sini tinggal di beberapa kampung di sekitar Distrik Kurulu. Mereka pun masih banyak yang tinggal di Honai, rumah adat Suku Dani di tengah pegunungan. Tapi, mereka semua sangat semangat untuk belajar.

"Di sini kami tidak mengenakan biaya, biayanya cuma-cuma. Kami hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah-red) saja. Jadi kami benar-benar meminta bantuan pemerintah dari pusat, Jakarta," tambah Sakeus menjelaskan.

Di sini, para siswa diajarkan pelajaran seperti sekolah dasar lainnya. Ada matematika, penjaskes, dan lain-lain. Mereka sekolah tiap hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 07.30 WIT sampai pukul 13.30 WIT.

"Setelah sekolah, biasanya para siswa ada yang bantu-bantu orang tua, seperti berkebun," ujar Sakeus.

Senyum mereka sangat tulus. Meski sebagian besar malu-malu saat diajak berbincang, namun mereka mempersembahkan suatu nyanyian untuk rombongan kami.

'Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Indonesia tanah airku, aku berjanji padamu. Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia.'

Jika berkunjung ke Wamena, sempatkanlah datang ke SD Inpres Jiwika ini. Sekolah sederhana yang terbuat dari seng kayu, namun memiliki pemandangan hijau dan biru di sekelilingnya.

Senyum dan tingkah para siswanya akan membuat Anda jatuh cinta dengan mereka. Traveling seperti ini akan membuat hati Anda lebih kaya. Percayalah! (Detik)

Spesies Ikan Purba Ditemukan di Perairan Papua

BIAK (BIAK) Wilayah perairan laut sepanjang Kampung Opiaref, Kabupaten Biak Numfor, Papua, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan Jepang, ditemukan habitat hidup spesies ikan purba Kolakan.

"Ikan purba ini berukuran besar hidup ratusan tahun silam dan masih dapat dilihat di wilayah perairan Opiaref, Distrik Oridek, hingga sekarang," ujar Bupati Biak Yusuf Melianus Maryen di Biak, Selasa.

Ia mengakui, jika wilayah ikan purba Kolakan itu dikemas sebagai objek pariwisata bahari maka bisa menarik minat turis mancanegara untuk melihat langsung kehidupan alam laut ikan tersebut.

Pemkab Biak, lanjut Bupati Maryen, sangat berterima kasih dengan ilmuwan Negeri Sakura yang telah melakukan studi potensi kelautan di wilayah Kepulauan Biak Numfor.

"Untuk menghidupkan bidang pariwisata bahari di perairan Biak berupa menyelam, memancing dan snorkling maka habitat hidup ikan purba bisa menjadi daya tarik wisatawan unggulan," katanya.

Untuk retribusi penerimaan daerah dari sektor pariwisata, menurut Maryen, pendapatan di bidang ini masih terbatas karena minimnya investor memanfaatkan potensi pariwisata bahari yang dimiliki Biak.

"Pemkab telah membuat regulasi perlindungan sumber daya alam Pulau Biak sebagai komitmen pemerintah menjaga keaslian dan keberagaman sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat," kata Bupati Maryen.

Berdasarkan data kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara di Kabupaten Biak Numfor setiap tahunnya mencapai 15 ribuan wisatawan. (MTV)

Senin, 07 November 2011

Raja Ampat Masuk Nominasi Situs Warisan Dunia

WAISAI (RAJA AMPAT) - Raja Ampat bagi  beberapa situs travel dijuluki sebagai "surga terakhir di bumi". Kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati laut itu masuk nominasi situs warisan dunia versi badan PBB, UNESCO.

Raja Ampat yang resmi diusulkan oleh pemerintah Indonesia sekarang tinggal menunggu penilaian dari Dewan Internasional untuk Monumen dan Situs serta Uni Konservasi Dunia. Hasil penilaian lantas direkomendasikan kepada Komite Warisan Dunia yang bertemu setahun sekali.

Raja Ampat adalah kepulauan seluas sekitar 4,6 juta hektare di bagian paling barat mainland Papua dan menjadi jantung pusat segi tiga karang dunia. Wilayah tersebut mengandung keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Terdiri atas 1.104 jenis ikan, 699 jenis moluska, dan 537 jenis hewan karang. Wilayah itu juga kaya akan keanekaragaman terumbu karang, hamparan padang lamun, hutan mangrove, dan pantai tebing berbatu yang indah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat Yusdi N. Lamatenggo di sela Festival Raja Ampat pada 20?23 Oktober lalu mengatakan, seperti dikutip situs Indonesia Travel, kunjungan wisatawan ke Raja Ampat diharapkan akan terus meningkat. Dari 7.000 orang pada 2010 menjadi 10.000 pada 2011.

Di luar Raja Ampat, Indonesia total masih memiliki 26 tempat lain yang masuk daftar tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO. Daftar tentatif adalah daftar yang memuat berbagai tempat yang diajukan setiap negara untuk dinominasikan sebagai calon situs warisan dunia.

Seperti dilansir situs National Geographic, Indonesia sampai saat ini memiliki tujuh situs yang sudah diakui sebagai situs warisan dunia. Tujuh situs itu adalah Candi Borobudur (diakui pada 1991), Candi Prambanan (1991), Taman Nasional (TN) Komodo (1991), TN Ujung Kulon (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1999), serta hutan hujan tropis Sumatera yang terdiri atas TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, dan TN Bukit Barisan Selatan (JPNN)

Manokwari, Tujuan Wisata untuk Para Pecinta Alam

MANOKWARI - Tak hanya melimpah hasil sumber daya alamnya, bumi Papua menyimpan keunikan dan panorama alam yang luar biasa. Destinasi wisata bahari di Kabupaten Manokwari, masih terjaga keasliannya, menarik untuk dinikmati para pecinta keindahan alam. Ada tiga tempat wisata pantai yang layak dinikmati oleh para pelancong yakni Pantai Pasir Putih, Pantai Bakaro dan Pantai Aipiri. Pantai Pasir Putih terletak di Kampung Pasir Putih,

Distrik Manokwari Timur, hanya perlu waktu 15 menit dapat di jangkau dengan kendaraan dari kota Manokwari, Ibu Kota Papua Barat. Sepanjang mata memandang, pasirnya putih, airnya bening, sehingga anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua berlama-lama mandi. Pantai ini menjadi pi

lihan warga kota untuk melepas penat di kala libur akhir pekan dan libur nasional.

Tak kalah menariknya adalah Pantai Bakaro. Letak pantai ini di kampung Pasirindo, Distrik Manokwari Timur, hanya lebih kurang 5-6 km kearah timur dari kota Manokwari, sayangnya akses jalan yang sempit sudah rusak, tak kunjung diperbaiki, sehingga para pengunjung perlu ekstra hati-hati.

Daya tarik pantai, selain mempesona, debur ombaknya besar, ada potensi wisata yang langka yakni pemanggilan iklan yang biasa dilakukan oleh sesepuh kampung, yang kenal sebagai "Pawang", Lucas Barayap menggunakan sebuah sumpritan atau peluit khusus. Saat Lucas memanggil dengan peluit ajaibnya, maka hanya hitungan menit ribuan ikan besar dan kecil mendekat ke pinggir pantai untuk disaksikan para wisatawan.

Di pantai Bakaro sudah dikembangkan pengelolaannya dengan pihak swasta. "Pak Mamad Suaedi telah membangun Bakaro Beach yang dilengkapi kolam renang dan fasilitas pendukung lainnya serta penginapan," kata Pendamping Kelompok Desa Wisata Bakaro Agutinus S.

Pantai Aipiri terletak di Kampung Aipiri, Distrik Manokwari Timur. Untuk sampai ke pantai ini menempuh jarak lebih kurang 7 Km dari kota Manokwari. Pantai ini indah dipandang, hamparan pasirnya bersih, ombaknya besar karena merupakan pesisir laut Pasific.

Pantai ini berpotensi untuk kegiatan selancar bagi para wisatawan luar negeri. Sayangnya, fasilitas penunjang untuk menarik wisatawan belum ada sama sekali. Di pantai Pasir Putih, terlihat sampah berserakan, yang dibuang secara sembarangan oleh para pengunjung dan masyarakat setempat.

Tak pelak, hamparan pasir putih di pantai ini menjadi kotor. Beruntung ada sejumlah aktifis mahasiswa Universita Negeri Papua (Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia) yang memiliki jiwa sadar Sapta Pesona, sehingga mau membersihkan pantai. "Ya kita membersihkan pantai ini sendiri karena besok (Minggu, 30 Oktober 2011) dijadikan tempat kegiatan Fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia," ucap Sheilla Tarami, mahasiswa Universitas Negeri Papua (Unipa).

Sheilla mengusulkan agar di pantai Pasar Putih ada petugas kebersihan pantai, petugas keamanan, perlu dibangun tempat sampah, WC umum, dan penjaga pantai, karena pada saat pengunjung membludak, pernah ada pengunjung (anak kecil) yang tewas tenggelam.Tak diragukan lagi keindahan tiga pantai ini, namun sekali lagi, sarana dan prasarana pendukung masih sangat terbatas.

Belum dikembangkan secara serius, sehingga pantai sebagai tujuan wisata lokal dan manca negara unggulan belum terwujud. "Tiga distinasi pariwisata pantai ini akan kita kembangkan secara serius mulai tahun 2012.

Sudah dialokasikan anggaran dari Anggaran Pendapat dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Manokwari dan APBD Provinsi Papu Barat untuk dibangun berbagai fasilitas penunjang agar tiga pantai ini dapat menarik minat para wisatawan," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manokwari Yusak Wabiya.

Pihaknya, kata Yusak juga telah mengajukan bantuan dana untuk pemberdayaan masyarakat desa wisata kepada Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia. "Kita mengajukan 10 desa wisata untuk memperoleh bantuan dana dari Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tetapi baru tiga desa yang disetujui akan mendapatkan dana pemberdayaan masyarakat desa wisata yakni Kampung Pasir Putih, Kampung Bakaro dan Kampung Aipiri. Kita ingin dana ini bermanfaat untuk mendorong usaha masyarakat, agar mereka mampu mengembangkan usahanya, meningkatkan kesejahteraannya," kata Yusak Wabiya menambahkan.

Pada tahun 2011, di Desa (Kampung) Wisata Pasir Putih,Kampung Bakaro, dan Kampung Aipiri masing-masing akan memperoleh bantuan pemberdayaan masyarakat desa wisata sebesar Rp 80 juta. Bantuan ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha seperti penjualan souvenir, hasil laut dan kuliner bagi para pengunjung.

Terkait pengembangkan dan peningkatan potensi distinasi pariwisata, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Drs Bakri MM, seperti disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Media Cetak & Elektronik Yuyanti mengatakan, jiwa Sapta Pesona di kalangan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), harus terus ditingkatkan.

"Sebab, Pokdarwis menjadi ujung tombak keberhasilan desa wisata atau objek wisata. Artinya, jika objek yang dikelola tersebut menerapkan Sapta Pesona, maka dipastikan wisatawan akan ketagihan berkunjung ke objek wisata tersebut dan sebaliknya jika Sapta Pesona tidak diimplementasikan hasilnya akan kontraproduktif," ujar Yuyanti.

Partisipasi para mahasiswa Unipa membersihkan sampah di pantai Pasir Putih pantas menjadi contoh, bagi pelajar dan masyarakat di Manokwari. "Kita sedih sekali melihat pantai ini kotor karena banyak pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Ini sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi nyatanya belum menjadi kegiasaan," kata Yuyanti menambahkan. (Suara Karya)

Merauke Diusulkan Menjadi Kabupaten Percontohan dalam Penanganan HIV/AIDS

MERAUKE - Asisten III Setda Provinsi Papua Drs. Waryoto,M.Si kepada wartawan di Kantor KPA Merauke belum lama ini mengatakan bahwa Kabupaten Merauke rencananya akan diusulkan menjadi kabupaten percontohan dalam penanganan HIV dan AIDS. Hal tersebut juga sudah ia ungkapkan setelah melakukan pertemuan dengan jajaran KPA Merauke. Pihaknya akan mengusulkan kepada Sekda Provinsi Papua agar Kabupaten Merauke dijadikan percontohan dalam penanganan HIV dan AIDS khususnya di wilayah Papua.

Adapun alasan pengusulan tersebut karena penanganan penyakit tersebut sudah tertata dengan baik dan mendapat perhatian dri Pemda setempat. Selain itu upaya koordinasi dengan berbagai pihak terkait juga dinilai sudah berjalan dengan baik. Termasuk keterlibatan beberapa stake holder dalam penanganan penyakit HIV dan AIDS di Merauke. Untuk itu pihaknya mengharapkan kabupaten-kabupaten lain bisa mengikuti pola yang diterapkan di Merauke.

Padahal Merauke sebelumnya menempati urutan pertama untuk jumlah penderita HIV dan IDS di Papua. Namun dengan adanya perubahan pola yang diterapkan maka mulai terjadi penurunan hingga menjadi urutan keempat di wilayah Papua. Pola penanganan tersebut terus dilakukan bersama pemerintah, LSM maupun seluruh stake holder yang ada di Merauke. Untuk hal yang satu ini semuanya memiliki tanggung jawab untuk menurunkan tingkat penyebaran HIV dan IDS di Merauke.

Lebih lanjut dikemukakan, untuk menangani HIV dan AIDS pihaknya juga mengakui belum semua daerah yang ada di Papua mempunyai kepedulian yang sama seperti di Merauke. Oleh karena itu pihaknya akan segera mengusulkan kepada Sekda Provinsi agar dalam Raker yang akan diikuti Kepala Daerah di Jayapura dalam waktu dekat ini, mereka diberikan pemahaman terkait masalah HIV dan AIDS. Jadi tetap dilakukan koordinasi yang baik di seluruh Papua. (pacificPost)

Robert Sineri, Putra Serui Pencipta Kompor Alternatif Terbaik se-Papua

SERUI (YAPEN) – Robert Sineri adalah salah satu anak asli Papua asal Yapen yang mendapat predikat terbaik dalam mengikuti konfensi gugus kendali mutu kualitas industry masyarakat yang diselenggarakan Dinas Perindak dan UKM Provinsi Papua. Ia menampilkan hasil temuannya, yakni kompor alternatif tanpa Bahan Bakar Minyak (BBM), yang nantinya akan mewakili Provinsi Papua pada tingkat Nasional di Balikpapan, November mendatang.

Kepada Bintang papua, Robert Sineri mengatakan bahwa semua itu dia peroleh berkat dukungan pemerintah daerah atas pengurusan hak paten, dalam menunjang kemajuan usahanya serta pihak Pemda telah membantu dirinya dalam menyediakan satu unit gedung usaha industri ditambah dengan peralatan yang dibutuhkan.

Untuk itu, Robert Sineri menyampaikan ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Pemda dalam membantu usahanya. “Saya menyampaikan terima kasih kepada Pemda yang telah membantu dengan bantuan dana yang cukup besar, serta membantu saya dengan membangun sebuah gedung untuk memproduksi kompor,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (27/10).

Menurutnya dengan apa yang telah diberikan oleh Pemda kepada dirinya, itu akan dijadikan untuk memotifasi dirinya, agar lebih tekun dalam berkarya sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi sesama anak daerah, yang sampai saat ini belum memiki pekerjaan tetap.

Dikatakan, kini saatnya bagi anak daerah untuk berkarya dan maju untuk membangun daerahnya sendiri. “Hasil ini memotifasi saya untuk terus berkarya dan membuka lapangan pekerjaan buat saudara-saudara saya yang tidak mempunyai lapangan pelerjaan,” ujarnya.

Lebih lanjut Robert Sineri mengatakan, bukan saja hasil temuan kompor tersebut, namun menurutnya masih ada lagi berbagai temuan yang sementara dirancang olehnya, untuk itu dirinya berharap, Pemda akan terus mendukung apa yang sementara diperjuangkan, sehingga melalui bantuan tersebut kata Robert, pihaknya akan dapat mengembangkan produk-produk barunya.

“Produk yang akan kami keluarkan antara lain, kompor alternative tanpa BBM, bahan bakar/briket sagu, genteng dari ijuk, saveti tank untuk rumah berlabuh, dan lain-lain,” ungkapnya.(Bintang Papua)

Jelang Hari Kesehatan Nasional, Komisi Penangulangan AIDS (KPA )Jayawijaya Putar Film Bertema HIV/AIDS

WAMENA (JAYAWIJAYA) - Dalam rangka hari kesehatan nasional (12/11) mendatang dan hari aids sedunia (1/12), Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Jayawijaya bekerjasama beberapa tenaga kesehatan melakukan penyuluhan dan pemutaran film yng bertemakan hiv-aids, Sabtu (5/11).

Salah satu dokter dari RSUD Wamena, dr. Grace Daimboa, SP.B mengatakan, kegiatan yang dilakukan dalam rangka hari kesehatan nasioanal difokuskan pada hiv-aids, bukan karena penyakit tersebut lebh eksklusif dibandingkan dengan penyakit lainnya tetapi karena kegiatan yang dilaksanakan juga menjelang peringatan hari aids sedunia.

“Sekalian kami mengadakan acara untuk kedua peringatan tersebut, salah satunya yaitu penyuluhan dan pemutaran film hiv-aids,” ujarnya kepada wartawan.

Dijelaskannya, kegiatan lain yang akan yaitu dilakukan penyuluhan di sekolah-sekolah, khususnya tingkat SMP dan SMA/K, lalu di rumah sakit (RS) digiatkan penyuluhan kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKMRS). Selainn itu lanjutnya, juga akan dilakukan pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh adat yang akan dilakukan pada (15/11) untuk sosialisasi kondom. Karena selama ini menurutnyam stigma kondom masih kuat terutama dari adat dan agama.

“Jadi kami rencana lakukan hal itu, karena kita tahu saat ini kasus hiv-aids di Jayawijaya sudah mencapai angka 1481. Jadi kami sebagai tenaga kesehatan dari RS dan Dinas kesehatan dan KPA mempunyai kewajiban moral,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA Jayawijaya, Daulat Martuaraja mengatakan, dengan penyuluhan dan pemutaran film tersebut diharapkan pengetahuan masyarakat bertambah, sehingga tidak ada lagi diskriminasi khususnya kepada orang dengan hiv-aids (Odha). Peningkatan kasus hiv terus terjadi sehingga diharapkannya, semua warga kota Wamena ikut berpartisipasi menanggulanginya, minimal mengetahui informasinya dan menyebarkannya kepada lingkungan sekitarnya.

“Dengan pemutaran film maka informasi secara lengkap disampaikan kepada masyarakat, karena orang yang datang menonton dari awal hingga akhir. Itulah sebabnya mengapa pemutaran film ini dilakukan di tengah kota, walaupun masyarakat memang sudah sering mendengar informasi tentang hiv-aids, tetapi bagaimana informasi yang tepat dan benar melalui pemutaran film,” tandasnya. (Pasifik Pos)

Mas Kawin Simbol Ikatan Kekerabatan Antar Dua Suku

BIAK (BIAK NUMFOR)- Pembayaran emas kawin seringkali diplesetkan dengan membayar dan memberli perempuan seharga motor tempel atau dalam sebuah lagi dinyanyikan motor johnson diganti dengan satu buah buldozer. Lepas dari pro dan kontra sebenarnya emas kawin mengandung nilai-nilai adat yang tidak bisa dikesampingkan dalam membangun sebuah masyarakat menuju peradaban yang lebih baik.

Meski jaman sudah berubah dan jaman terus berkembang tetapi mempertahankan nilai-nilai budaya bagi generasi muda di Tanah Papua menjadi sebuah keharusan yang selalu ditanamkan sejak dini.

“ Bagi saya emas kawin bukan soal besar dan jumlah nilai tapi bagaimana mempertahankan tradisi dan nilai-nilai adat yang selama ini dianut,”papar Mama Merry Manggara Hindom, mengawali pembicaraan soal pembayaran emas kawin antar dua keret Boekorsjom dari Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor dan keret Rumakewi dari Kampung Krudu Kabupaten Yapen.

Namun demikian Max Boekorsjom wali dari Keluarga Perempuan yang menerima pembayaran emas kawin dari keret Rumakewi di Kota Jayapura belum lama ini mengatakan ajang ini jelas akan menjadi ruang pertemuan antar sesama saudara dalam menopang dan mendukung kelancaran ritual adat ini.” Kita jarang bertemu dan saat ini bisa menjadi ajang untuk saling belajar tentang bagaimana meneruskan tradisi emas kawin ini,” papar Boekorsjom.

Hal yang unik dalam prosesi pembayaran emas kawin antar keret Boekorsjom dan keret Rumakewi telah menyepakati dalam mengantar emas kawin tidak diperkenankan membawa bendera nasional Merah Putih yang selama ini seringkali dipraktekan dalam prosesi pembayaran emas kawin.

Memang kebiasaan mengantarkan prosesi emas kawin dengan membawa bendera Merah Putih atau juga simbol bendera yang lain tidak diketahui sejak kapan berlaku. Namun yang jelas dalam budaya Papua tradisi membawa bendera memang belum ada dan baru berkembang sejak masuknya Papua ke dalam bingkai Negara Kesatuan Repbulik Indonesia (NKRI).

Akhirnya kedua belah pihak memutuskan bahwa yang akan menjadi simbol prosesi terdepan adalah lambang Burung Kuning sebagai simbol kekayaan alam di Tanah Papua. Burung Cenderawasih yang dipasang di tiang utama harus diserahkan kepada pihak perempuan sebagai tanda pintu rumah keluarga menerima. Tentunya saudara perempuan dari pengantin yang akan menerima simbol Burung Kuning dan menyerahkan kepada pihak laki-laki piring (Ben Bepon) dan uang sebagai tanda awal prosesi pembayaran emas kawin.

Bentuk emas kawin yang akan dibayar pertama untuk mama dari anak perempuan yang selama ini melahirkan dan membesarkannya. Atau bisa dikenal dengan istilah” uang susu.” Selanjutnya emas kawin bagi keluarga besar atau keret yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penerima emas kawin.

Begitulah prosesi yang dijalani oleh dua belas pihak baik keret Boekorsjom dari pihak perempuan mau pun keret Rumakewi dari pihak laki-laki. Namun yang jelas apa yang sebenarnya menjadi simbol dan arti emas kawin bagi orang Papua khususnya dalam Kebudayaan Biak Numfor terutama Kampung Samber di Kabupaten Biak Numfor.

Harta-harta emas kawin sejak dulu meliputi piring kuno China(ben bepon),gelang perak, gelang kulit siput atau kerang(samfar). Emas kawin atau bride price adalah benda-benda berharga yang diberikan kepada orang tua mempelai perempuan oleh mempelai pria atau kerabatnya. Atau pengertian lain menyebutkan bride price artinya benda-benda berharga yang diberikan oleh pihak mempelai pria kepada orang tua mempelai perempuan beserta kerabat-kerabatnya. Tujuan dari pelaksanaan pembayaran emas kawin ini adalah untuk mengikat masing-masing keluarga untuk saling menghargai dan menolong dalam segala hal.

Faktor-faktor yang memberikan perbedaan dalam emas kawin adalah besaran dan jumlah nilainya yang ditentukan masing-masing pihak. Adapun besarnya jumlah emas kawin biasanya ditentukan oleh status perempuan, latar belakang keluarga, keperawanan, maupun kecantikan dan saat sekarang ini faktor pendidikan juga ikut menentukan besaran jumlah emas kawin.

Sejak jaman Belanda di Biak Numfor, pemerintah telah menetapkan besaran nilai emas kawin sesuai dengan kesanggupan dan nilai kewajaran. Misalnya saja mempelai perempuan berasal dari keluarga pendiri kampung atau manseren mnu dan masih berstatus perawan, maka jumlah yang wajib diberikan kepada kaum pengantin pria dan kerabatnya sebesar 100 barang papus dan sejumlah uang tunai.

Sebaliknya jika jika tidak perawan lagi atau janda dan bukan keluarga terpandang dikenakan nilai sebesar 50 barang papus dan sejumlah uang tunai.
Perbincangan soal emas kawin sebenarnya sudah menjadi perdebatan para pakar antropolog, Levi Struss yang dikutip dalam buku Prof Dr Jan Van Baal yang menyatakan praktek emas kawin menyebabkan seorang perempuan merupakan obyek atau benda yang ditranfer atau ditransaksi antara para lelaki. Penyamaan seorang perempuan dengan benda yang dijadikan obyek transaksi antar kaum pria oleh pakar antorpolog Levi Strauss ini secara tidaklangsung menempatkan kaum perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari kaum pria.

Namun demikian bagi Jan Van Baal, pakar antropolog yang juga mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea (Provinsi Papua dan Papua Barat) sebenarnya perlakuan terhadap kaum perempuan sebagai benda transaksi kaum pria bukan semata-mata karena kehendak kaum pria sendiri tetapi lebih dari itu kesediaan dari kaum perempuan untuk menjadikan dirinya obyek transaksi. Jadi bagi Jaan Van Baal prinsip-prinsip tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan suatu masyarakat.

Melalui kerelaan seorang perempuan untuk diperlakukan sebagai benda yang dipertukarkan merupakan tindakan yang bisa memungkinkan saudara laki-lakinya memperoleh sejumlah harta yang dibutuhkan untuk membayar emas kawinnya sendiri. Hal ini semakin memperat hubungan kekerabatan dengan saudara-saudara laki-laki dan orang tua perempuan bisa mendapat bantuan dari suami (pihak keluarga suami) selama perkawinan itu berlangsung.

Jadi emas kawin bisa menurut antropolog Nelte Hubertina Mansoben-Mampioper dalam Skripsinya berjudul Kedudukan dan Peranan Wanita Dalam Kebudayaan Biak Numfor, Studi Kasus Kampung Samber Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor menyebutkan antara lain,
1. Emas Kawin merupakan alat pengabsahan terhadap suatu perkawinan.
2. Merupakan media yang disatu pihak menuntut sang isteri untuk tetap setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkawinan tersebut. Dilain pihak menuntut suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik agar emas kawin yang telah dibayar oleh pihaknya tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian.
3. Emas Kawin merupakan alat pengikat antara dua kelompok kekerabatan, yaitu antara kelompok kekerabatan pihak perempuan dengan kelompok kekerabatan pihak pria. Biasanya ikatan kekerabatan tersebut diperkuat melalui upacara-upacara yang melibatkan kedua kelompok. Misalnya upacara turun tanah (Sababu), upacara pengguntingan rambut (kapaknik); dan upacara inisiasi, workbor yang dilakukan bagi anak-anak terutama laki-laki sulung dari suatu perkawinan. Sedangkan bagi anak-anak perempuan dilakukan juga kapaknik dan upacara inisiasi, insos.
4. Emas kawin, menimbulkan hubungan timbal balik atau resiprokal antara kelompok-kelompok kekerabatan yang berbeda. Biasanya saat mengumpulkan benda emas kawin, semua penduduk warga kampung terlibat. Tidak terbatas pada kelompok klen atau marga tertentu saja. Tradisi Biak Numfor menuntut semua warga di kampung merasa berkewajiban untuk saling membantu sesama warga guna mendukung prosesi ini. Hal ini jelas akan menimbulkan rasa kebersamaan sesama warga kampung termasuk keret atau klen di kampung.
5. Pembagian emas kawin di kampung terutama keret perempuan juga menimbulkan rasa solidaritas antar klen untuk saling membantu dalam pembayaran emas kawin berilutnya bagi warga di kampung.

Terlepas dari definisi atau pun perdebatan para pakar antropolog soal pembayaran emas kawin di mana peran perempuan dianggap sebagai obyek. Namun yang jelas kehadiran setiap klen dan kaum kerabat dalam peristiwa pembayaran emas kawin bisa menumbuhkan rasa solidaritas dan meningkatkan perasaan solidaritas antar keret di dalam masyarakat khususnya di Tanah Papua.(Jubi)

Eceng Gondok Gerogoti Danau Paniai

ENAROTALI (PANIAI) — Selama tidak ada kegiatan pembersihan hingga pemusnahan dan pengerukan, lama atau cepat Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) bakal menutupi sebagian Danau Paniai. Tumbuhan liar yang mulai berkembang sejak lima tahun lalu itu kini nyaris menghiasi pinggiran danau, tepatnya di sekitar Dermaga Aikai.

Tanaman eceng gondok sebenarnya bukan tidak berguna. Ia bisa dimanfaat untuk menghasilkan berbagai barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Di Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, warga di sana mengolahnya menjadi sendal, taplak meja, hiasan dinding, dompet, kertas seni, dan banyak jenis handycraft lainnya. Usaha kerajinan eceng gondok tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Hasilnya ternyata sudah merambah ke pasar ekspor di Eropa dan Timur Tengah.

Di Merauke, beberapa perempuan Marind membentuk satu kelompok kerajinan tangan dengan berbahan eceng gondok. Tanaman tersebut tidak susah didapat.

Di Paniai, usaha begitu belum ada. Bahkan tidak banyak yang mengenal manfaat eceng gondok. Karena itu, tak heran jika masyarakat dalam beberapa kesempatan mendesak pemerin-tah daerah segera memusnahkan tanaman yang sudah ‘hadir’ di pekarangan rumah-rumah penduduk di tepian Danau Paniai. “Pemerintah daerah harus musnahkan eceng gondok yang sekarang ada tumbuh di pinggir Danau Paniai. Kalau dibiarkan, nanti danau penuh dengan tumbuhan liar itu,” ujar Yan Pigai.

Sudah beberapa kali ia menyampaikan persoalan ini ke pihak Eksekutif dan Legislatif. “Tapi tidak pernah ada respon,” kesal Yan. Rencana pember-sihanpun batal. “Kalau peme-rintah sempat akomodir, kitong sudah bersihkan dari dulu.” Seharusnya instansi teknis memprogramkan pembersihan Danau Paniai dari ancaman eceng gondok.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Paniai, Barnabas Gobai mengaku terkendala dengan banyaknya usulan kegiatan. Eceng gondok baru dibersihkan masyarakat difasilitasi instansi yang dipimpinnya. “Tahun-tahun kemarin belum bisa bersihkan rumput eceng gondok secara keseluruhan. Hanya sekali dibersihkan dengan membentuk kelompok kerja. Pembersihan-nya dilakukan oleh masyarakat di Aikai, Ibumoma dan Kebo,” paparnya.

Barnabas Gobai yakin, tana-man berbunga cantik yang saban hari tumbuh subur pasti berimbas pada ekosistem di Danau Paniai. Selain bikin kotor danau, juga akan mengganggu arus transportasi danau, perahu dan speedboat. Bahkan eceng gondok juga bisa mempercepat proses pendangkalan danau.
Karenanya harus dibersihkan sekaligus dimusnahkan. Meski tergolong tumbuhan air berb-ahaya, di sisi lain ada kegunaan jika diambil batangnya dibuat tali, sampahnya bisa dijadikan pupuk.
“Sudah programkan pada tahun anggaran ini, jadi kita akan bersihkan,” janji Barnabas.

Lokasi sekitar Danau Paniai yang ditumbuhi Eceng Gondok antara lain di Distrik Paniai Timur, Distrik Kebo dan Distrik Paniai Barat. Di Kampung Aikai, Ibumoma, Weyabado, Dagouto, Agabado, Waneuwo, Kagupagu, Yagai dan Obano banyak ditumbuhi rumput liar ini.

Danau Paniai yang luasnya 14.500 hektare terletak di ketinggian 1.700 meter diatas permukaan laut, tergolong danau purbakala. Di danau ini terdapat berbagai jenis ikan air tawar, termasuk ikan pelangi (rainbow/melanotaenia ayama-ruensis) yang konon memiliki nilai jual tinggi.

Awalnya, Danau Paniai dengan dua danau lainnya, Danau Tigi (luasnya 5.000 ha) dan Danau Tage (luasnya 3.400 ha) disebut Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali menemukan ketiga danau itu pada tahun 1937, Ir. F.J Wissel, seorang pilot berkebangsaan Belanda. Kala itu Wissel ter-bang dari Manokwari melintasi pegunungan dan melihat tiga danau indah.

Terpesona dengan keindahan-nya, Wissel memutuskan untuk mendarat dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut. Di jaman Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren berasal dari bahasa Belanda yang artinya Danau-danau Wissel.

Danau Paniai diakui sebagai danau purbakala oleh utusan dari 157 negara peserta ‘The 12th World Lakes Conference’ (Konferensi Danau se-Dunia) yang dihelat di Rajasthan, India (28 Oktober - 2 November 2007).

Pesonanya panorama alam dengan udaranya yang sejuk, menjadi daya tarik tersendiri. Memikat hati wisatawan. Bebe-rapa obyek wisata alam, selain tiga danau itu, kerapkali dikun-jung wisatawan mancanegara (wisman). Pelancong bisa memilih lokasi sesuai keinginannya ketika berekreasi. Ada bebatuan, pasir di tepian danau, dikelilingi tebing-tebing yang lumayan tinggi, menambah daya tarik obyek wisata di Kabupaten Paniai.
Gubernur Papua, Barnabas Suebu saat pencanangan ‘One Man One Tree’ di Kampung Ipakiye, memuji pesona alam Paniai. Ia menyebut Paniai ada-lah Swiss-nya Indonesia. Paniai cocok dijadikan kota tujuan wisata.

Menjadikan Paniai sebagai tujuan wisata, memang tak mudah. Butuh kerja keras dan dana yang tak sedikit. “Supaya turis bisa sampai di Paniai tentu harus ada transportasi, ako-modasi, juga obyek yang mau dijual.”
Pembangunan jalan poros Timika-Paniai-Deiyai meru-pakan upaya pemerintah menjadikan Paniai sebagai pusat wisata. Ini akan mempermudah hadirnya wisatawan, di sisi lain mendukung akses pasar masyarakat antar kabupaten.

Sayangnya, Danau Paniai kian rusak dengan menjamurnya bangunan kumuh. Rumah dan kios dibangun di pinggir dan di atas danau.

Bupati Paniai, Naftali Yogi sampai marah melihat pemandangan kumuh. “Bangu-nan-bangunan itu bikin jelek pemandangan,”tuturnya geram. Hingga kini bangunannya masih berdiri kokoh. Tragisnya, kebersihan lingkungan tak diperhatikan.(Jubi)

'Si Putih' Tebar Pesona di Teluk Flaminggo

AGATS (ASMAT) — Setiap menyinggahi Kota Agats, Kabupaten Asmat, ‘si putih’ itu selalu menjadi pusat perhatian. Ia selalu tebar pesona bagi setiap yang memandangnya, bak tokoh papan atas. Biasanya ‘si putih’ tiga kali ia memberi kode yang beralun sama. ‘Si putih’ memberikan kode pertama dari jauh, warga mulai meninggalkan rumah. Kode kedua, ‘si putih’ mendekat, warga kota saling berebutan melewati jalan utama yang lebarnya sekitar dua meter menuju Teluk Flaminggo. Kode ketiga, ‘si putih’ berhenti, warga pun berebutan menjumpai ‘si putih’ yang ’tergeletak’ di Muara Kali Asuwetsy (baca: Aswetj) Agats.

Ada yang menikmati keindahan ‘si putih’ dengan mendatangi langsung, namun tak sedikit pula yang menikmati kemolekan ‘si putih’ dari jauh. Kehadiran ‘si putih’ ini seakan membebaskan kepenatan Warga Kota Agats yang jauh dari tempat hiburan. Lebih lega lagi, ‘si putih’ ini tak hanya memamerkan tubuhnya di Teluk Flaminggo, tetapi ia juga membawa sejuta kebutuhan yang akan dinikmati Warga Kota Agats. Ada pakaian, sembako dan kebutuhan Warga Kota Agats lainnya. Lebih menariknya lagi, ia juga tak pernah absen membawa sayur-mayur dari berbagai daerah yang disinggahinya. Tidak mengherankan, kepada ‘si putih’ ini orang menyebutnya Toserba alias Toko Serba Ada yang memanjakan Warga Agats.

Itulah sekelumit cerita ketika KM. Kelimutu dan KM. Tatamailau ketika bersandar di Muara Kali Aswetsj Agats. Kehadiran kapal penumpang tersebut, selain mengantar dan menjemput penumpang di Agats, juga dijadikan tempat rekreasi sesaat oleh warga. Betapa tidak, Kota Asmat yang berada di tengah belantara, tentu haus dengan berbagai sarana hiburan. Bagi Orang Asmat, maupun Orang Papua, sebutan Kapal Putih untuk Kapal PT PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) masih erat hubungannya masa Pemerintahan Kerajaan Belanda di Papua. Kisah asal-usul nama kapal putih masih diceritakan lebih dominan oleh generasi yang hidup awal 1960-an. Bagi warga, sejumlah kisah kapal putih itu tak dapat dilupakan. Seperti yang dikisahkan kembali oleh Paitua Salmon Kadam (79) di Agats. “Bagi kami, kapal putih bukan sekedar hiburan tetapi akan membawa kami ke masa lalu, di saat kami mengenal kapal putih,” katanya.

Salmon Kadam maupun generasi muda Papua angkatan 60-an tak bisa melupakan sejumlah pengalaman bersama kapal putih ketika melintasi Daratan Papua (dulu Netherland New Guinea -red). Meskipun, pemerintah Kerajaan Belanda ‘angkat kaki’ dari Netherland New Guinea ketika itu, sebutan kapal putih ternyata masih disebutkan hingga saat ini. Dan sebutan kapal putih saat ini ditujukan untuk Kapal Motor (KM) penumpang milik PT. PELNI yang melayani Papua. Tak mengherankan, apabila beberapa sesepuh duduk di pinggir Kali Asuwetsj, mereka kerap menceritakan seputar sejarah dan pengalaman melihat dan berlayar bersama kapal putih pada zaman Belanda.

Lain dulu lain sekarang. Kini, kapal putih milik PELNI yang singgah sesaat di Agats ini dimanfaatkan warga menjadi tempat rekreasi favorit. Pada Tahun 2009, misalnya. KM Tatamailau dan KM Kelimutu serta kapal-kapal barang yang berlabuh di muara Kali Asuwetsy ramai dikunjungi warga sekedar menikmati suasana yang berbeda. Tak canggung-canggung, warga mengeluarkan gocekan untuk sewa speedboat, longboat dan perahu dayung menuju kapal.

Ritme kehidupan warga ini terjadi hampir tiap kali kapal penumpang akan bersandar atau sebelum berlabuh. Warga di Kota Agats biasanya beramai-ramai mengunjungi kapal penumpang dengan berbagai tujuan dan kepentingan, termasuk berkunjung sekedar melepas lelah (hiburan). Maklum, Warga Agats rata-rata haus hiburan karena penat bekerja di rumah atau perkantoran selama berminggu-minggu hingga bulan dan tahun.
Melihat animo masyarakat yang berlebihan, pada Agustus 2009 pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Asmat mendesak pihak eksekutif untuk segera difungsikan dermaga sedang dibangun yang terletak di ujung Kampung Bis, tak jauh dari kota Agats. Sekarang, dermaga itu sudah dapat dipergunakan untuk kapal penumpang dan kapal barang, termasuk kapal para wisatawan yang ingin menyaksikan Kebudayaan Asmat.

Bagi Warga Asmat, kedatangan kapal putih memberikan inspirasi baru. Diakui Tokoh Masyarakat Adat Asmat, Izaak Arr. “Kapal-kapal putih ini banyak membawa hal baru bagi Orang Asmat,” katanya. Rute kapal penumpang dijadwalkan oleh PT PELNI yaitu dari Agats ke Kota Merauke, sebaliknya dari Agats ke Timika, Tual, Dobo dan Makassar. Selain kapal penumpang, sebutan kapal putih bagi Warga Asmat ditujukan untuk kapal pesiar warna putih milik wisatawan mancanegara yang biasa datang per triwulan. Kehadiran kapal orang bule tersebut juga menjadi pusat perhatian Orang Agats.

Salah satu warga pengunjung kapal turis, Natalis Mbicim, mengakui kagum dengan berbagai fasilitas mewah di atas kapal tersebut. Dari berbagai jenis Kapal Pesiar milik turis asing, salah satunya adalah kapal MV Clipper Odessy milik Warga Amerika Serikat. Bila dibandingkan kapal-kapal milik Indonesia, kapal pesiar milik Orang Amerika itu tampak bersih dan fasilitasnya serba mewah. Kapal itu juga berkecepatan tinggi dan dilengkapi sarana komunikasi satelit. Selain kapal pesiar milik turis asal Amerika, masih ada lagi kapal pesiar milik turis dari Jerman, Perancis dan negara Eropa lainnya. Tujuan kedatangan kapal dan para turis adalah melakukan perjalanan wisata ke beberapa obyek wisata Asmat, seperti Museum Kebudayaan Asmat (Keuskupan Agats), Rumah Bujang (Rumah Adat Jew), mengikuti ajang pesta budaya, atau pesta ritual tertentu.

JUBI mencatat, sekitar 30 hingga 70 unit perahu dayung khas Asmat biasanya dipergunakan dalam perarakan penyambutan para turis. Satu perahu memuat sekitar 10 orang. Ketika kapal berlabuh, kapal pesiar maupun para turis biasanya diperiksa pihak imigrasi dan Kantor Bea Cukai dari Kabupaten Merauke, bekerjasama dengan pihak kepolisian. Rata-rata para turis memiliki kelengkapan administrasi.

Secara geografis, memang alam Asmat sulit dijangkau dengan transportasi darat atau udara, kecuali menggunakan transportasi air. Hampir 80% lebih merupakan luasan air dengan ketinggian permukaan tanah 0-100 meter dpl. Kawasan rawa berlumpur tak bisa terhindar oleh pengaruh pasang-surut air laut. Medan sulit terjangkau, tetapi paling banyak dijelajahi oleh kapal kayu, kapal dagang milik pedagang Bugis, Buton, Makassar dan lainnya. Kapal pedagang rata-rata memasuki hingga kampung-kampung Wilayah Asmat secara berkala. Selain itu, kapal milik Pemda Asmat masih mempengaruhi tingkat mobilisasi masyarakat di pelosok Wilayah Aasmat. Mobilisasi warga juga terjadi dengan menggunakan perahu longboat, perahu dayung, speedboat dan perahu ketinting. (jubi)

Info Menarik